Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2026

Apakah Kita Sudah Menjadi Manusia Merdeka? Belajar Berkata Tidak Tanpa Rasa Bersalah



Jadilah manusia merdeka.

Pesan ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam. Kata merdeka terasa mahal, bahkan eksklusif. Sesuatu yang harus diperjuangkan.

Dulu, dalam benak saya, merdeka berarti bebas dari penjajahan, seperti yang diajarkan guru sejarah. Beliau menggambarkan bagaimana kondisi fisik dan batin masyarakat Indonesia saat dijajah—penuh tekanan, keterbatasan, dan ketakutan. Saat itulah saya paham mengapa orang rela berjuang habis-habisan demi kemerdekaan.

Seiring waktu, kata merdeka hadir dalam banyak istilah: Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar, dan Kurikulum Merdeka. Di sini merdeka dimaknai sebagai mandiri dan bebas dari tekanan.

Belajar sesuai kebutuhan.
Mengajar sesuai kondisi nyata.
Bukan sekadar mengikuti tuntutan dari luar.

Lalu saya berpikir.

Dalam lingkup yang lebih kecil, sebagai individu, apakah kita sudah merdeka?
Atau sebenarnya kita masih hidup dalam tekanan yang tidak terlihat?

Merdeka Itu Soal Keputusan

Salah satu cara sederhana untuk menguji apakah kita ini manusia merdeka atau masih tertindas adalah dengan melihat bagaimana kita mengambil keputusan.

Ketika kita mengatakan iya, apakah itu karena kita memang ingin?
Atau karena tidak enak menolak?

Dan ketika kita ingin mengatakan tidak, apakah kita berani?

Mari kita lihat contoh yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari:

  • Ada teman meminta bantuan saat kita sebenarnya sudah sangat lelah.

  • Atasan memberi tugas tambahan, padahal pekerjaan utama belum selesai.

  • Grup WhatsApp meminta iuran atau kegiatan yang sebenarnya tidak kita setujui.

  • Tetangga atau keluarga meminta sesuatu yang terasa memberatkan.

Di situlah terjadi pergulatan batin.

Kalau menolak, takut dianggap tidak peduli.
Kalau menerima, hati terasa berat.

Inilah persimpangan antara manusia merdeka dan manusia yang masih tertindas.
Jika kata yang keluar dari mulut kita bertentangan dengan hati nurani, bisa jadi kita belum sepenuhnya merdeka.

Tidak Semua “Tidak” Itu Merdeka

Menjadi manusia merdeka bukan berarti selalu menolak.
Bukan juga berarti selalu mengikuti keinginan pribadi.

Kuncinya ada pada proses menimbang.

Sebelum mengatakan iya atau tidak, kita perlu bertanya:

  • Mengapa saya harus menerima?

  • Mengapa saya ingin menolak?

  • Apa dampak dari keputusan ini?

  • Apakah ini membawa kebaikan atau justru merugikan?

  • Apakah ini sesuai dengan nilai yang saya pegang?

  • Apakah Allah ridha jika saya melakukannya?

Di dalam proses inilah kualitas diri terbentuk.

Merdeka bukan berarti bebas semaunya.
Merdeka adalah kemampuan untuk memilih dengan sadar.

Penjara yang Tidak Terlihat

Yang menarik, banyak orang terlihat bebas, tetapi sebenarnya hidup dalam “penjara sosial”.

Penjara itu bernama:

  • tidak enak

  • takut dinilai

  • takut tidak disukai

  • takut dianggap berbeda

Akhirnya kita sering berkata iya, bukan karena mau, tetapi karena takut.

Padahal manusia merdeka bukanlah manusia yang selalu menyenangkan semua orang.
Manusia merdeka adalah yang jujur pada nilai hidupnya.

Merdeka Dimulai dari Diri Sendiri

Kemerdekaan pribadi tidak datang dari luar.
Tidak diberikan oleh atasan.
Tidak ditentukan oleh lingkungan.

Ia lahir dari keberanian untuk:

  • mengenal diri

  • memahami nilai hidup

  • berkata iya dengan tulus

  • berkata tidak dengan santun

Karena merdeka bukan soal bebas melakukan apa saja.

Merdeka adalah ketika keputusan kita selaras dengan hati, akal, dan nilai yang kita yakini.

Dan mungkin, kemerdekaan terbesar dalam hidup adalah:

Tidak lagi hidup untuk menyenangkan semua orang,
tetapi hidup untuk menjalankan yang benar menurut hati nurani.



Rabu, 21 Januari 2026

Kulkas Alam di Belakang Rumah

 


Pemandangan yang ada di foto dalam tulisan ini sangat mudah ditemui di wilayah pedesaan. Lahan yang cukup luas, dengan rumah tinggal menempati salah satu sudut halaman. Di sekitarnya tumbuh beberapa pohon produktif: mangga, rambutan, pepaya, atau sejenisnya. Bila empunya rumah gemar bunga, biasanya akan ada beberapa pot bunga yang tertata rapi.

Namun selebihnya, yang sering terlihat justru lahan kosong yang ditumbuhi ilalang dan tanaman liar yang tak terurus.


Pemandangan ini mengingatkanku pada puluhan tahun yang lalu. Saat itu, seorang rekan guru—seorang bapak yang hobi bertani—pernah berkata sambil bercanda, “Orang tinggal di desa tapi apa-apa beli, itu berarti orangnya kurang pinter.”

Karena nadanya bercanda, aku pun menanggapinya dengan bercanda pula. Waktu itu aku tidak terlalu memikirkannya. Hanya lewat begitu saja.


Nah, sekarang setelah waktu berlalu dan usia bertambah, aku baru benar-benar merasakan makna ucapan itu. Ketika kami mulai memanfaatkan sedikit lahan di sekitar rumah—menanam beberapa sayur, buah, rimpang, serta memelihara ayam—ternyata ungkapan teman waktu itu seratus persen benar.


Kami punya tanaman sawi, kangkung, terong, ketela pohon, pepaya, bayam, beluntas, dan masih banyak tanaman lainnya. Intinya sederhana: apa yang biasa kami konsumsi, kalau bisa ditanam, ya kami tanam.


Hasilnya luar biasa. Aku seperti punya kulkas alam. Penyimpan makanan yang selalu segar, selalu siap dipetik, dan yang paling penting bisa kami kendalikan sendiri penggunaan pupuk dan pestisidanya. Kami hanya memakai pupuk alami. Pestisidanya pun alami. Mungkin istilah kerennya sekarang adalah tanaman organik.


Misalnya begini. Sore hari tiba-tiba kehabisan sayur. Tidak perlu panik, tidak perlu ke warung. Tinggal ke kebun belakang. Cabut beberapa batang kangkung, lalu dibuat plecing. Atau tiba-tiba ingin sambal terong. Tinggal petik. Cabai ada, kemangi ada, terong ada. Mau membuat sup, seledri tinggal cabut. Semua tersedia.


Di titik inilah aku benar-benar merasakan bahwa kata-kata rekan guruku dulu terbukti benar.

Kami juga memelihara ayam. Awalnya bukan untuk dikembangkan menjadi peternakan, meskipun sebenarnya itu sangat memungkinkan dan pemikiran ke arah sana mulai berkembang. Mulanya sederhana saja. Ketika kami menyadari banyak sisa makanan dapur yang biasanya terbuang percuma, kami berpikir: bagaimana caranya agar sampah dapur ini tidak sia-sia?


Dari situ terpikirlah untuk memelihara ayam. Tidak banyak. Hanya beberapa ekor. Tapi itu sudah sangat membantu mengurangi sampah dapur. Sisa nasi, sayur, atau kulit-kulitan yang masih layak, habis oleh ayam. Siklus kecil pun terbentuk.


Dari pengalaman ini aku mulai memahami konsep yang sekarang disebut integrated farming atau pertanian terpadu. Tanaman, ternak, dan lingkungan saling terhubung. Sisa tanaman jadi pakan ternak. Kotoran ternak jadi pupuk. Hampir tidak ada yang terbuang. Menariknya, konsep ini sebenarnya bukan hal baru. Orang-orang desa zaman dulu sudah mempraktikkannya, hanya saja sekarang diberi nama yang terdengar modern dan keren.


Ada satu pernyataan dari seorang tokoh pertanian yang cukup mengusikku. Katanya, di Indonesia ini seolah-olah sengaja dibangun opini bahwa pertanian itu tidak menjanjikan. Pupuk mahal, upah mahal, hasil tidak sebanding. Lalu solusinya apa? Jual saja lahan pertanian, ganti dengan usaha lain yang lebih menguntungkan. Tentu saja ini opini yang menyesatkan. Menguntungkan para tengkulak dan pihak yang mengincar lahan untuk dijadikan tempat industri. Opini yang mereka bangun, membuat generasi muda enggan menjadi petani dan peternak. Siapa yang akan menopang pangan masyarakat Indonesia?


Padahal, kalau dilihat dari skala rumah tangga, terutama di desa, pertanian dapat dilakukan oleh siapa saja, baik skala kecil maupun skala besar. Bila dilakukan dalam skala rumah tangga, akan mengurangi biaya hidup, membuat lebih mandiri, dan memberi rasa aman pangan bagi keluarga.


Dari lahan kecil di sekitar rumah, aku belajar satu hal penting: hidup di desa seharusnya membuat hidup lebih sederhana, bukan lebih boros. Lebih mandiri, bukan lebih bergantung. Lahan bukan sekadar halaman kosong, tapi peluang yang sering kita abaikan.


Mungkin benar kata teman guruku dulu. Tinggal di desa tapi semua beli, itu memang sayang sekali. Bukan soal pintar atau tidak pintar. Tapi soal mau atau tidak mau memanfaatkan apa yang sudah disediakan alam dengan begitu murah hati.


Dan aku bersyukur, meski agak terlambat menyadarinya, kami akhirnya mulai melangkah. Dari lahan kecil, dari niat sederhana, menuju hidup yang lebih selaras dengan desa itu sendiri.

Jumat, 09 Mei 2025

Mengapa Kita Bertindak? Menyelami Tiga Alasan Dasar Manusia



Mengapa Kita Melakukan Sesuatu?

Seorang ibu pergi meninggalkan anak-anaknya. Ia mengejar mimpinya.

Seorang remaja belajar di sekolah dengan tekun. Ia menyerap semua ilmu yang diperoleh, baik pengetahuan maupun pelajaran hidup. Sementara itu, remaja lain menghabiskan waktunya bersama perangkat pintarnya.

Ada seorang perempuan yang memilih terlibat aktif di majelis taklim, dan ada pula yang memilih diam di rumah, melayani suami dan mendampingi anak-anaknya.

Ya, setiap orang memilih untuk melakukan sesuatu—atau tidak melakukannya. Kadang-kadang kita melihat pilihan yang tampak kontradiktif. Tak jarang pula kita menyaksikan seseorang melakukan sesuatu yang menurut kita di luar nalar.

Mengapa?

Pertanyaan ini mungkin terdengar konyol bagi sebagian orang, namun menurut saya, ini adalah pertanyaan yang mendasar. Saya yakin, setiap orang memiliki alasan di balik setiap tindakannya. Dan alasan itu pula yang akan menentukan bagaimana seseorang menjalani tindakannya.

Mari kita gunakan teori sederhana: 2W1H – Why? What? How?

  • Why (Mengapa)?
    Pertanyaan ini menggali alasan: mengapa kita melakukan sesuatu?

  • What (Apa)?
    Pertanyaan ini mencari tahu: apa yang kita lakukan setelah tahu alasannya?

  • How (Bagaimana)?
    Pertanyaan ini menelusuri cara: bagaimana kita melakukannya?

Namun dalam tulisan ini, mari kita fokus pada pertanyaan pertama: Why? Mengapa kita melakukan sesuatu?

Alasan adalah hal yang penting. Ia menjadi pondasi bagi jawaban dua pertanyaan berikutnya. Setidaknya, ada tiga alasan umum mengapa seseorang melakukan sesuatu:

  1. Karena orang lain
    Kita melakukannya karena diminta, diperintah, atau ingin mendapat pengakuan dari orang lain. Mungkin karena ingin dihargai, ingin membuktikan bahwa anggapan orang lain tentang kita salah, atau sekadar ingin mendapat simpati. Intinya, kita melakukan sesuatu karena kita butuh validasi. Kita merasa baik karena orang lain bilang kita baik.

  2. Karena keinginan diri sendiri
    Kita melakukannya karena kita ingin. Kita merasa senang, puas, atau terdorong oleh hasrat pribadi. Ini adalah dorongan internal yang sering kali berkaitan dengan pemenuhan keinginan atau nafsu.

  3. Karena memang seharusnya
    Manusia memiliki panduan hidup. Bagi seorang Muslim, tuntunan itu termaktub dalam Al-Qur’an. Misalnya, seorang Muslim yang baik harus suka menolong. Maka ketika kita menolong, bukan karena orang lain menyuruh atau karena kita ingin, tapi karena memang seharusnya begitu. Ini adalah alasan berbasis prinsip dan nilai yang kita yakini.

Jadi alasan yang mana yang membuat Anda memilih melakukan sesuatu hari ini?

Minggu, 04 Mei 2025

Bicara Baik Lewat Chat: Etika Digital yang Sering Terlupa


Zaman sekarang, siapa sih yang nggak pakai WhatsApp? Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, jari kita hampir tak lepas dari aplikasi sejuta umat ini. Aplikasi ini digunakan oleh semua kalangan: anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, perempuan, laki-laki—semuanya menggunakan aplikasi ini.

WA memang memudahkan banyak urusan. Emak-emak menggunakannya untuk berbagai keperluan: komunikasi keluarga, interaksi dengan sesama orang tua di grup sekolah anak, pengajian, arisan, dan masih banyak lagi aktivitas lainnya.

Tapi, pernahkah kita bertanya: sudahkah kita beretika dalam menggunakan WhatsApp? Apakah cara kita menulis, membalas pesan, mengirim broadcast, atau menanggapi info sudah mencerminkan tatakrama berkomunikasi?
Tatakrama atau etika dalam berkomunikasi itu penting untuk diperhatikan—bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di jagad maya. Tak jarang kan, kita mengalami huru-hara saat berkomunikasi lewat WA?

Kemarin, hari Sabtu tanggal 3 Mei, saya membersamai ibu-ibu belajar bersama tentang pentingnya beretika saat berkomunikasi di media sosial, terutama WA. Ternyata atensinya luar biasa! Emak-emak yang usianya rata-rata setengah abad itu sangat antusias.
Dua topik besar yang kita pelajari yaitu: etika menggunakan WhatsApp dan mengenal aplikasi Google Keep.
Dalam tulisan kali ini, saya akan merangkum poin-poin yang kita pelajari:


1. Berkomunikasi dengan Sopan

Budaya orang Timur adalah menjaga kesopanan. Sopan saat berkomunikasi sangat penting karena kesalahpahaman bisa berujung pada perselisihan atau pertengkaran.
WA menyediakan fasilitas mengirim pesan tulis dan suara. Gunakanlah bahasa yang santun dan tidak menyinggung. Hindari menggunakan huruf kapital semua (terkesan seperti berteriak), perhatikan tanda baca, dan sampaikan maksud dengan jelas tanpa berputar-putar.

2. Jangan Langsung Percaya dan Sebar Info

Saring sebelum sharing!
Banyak orang merasa penting menyampaikan informasi kepada orang lain, dengan niat berbagi kebaikan. Tapi harus diingat: yang menurut kita penting, belum tentu penting bagi orang lain.
Selain itu, informasi yang salah bisa menyesatkan. Maka, cek dulu kebenarannya, apalagi jika menyangkut agama, kesehatan, atau politik. Jangan sampai kita menyebarkan hoaks dan menjerumuskan orang lain.
Kalau tidak hati-hati, kita bisa menjadi bagian dari fitnah.

3. Perhatikan Waktu Mengirim Pesan

Salah satu kemudahan komunikasi online adalah kita bisa mengirim pesan kapan saja, 24 jam. Tapi, bukan berarti kita bisa sembarangan kirim pesan tanpa memperhatikan waktu.
Hindari mengirim pesan di waktu malam, terlalu pagi, atau saat orang sedang sibuk, kecuali dalam kondisi darurat.
Kalau ingin menelepon, sebaiknya minta izin dulu. Bisa jadi orang yang ingin kita hubungi sedang dalam rapat, upacara, atau kondisi lain yang tidak memungkinkan.

4. Hargai Privasi dan Hindari Ghibah

Fungsi utama WA adalah untuk mengirim pesan. Gunakanlah sesuai fungsinya.
Kalau tidak waspada, kemudahan WA bisa menjerumuskan kita pada ghibah—membicarakan orang lain tanpa hak.
Menghargai privasi juga penting. Apa yang kita ketahui tentang seseorang tidak harus disebarkan ke orang lain.

5. Tidak Semua Hal Harus Dikirim

Stiker, video lucu, gambar, atau broadcast yang terlalu sering bisa mengganggu, apalagi di grup WA.
Anggota grup biasanya terdiri dari berbagai latar belakang sosial. Maka, perhatikan tujuan grup.
Kalau grup memang dibuat untuk guyonan, ya silakan. Tapi kalau grup dibuat untuk urusan yang lebih serius, hindari kiriman yang kurang relevan.
Bijaklah memilah: mana yang perlu dikirim, mana yang lebih baik disimpan sendiri.

6. Jangan Paksakan Respon Cepat

Tidak semua orang bisa langsung membalas pesan. Mungkin sedang sibuk, sedang sakit, atau sedang tidak ingin membuka WA.
Jadi, bersabarlah. Jangan menuntut orang lain untuk cepat merespon.
Membalas atau tidak, itu hak mereka. Kalau merasa kecewa, bicarakan saja nanti saat bertatap muka.

7. Gunakan WA Sebagai Sarana Dakwah dan Kebaikan

Sebarkan ilmu, info kajian, atau kutipan yang membangun.
Jadikan WA sebagai ladang pahala, bukan tempat melampiaskan emosi atau menyebar keluhan.

Kita memang tak bisa lepas dari WhatsApp, tapi kita bisa memilih bagaimana menggunakannya.

Yuk, bijak ber-WA!
Jadikan setiap huruf yang kita ketik sebagai cerminan akhlakul karimah kita.
Karena sesungguhnya, adab kita di dunia maya adalah cerminan siapa kita yang sebenarnya.

Selasa, 29 April 2025

Perpisahan Sekolah: Perayaan atau Beban?


Beberapa hari terakhir ini sedang viral perdebatan antara Gubernur Jawa Barat dengan seorang remaja tentang kebijakan penghapusan segala bentuk perpisahan atau wisuda sekolah. Bila Anda belum melihat dan penasaran, silakan cari cuplikannya di media sosial—pasti mudah ditemukan. Perdebatan ini ramai diperbincangkan netizen. Terlepas dari kebiasaan netizen yang memang cepat bereaksi, topik ini memang layak menjadi bahan renungan bersama.

1. Sudut Pandang Remaja: Perpisahan Itu Emosional

Bila dilihat dari sudut pandang remaja—atau siapa pun yang pernah menjadi remaja—nuansa perpisahan itu memang bisa terasa “menyesakkan”. Tiga tahun mereka menjalani proses belajar bersama-sama tentu menyisakan banyak momen berharga. Beberapa di antara mereka menjalin hubungan emosional yang erat dengan teman sekelas, guru, bahkan lingkungan sekolah.

Dalam dunia remaja, persahabatan bukan sekadar bermain bersama. Persahabatan adalah ruang eksplorasi identitas, belajar memahami orang lain, dan mengembangkan keterampilan sosial yang penting. Persahabatan juga menjadi tempat berbagi beban emosi. Maka, bisa dimaklumi jika mereka merasa kehilangan ketika prosesi perpisahan ditiadakan.

2. Sudut Pandang Orang Tua: Perpisahan Itu Pembiayaan

Di sisi lain, dari perspektif orang tua, perpisahan sering kali berarti biaya—dan itu bukan beban kecil. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam videonya menyampaikan bahwa ada orang tua yang sampai menangis karena tidak sanggup membayar biaya study tour. Ini bukan sekadar kisah individual, tapi fenomena sosial.

Di setiap sekolah, siswa datang dari latar belakang ekonomi yang beragam. Ketika sebuah acara dirancang terlalu mewah, maka tak semua orang tua bisa menjangkaunya. Tentu sulit mencari standar yang bisa diterima semua pihak. Perpisahan seharusnya menjadi momen bahagia, bukan sumber stres ekonomi.

3. Sudut Pandang Sekolah: Dilema antara Apresiasi dan Aksesibilitas

Bagi sekolah, perpisahan adalah momen apresiasi atas pencapaian siswa. Ini saatnya merayakan kerja keras, mengenang perjalanan bersama, dan melepas siswa menuju jenjang berikutnya. Namun, sekolah juga seringkali berada dalam dilema antara memenuhi ekspektasi siswa dan orang tua, atau menjaga nilai inklusivitas.

Ketika acara perpisahan dikelola oleh pihak luar atau panitia yang lebih fokus pada kemewahan, nilai-nilai pendidikan seringkali tersingkir. Sekolah terjebak antara keinginan untuk menyenangkan semua pihak, dengan tanggung jawab menjaga agar acara tetap sederhana, layak, dan menyentuh makna yang sebenarnya.

Lalu, Apa Solusinya?

Perdebatan ini tidak bisa diselesaikan dengan satu kebijakan hitam-putih. Yang dibutuhkan adalah ruang dialog: antara siswa, orang tua, dan sekolah. Barangkali yang perlu dilakukan bukan penghapusan total, tapi transformasi bentuk perpisahan. Dari pesta mewah menjadi seremoni yang sederhana, namun penuh makna.

Karena pada akhirnya, yang paling membekas dalam kenangan bukan gedung mewah atau gaun mahal, melainkan pelukan hangat guru, senyum teman, dan rasa bangga karena telah tumbuh bersama.

Minggu, 27 April 2025

Ngaji Ahad Pagi: Menjaga Tuma’ninah, Menjaga Timbangan Amal

Ahad Pagi, 27 April 2025
Masjid Al Muhajirin

Pagi ini, kami masih melanjutkan kajian bersama Ustadz Makhrus Shodiq membahas bab Shalat dari Kitab Tanbih Al-Ghofilin.

Ustadz Makhrus menyampaikan bahwa salah satu sahabat Nabi menceritakan sabda beliau ï·º tentang seburuk-buruk pencuri. Rasulullah ï·º bersabda bahwa seburuk-buruk pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya. Ketika para sahabat bertanya, "Siapa orang yang mencuri dalam shalat, wahai Rasulullah?" Nabi ï·º menjawab, "Yaitu orang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya."

Beliau kemudian menekankan pentingnya tuma’ninah (tenang sejenak) dalam rukuk dan sujud. Hal ini termasuk dalam rukun shalat. Seperti yang telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya dalam kajian fikih bersama Ustadz Hali, bahwa rukun shalat berjumlah tiga belas. Jika salah satu dari rukun tersebut tertinggal, maka shalat menjadi tidak sah.
Di antara rukun tersebut adalah rukuk dan sujud yang dilakukan dengan tuma’ninah. Maka, siapa yang tidak melakukan rukuk dan sujud dengan benar, dialah yang dimaksud sebagai pencuri dalam shalatnya, sebagaimana sabda Nabi.

Selanjutnya, Ustadz Makhrus mengutip riwayat dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu:

"Shalat itu adalah miizan (timbangan/ukuran) seseorang. Barang siapa yang menyempurnakan shalatnya, maka ia telah menyempurnakan timbangannya. Barang siapa yang menguranginya, maka Allah berfirman:
'Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.' (QS. Al-Muthaffifin: 1–3)"

Shalat adalah timbangan seorang muslim. Jika shalatnya tidak sempurna, maka timbangannya pun kurang. Sebaliknya, jika shalatnya sempurna, maka timbangannya sempurna di sisi Allah. Orang yang shalatnya tidak sempurna, diumpamakan seperti pedagang yang menipu dalam timbangan — hanya saja, dalam hal ini, dia menipu dirinya sendiri.
Kalau dipikirkan, siapa lagi yang menipu dirinya sendiri selain orang yang bodoh?
Padahal dalam Surat Al-Muthaffifin, Allah mengancam orang-orang yang curang dengan kecelakaan besar (wail).

