Jumat, 04 April 2025

Belajar dari Ustadz Felix: Membangun Kebiasaan Baik


Tulisan ini merupakan review dari isi buku yang ditulis oleh Ustadz Felix. Judul Bukunya  How to Master your Habits.  Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kuranglebih artinya  bagaimana cara mengendalikan kebiasaanmu. 

Secara keseluruhan isi buku ini adalah tentang tip atau trik yang dibagikan  ustadz felix sebagai pendakwah. Jumlah halaman tidak terlalu banyak, hanya 168 hal. Tidak terlalu banyak, bisa dikhatamkan satu sampai dua jam. Tapi karena isinya daging jadi perlu dikunyah pelan-pelan sambil dinikmati enaknya. 

Saya membuat catatan khusus tentang isi buku ini. Di setiap bagian yang penting dan legit saya sengaja menjeda untuk meresapinya. Saya membaca sambil membayangkan gaya bertuturnya di podcast-podcast yang bertebaran di dunia maya. Suaranya yang khas, istilah-istilah yang dilafalkan dengan fasih, kutipan-kutipan ayat atau hadist yang selalu relate dengan apa yang sedang dibahas ternginga-ngiang di benak. Gayanya dalam bertutur dalam bentuk tulisan tak jauh berbeda dengan gaya tuturnya secara lisan. Sama-sama ringan, lincah dan energik. 

Dibagian awal bukunya  ustadz mengulas tentang apa itu habist atau kebiasaan. Saya tahu apa itu kebiasaan. Saya bisa menyebutkan kebiasaan saya dalam kurun waktu setahun terakhir ini dengan baik. Tapi dari penjelasan ustadz Felix ini mata saya menjadi terbuka lebar dan saya menyadari bahwa sebetulnya yang saya pahami tentang kebiasaan hanyalah sebatas kulit saja. Belum pemahaman yang seutuhnya. 

Misalnya saat  ustadz Felix menjelaskan bahwa kebiasaan menjadi penentu apakah kita akan menjadi sukses atau gagal. Juga bahwa kebiasaan itu dapat terbentuk baik kita menginginkan atau tidak, baik kita suka atau tidak bahkan baik kita sadari maupun tidak. Kalaulah kebiasaan itu dianggap makhluk maka dia itu hanya ada dua jenis saja. Yaitu kebiasaan baik dan kebiasaan buruk. Keduanya menempel pada diri saya, anda dan semua orang. Keduanya menuntun kita berjalan ke depan, terus dan terus sampai di titik akhirnya yaitu kegagalan dan keberhasilan. Tidak peduli apakah keduanya menjadi tujuan atau tidak. 

Maksudnya begini, manusia itu ada yang sadar sesadar-sadarnya apa yang dia lakukan, apa akibatnya dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Sementara ada juga orang yang tidak sadar apa tujuannya, tidak sadar apa yang dilakukan dan tidak tahu apa akibat dari perbuatannya. Tipe orang kedua ini akan berjalan terus dan terus tanpa ia ketahui dia akan sampai dimana. Bahkan apakah dia sudah sampai atau belumpun dia tidak tahu.

Setiap orang itu mempunyai kebiasaan. Yah setiap orang. Jam berapa Anda bangun setiap hari? Bila Anda menjawab jam tiga berarti Anda mempunyai kebiasaan bangun pagi. Bila jawaban Anda jam 8 berarti kebiasaan Anda bangun siang. Berapa kali Anda makan setiap hari, berapa kali Anda mandi, berapa kali gosok gigi, apa yang Anda lakukan saat bangun tidur? Jawaban Anda menunjukkan kebiasaan Anda. 

Sebetulnya untuk mengetahui apa kebiasaan yang kita miliki, kita bisa mengembangkan pertanyaan itu menjadi banyak lagi pertanyaan semisal itu. Intinya setiap orang memiliki kebiasaan karena kebiasaan itu adalah proses kehidupan. 

Kata ustadz Felix kebiasaan, itu mempunyai dua orangtua yaitu latihan dan pengulangan. Dapat dikatakan untuk menjadi suatu kebiasaan harus dilatihkan dan diulang-ulang. Pelatihan dan pengulangan itu bisa terjadi setiap saat untuk sesuatu yang kita sadari atau tidak. Apa yang kita kerjakan secara  berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Bila kebiasaan sudah terbentuk maka kita akan melakukannya secara otomatis. 

