Sebelum memulai pelajaran saya menyempatkan dulu mengobrol dengan mereka. Ceritanya saya ingin mengkondisikan siswa untuk siap belajar. Iseng saya bertanya kepada mereka.
"Kalau kalian diperbolehkan usul untuk menghapus atau menghilangkan mata pelajaran, mata pelajaran apa yang kalian ingin dihapus?"
Mereka terlihat saling pandang satu sama lain. Kemudian beberapa diantara mereka terlihat berbisik -bisik.
"Bolehkah Bu"? Tanya salah satu diantara mereka.
"Ya ini berandai-andai saja. Gak mungkin juga ada mapel yang dihapus. Hanya berandai-andai" Saya menegaskan kalau ini hanya berkhayal.
"Matematika!" Akhirnya salah satu diantara mereka berbicara dengan tegas, disambut persetujuan dari yang lain.
"Bisa kamu jelaskan alasannya?" Tanya saya kepada siswa yang dengan tegas mengatakan bahwa ia ingin mata pelajaran matematika dihapus.
"Pusing bu"
"Ga mudeng Bu"
"Capek"
Yang saya tanya satu orang yang menjawab banyak. Masing-masing berebut ingin menyampaikan alasannya.
Alhamdulillah suasana menjadi lebih santai.
"Coba bayangkan, kamu menjadi seorang pengusaha. Di akhir tahun kamu ingin memberi bonus kepada karyawanmu yang jumlahnya banyak. Nah karena gak belajar matematika kamu gak bisa menghitung berapa bonus karyawanmu. Gimana dong?"
Hening sejenak.
Tiba-tiba ada yang bergumam.
"Nyuruh pegawai yang pinter ngitung"
Saya tersenyum.
"Masalahnya karena matematika dihapus dari kurikulum, semua orang tidak bisa berhitung. Nah, gimana?"
"Ya berarti jangan dihapus matematikanya!" Seorang siswa perempuan dari deretan bangku sisi kanan nyeletuk.
"Iya, jangan dihapus. Nanti gak bisa ngitung susah semua" sambung yang lain.
"Terus..." Sengaja saya menggantung kata-kata.
Mereka saling bersahut-sahutan menyampaikan pendapatnya.
"Gini Lo Bu.." usul siswa yang mengusulkan untuk menghapus mata pelajaran matematika.
"Giman... Gimana?" tanya saya sambil mendekati mejanya.
"Gak pa pa ada matematika, tapi cukup penjumlahan, perkalian, pengurangan dan pembagian saja. Gak usah ada singa singa itu. Pusing"
Saya mengerutkan kening. Apa maksudnya?
"Singa? Baru tahu saya di matematika ada singa"
"Ah itu lo Bu, yang cos, sin tangen" jelas siswa lain.
Nah yang ini baru mudeng saya. Pasti mereka sedang belajar trigonometri.
Suasana kelas menjadi sedikit gaduh. Tapi saya menikmatinya.
"Bu jangan bilang ke guru matematika ya. Nanti kami dimarahi" kata siswa perempuan yang duduk di bangku paling depan.
Saya tertawa. Ada-ada saja mereka.
"Tugas kalian belajar. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Kalau kalian tidak bisa mengambil semuanya, ambillah sebagian. Yang penting kalian ikuti prosesnya"
Semoga beban mereka berkurang setelah mereka menyampaikan uneg-unegnya meskipun mereka tahu itu tidak mungkin terjadi.
Ketika kita belajar, kita memang harus tahu apa tujuannya mereka belajar (berkesadaran) dan apa manfaatnya nanti dalam kehidupan mereka (bermakna).
Karena itu adalah sumber motivasi mereka. Seandainya mereka tahu apa manfaat trigonometri dalam kehidupan nyata, mungkin beda cerita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar