Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2026

Apakah Kita Sudah Menjadi Manusia Merdeka? Belajar Berkata Tidak Tanpa Rasa Bersalah



Jadilah manusia merdeka.

Pesan ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam. Kata merdeka terasa mahal, bahkan eksklusif. Sesuatu yang harus diperjuangkan.

Dulu, dalam benak saya, merdeka berarti bebas dari penjajahan, seperti yang diajarkan guru sejarah. Beliau menggambarkan bagaimana kondisi fisik dan batin masyarakat Indonesia saat dijajah—penuh tekanan, keterbatasan, dan ketakutan. Saat itulah saya paham mengapa orang rela berjuang habis-habisan demi kemerdekaan.

Seiring waktu, kata merdeka hadir dalam banyak istilah: Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar, dan Kurikulum Merdeka. Di sini merdeka dimaknai sebagai mandiri dan bebas dari tekanan.

Belajar sesuai kebutuhan.
Mengajar sesuai kondisi nyata.
Bukan sekadar mengikuti tuntutan dari luar.

Lalu saya berpikir.

Dalam lingkup yang lebih kecil, sebagai individu, apakah kita sudah merdeka?
Atau sebenarnya kita masih hidup dalam tekanan yang tidak terlihat?

Merdeka Itu Soal Keputusan

Salah satu cara sederhana untuk menguji apakah kita ini manusia merdeka atau masih tertindas adalah dengan melihat bagaimana kita mengambil keputusan.

Ketika kita mengatakan iya, apakah itu karena kita memang ingin?
Atau karena tidak enak menolak?

Dan ketika kita ingin mengatakan tidak, apakah kita berani?

Mari kita lihat contoh yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari:

  • Ada teman meminta bantuan saat kita sebenarnya sudah sangat lelah.

  • Atasan memberi tugas tambahan, padahal pekerjaan utama belum selesai.

  • Grup WhatsApp meminta iuran atau kegiatan yang sebenarnya tidak kita setujui.

  • Tetangga atau keluarga meminta sesuatu yang terasa memberatkan.

Di situlah terjadi pergulatan batin.

Kalau menolak, takut dianggap tidak peduli.
Kalau menerima, hati terasa berat.

Inilah persimpangan antara manusia merdeka dan manusia yang masih tertindas.
Jika kata yang keluar dari mulut kita bertentangan dengan hati nurani, bisa jadi kita belum sepenuhnya merdeka.

Tidak Semua “Tidak” Itu Merdeka

Menjadi manusia merdeka bukan berarti selalu menolak.
Bukan juga berarti selalu mengikuti keinginan pribadi.

Kuncinya ada pada proses menimbang.

Sebelum mengatakan iya atau tidak, kita perlu bertanya:

  • Mengapa saya harus menerima?

  • Mengapa saya ingin menolak?

  • Apa dampak dari keputusan ini?

  • Apakah ini membawa kebaikan atau justru merugikan?

  • Apakah ini sesuai dengan nilai yang saya pegang?

  • Apakah Allah ridha jika saya melakukannya?

Di dalam proses inilah kualitas diri terbentuk.

Merdeka bukan berarti bebas semaunya.
Merdeka adalah kemampuan untuk memilih dengan sadar.

Penjara yang Tidak Terlihat

Yang menarik, banyak orang terlihat bebas, tetapi sebenarnya hidup dalam “penjara sosial”.

Penjara itu bernama:

  • tidak enak

  • takut dinilai

  • takut tidak disukai

  • takut dianggap berbeda

Akhirnya kita sering berkata iya, bukan karena mau, tetapi karena takut.

Padahal manusia merdeka bukanlah manusia yang selalu menyenangkan semua orang.
Manusia merdeka adalah yang jujur pada nilai hidupnya.

Merdeka Dimulai dari Diri Sendiri

Kemerdekaan pribadi tidak datang dari luar.
Tidak diberikan oleh atasan.
Tidak ditentukan oleh lingkungan.

Ia lahir dari keberanian untuk:

  • mengenal diri

  • memahami nilai hidup

  • berkata iya dengan tulus

  • berkata tidak dengan santun

Karena merdeka bukan soal bebas melakukan apa saja.