Saya lebih senang memberi contoh tentang ketrampilan dalam mengoperasikan komputer. Bagi orang awam yang awam sekali, ketika ingin mulai mengunggah file ke drive, mulai dari menghidupkan laptop harus menghafal langkah langkah seperti 1) hidupkan laptop dengan menekan tombol power, 2) klik sign in, 3) klik browser, 4) pilih akun yang sesuai, 5) bila sudah terbuka klik titik 9 di sebelan photo profil, 6) kliksimbol drive, 7) klik drive saya, 8) cari dan pilih folder yang sesuai, 9) klik tambah file, 10) pilih tempat penyimpanan di perangkat, 11) cari dan pilih file yang akan diunggah, 12) klik file yang akan diunggah, tunggu sampai proses mengunggah selesai. 

Kalau dilihat dari banyaknya langkah untuk mengunggah file mungkin seseorang yang belum pernah melakukannya akan mengeluh. Duh ribet sekali urusan mengunggah file. Sebagian orang memutuskan untuk menolak melakukannya dengan dalih tidak mau ribet. Padahal bagi orang yang terbiasa melakukannya hanya membutuhkan waktu 30 detik atau bahkan kurang asal koneksi internet lancar. 

Mengapa orang bisa melakukannya sedemikian cepat? Apakah dulu saat pertamakali melakukannya dia bisa mengerjakan secepat itu? Tentu saja tidak. Sama seperti yang lain, dia juga memulainya dengan susah payah, menghafal langkah-langkah yang banyak itu, melakukannya dan mengulanginya beberapa kali sampai akhirnya dia melakukannya tanpa berpikir. 

Nah di tahap orang melakukan tanpa berpikir itulah yang disebut habits atau kebiasaan. Kalau ada perbedaan antara ahli dan bukan ahli, sebetulnya yang membedakan itu adalah kebiasaan diantara keduanya. Di bukunya ini, ustadz Felix menjelaskannya cukup gamblang. 

Setelah memaparkan dengan sangat jelas, di bagian selanjutnya ustadz Felix menuntun, tepatnya memberi tantangan, kepada kita untuk memilih dan menciptakan kebiasaan baru secara sadar. Sebagaimana diulas di bagian sebelumnya bahwa kebiasaan ada yang dibuat secara sadar ada yang tidak. Nah tantangan yang diberikan ustadz Felix adalah membuat kebiasaan yang dipilih secara sadar. 

Tentu saja Ustadz Felix juga memberikan arahan bagaimana agar kita bisa mengerjakan tantangan tersebut. Memulai dari yang mudah dan sedikit tetapi ajeg. Pada bagian ini,Ustadz Felix seperti seorang pilot yang memberikan arahan secara mendetail agar kita yang menerima tantangannya tahu hal apa yang harus diperhatikan agar kita berhasil dalam menjalankan tantangannya. 

Seperti di hal 105 yang diberi judul The Rules of 10.000 hours. Di bagian ini ustadz Felix menegaskan bahwa untuk menjadikannya sebagai kebiasaan maka kita harus menghabiskan 10.000 jam untuk melakukan pengulangannya. Misalnya kita ingin mengokohkan suatu kebiasaan sehingga kita menjadi seorang ahli maka kita bisa menghitung berapa lama waktu yang kita butuhkan. Bila kita berlatih selama 3 jam perhari maka kita membutuhkan waktu kurang lebih 9 tahun untuk menjadi ahli. Untuk menjadi ahli dalam waktu 5 tahun kita harus berlatih selama 6 jam perhari. 

Buku ini mampu memotivasi pembaca untuk menyadari betapa pentingnya memiliki kebiasaan yang baik. Selain itu, isi buku ini juga menuntun pembaca untuk memikirkan ulang kebiasaannya, apakah kebiasaan itu akan dipertahankan ataukan dihancurkan untuk diganti dengan kebiasaan baru yang akan membuatnya lahir sebagai pribadi yang baru. 

Pilihan ada di tangan kita. Apakah kita akan mengendalikan kebiasaan kita ataukah pasrah dikendalikan oleh kebiasaan kita. Karena life is not fair! Orang kaya akan semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Kebiasaanlah yang menjadikan orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin.   

#motivasi

#ustadzfelix

#felixsiauw

#kebiasaanbaik

Sabtu, 04 Januari 2025

Belajar dari Kemangi


Foto di atas saya peroleh dari media sosial. Mengapa saya tertarik membagikan foto yang dicaption ini. Pertama saya tidak asing dengan tanaman kemangi. Tanaman perdu yang berdaun runcing dan beraroma khas. Tanaman ini diambil daunnya karena baunya yang sedap. Daun kemangi biasanya dikonsumsi dalam bentuk daun segar sebagai lalapan. Tetapi ada juga orang yang menyantap kemangi sebagai bagian dari olahan, misalnya dikukus dalam pepes ikan. Sebagai lalapan kemangi biasanya disajikan bersama timun dan kacang panjang mentah yang ranum.  

Selasa, 31 Desember 2024

Mengapa Harus Benci


Kali ini tentang benci. Seperti judul tulisan ini. Pertama kita pahami dulu apa sebenarnya pengertian dari kata ini. Kalau dari kamus besar bahasa Indonesia online, benci itu merujuk pada perasaan tidak suka. Sangat tidak suka. Kalau dari gemini, benci itu rasa penolakan emosional yang diikuti dengan kedengkian dan permusuhan. Intinya, benci itu adalah sesuatu yang negatif. Berhubungan dengan perasaan terhadap sesuatu atau seseorang. Kalau perasaan ini menghampiri kita, maka bawaannya kita tidak suka atau emosi kita menolaknya. Tidak ingin berdekatan. Tidak ingin berurusan dan semuanya terlihat buruk dan salah. 

Ada 3 alasan seseorang membenci kita atau sebaliknya. Alasan pertama adalah karena merasa menjadi ancaman. Si Fulan  membenci si Fulin karena merasa si Fulin adalah ancaman. Mungkin karena si Fulin mengetahui kebusukannya, mungkin karena si Fulan merasa si Fulin berpeluang untuk mengambil alih kedudukannya, mungkin keberadaan si Fulin  membuat  keuntungan-keuntungannya berkurang.

Alasan kedua adalah karena seseorang membenci dirinya. Membenci dirinya kok bisa jadi membenci orang lain sih. Rasa tidak puas terhadap diri sendiri disebabkan karena merasa dirinya tidak mampu mencapai apa yang diinginkan. Sebetul dalam lubuk hatinya yang dalam ia merasa lemah dan dia tidak bisa menerima kelemahannya. Dengan kata lain menyadari dirinya lemah tapi menolak bahwa ia lemah. Untuk itu harus ada aktor lain yang harus menjadi kambing hitamnya. Dengan kata lain orang membenci orang lain bisa jadi karena ia mencari kambing hitam untuk meluapkan kekecewaan terhadap diri sendiri. 

Alasan ketiga adalah karena si pembenci ini ingin berada di posisi orang yang dibenci. Ini berkaitan dengan penyakit hati yaitu iri dengki. Ada orang yang terlihat lebih beruntung membuat si pembenci ingin berada di posisi orang yang dibenci. Artinya ingin beruntung sebagaimana beruntungnya orang yang dibenci. Memang melihat orang lain lebih baik, lebih baik dari ini memunculkan rasa ingin seperti mereka. Rasa ini naluriah menurut saya. Siapa yang tidak ingin bahagia? Saya semua orang normal pasti ingin bahagia. Hanya saja setiap kita menerima kondisi yang seringkali berbeda dengan apa yang kita harapkan. Bila kita tidak bisa mengendalikan perasaan ini, maka jatuhnya adalah timbul rasa benci. 

Kebencian itu bisa menghinggapi siapa saja. Saya, Anda dan juga siapa saja. Dengan mengetahui alasan mengapa rasa itu muncul, kita bisa mawas diri. Masih pentingkah kita membenci orang lain? Ketiga alasan itu menunjukkan bahwa pemicu rasa benci adalah masalah internal. Masalah kita dengan diri sendiri. Rasa benci menunjukkan bahwa kita tidak bahagia. 

Maka bila rasa itu muncul, kita perlu bertanya, ada apa dengan diri saya? 

Paling sering dilihat

Belajar dari Ustadz Felix: Membangun Kebiasaan Baik

T ulisan ini merupakan review dari isi buku yang ditulis oleh Ustadz Felix. Judul Bukunya  How to Master your Habits.  Kalau diterjemahkan d...