Merdeka adalah ketika keputusan kita selaras dengan hati, akal, dan nilai yang kita yakini.

Dan mungkin, kemerdekaan terbesar dalam hidup adalah:

Tidak lagi hidup untuk menyenangkan semua orang,
tetapi hidup untuk menjalankan yang benar menurut hati nurani.



Sabtu, 04 Januari 2025

Belajar dari Kemangi


Foto di atas saya peroleh dari media sosial. Mengapa saya tertarik membagikan foto yang dicaption ini. Pertama saya tidak asing dengan tanaman kemangi. Tanaman perdu yang berdaun runcing dan beraroma khas. Tanaman ini diambil daunnya karena baunya yang sedap. Daun kemangi biasanya dikonsumsi dalam bentuk daun segar sebagai lalapan. Tetapi ada juga orang yang menyantap kemangi sebagai bagian dari olahan, misalnya dikukus dalam pepes ikan. Sebagai lalapan kemangi biasanya disajikan bersama timun dan kacang panjang mentah yang ranum.  

Sabtu, 01 Januari 2022

Waroeng Godhong: Destinasi Kuliner Blitar



Rumah makan, kafe, warung atau apalah namanya itu, adalah tempat tujuan untuk orang-orang lapar. Dan, malam ini saya bersama Ami sudah berada di satu tempat untuk tujuan itu, makan.

Namanya unik, waroeng godhong. Waroeng itu tempat jual makanan, godhong itu daun (dalam bahasa jawa). Sepertinya warung ini belum lama keberadaanya di Blitar. Karena saya yang sudah tinggal bertahun-tahun di Blitar baru tahu ada warung di daerah Sananwetan ini. Tapi memang akhir-akhir ini banyak bermunculan rumah makan di Blitar. Mulai dari kafe biasa sampai rumah makan kelas mewah. Menarik juga. Jadi banyak varian. Gak bosan dengan makanan yang itu itu saja. 
Mengapa waroeng godhong? Itu adalah pertanyaan saya ketika mendengar namanya pertama kali. Setelah mendatangi waroeng ini saya mencoba membaca konsepnya melalui perfirmance waroeng ini. Banyak daun tiruan menghiasi penampilan waroeng ini. Di salah satu dindingnya juga terdapat lukisan dedauan berwarna hijau segar. 
Selain itu alat untuk menyajikannya juga berbentuk daun. Unik bukan. Ah tidak hanya itu juga. Ada daun pisang asli yang digunakan untuk mengalasi makanan saat disajikandisajikan,  baik penyajian makanan juga kudapan. Ah ya, buku menupun terkesan daun daun gitu. Daun pandan yang dianyam. Sepertinya ini tiruan. 


Bagaimana dengan menunya? 
Cukun familiar di lidah. Menu yang umum-umum saja. Menu nasi dan lauk seperti sego lele, sego cumi, sego urang dan aneka sambal. Porsi nasi tidak terlalu banyak. Cocok untuk program diet saya. Tentu dengan porsi itu kita masih bisa menambah dengan aneka kudapan seperti tahu petis, tahu genjrot, menkes dan sejenisnya. 

Kalau harga? 
Aman. Waroeng ini meskipun terlihat exclusive tetapi harga makanannya cukup ramah dikantong. 
Jadi menurut saya, bolehlah direkomendasi untuk dikunjungi lain hari. 



Selasa, 23 Oktober 2018

Sepenggal Malam



Sepenggal malam
Suara hati menderu,
Hingar

Sepenggal malam
Batin menjamah kelam
Menggores kenangan
Ketika jiwa jiwa bersatu
Dalam kepekatan

Sepenggal malam
Adalah tempatku memelukMu
Menghabiskan air mata
Merasukkan hatiku yang pekat
Mengurai kenangan tentang apapun
Hitam kelam
Putih bersih

Sepenggal malam
Genggam aku dalam senyapMu

#tantangan7
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#fiksi

Paling sering dilihat

Nah Kan! Ternyata Aku Salah Menilai Tubuhku

Salah satu masalah yang aku hadapi sebagai seorang penderita diabetes adalah  mengatasi rasa lapar.   Mungkin karena kebiasaan m...