Naudzubillahi min dzalik.

Karena itu, Ustadz Makhrus mengingatkan agar kita mengerjakan shalat dengan ikhlas dan sepenuh hati. Kecerobohan dan ketergesaan dalam shalat sering kali membuat kita kehilangan kekhusyukan dan ketenangan. Sedangkan beribadah, apalagi shalat, memang butuh usaha dan kesungguhan — dilakukan dengan keimanan yang kuat.

Ustadz Makhrus juga mengutip hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

Rasulullah ï·º bersabda:
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka tahu keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.”
(HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

Memang benar, dua shalat tersebut — Isya' dan Subuh — terasa berat bagi banyak orang.
Setelah Maghrib, biasanya kita disibukkan dengan pekerjaan atau aktivitas lain. Ketika tiba waktu Isya', kadang pekerjaan masih "nanggung", belum selesai. Jika diteruskan, kita sering terlambat atau bahkan mengabaikan shalat Isya.
Begitu pula shalat Subuh. Saat tubuh masih nyaman dalam hangatnya selimut, terasa berat untuk bangun. Adzan terdengar, tapi keinginan untuk menunda sering lebih kuat — hingga akhirnya kesiangan.

Padahal, shalat Isya dan Subuh memiliki keutamaan luar biasa.
Kalau saja kita benar-benar tahu keutamaannya, tentu kita akan berlomba-lomba untuk mendirikannya, bahkan rela datang ke masjid meski harus merangkak sebagaimana sabda Rasulullah ï·º.

Mengapa kita malas mengerjakannya?
Karena kadar keimanan di dalam hati belum kuat.
Kata Ustadz Makhrus, semangat dalam shalat sangat bergantung pada kadar iman. Semakin kuat imannya, semakin besar semangatnya untuk menunaikan shalat. Sebaliknya, bila imannya lemah, maka ia akan malas dan cenderung meremehkan shalat.

Bismillah, semoga Allah menjaga kita dari sifat kemunafikan dan melembutkan hati kita untuk selalu bersegera dalam mendirikan shalat dengan ikhlas dan khusyuk.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.

Jumat, 25 April 2025

Mereka Diam, Saya Belajar

 

Saya berhadapan dengan lima cowok berusia belasan tahun. Mereka adalah murid-murid saya. Saat ini, mereka sedang mengikuti sesi penilaian untuk tugas proyek yang saya berikan beberapa waktu lalu. Tugasnya sebenarnya cukup sederhana: setiap kelompok diminta membuat dua video tentang komunikasi, yaitu komunikasi efektif dan komunikasi tidak efektif.

Itulah sebabnya saat ini kami berkumpul dalam satu forum. Saya sebagai penguji, dan mereka sebagai yang diuji.

Suasana penilaian terasa sangat berbeda dibandingkan suasana pembelajaran. Murid-murid yang biasanya celometan, kini jadi lebih tenang. Apalagi saat mereka mendapat pertanyaan yang dirasa sulit dan tak bisa mereka jawab—sikap urakan yang biasanya mereka tampilkan pun langsung lenyap.

Selama satu tahun terakhir, saya mulai menyadari bahwa penilaian dengan teknik wawancara seperti ini sangat diperlukan. Sebelumnya, saya melakukan penilaian seperti umumnya: menyusun soal, meminta mereka mengerjakan, lalu mengoreksi. Cara itu memang simpel. Saya bisa mendapatkan nilai dengan cepat. Tapi, saya tidak tahu seperti apa performa mereka secara langsung, dan sering kali nilai yang mereka peroleh tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya.

Dengan metode penilaian saat ini, saya bisa menyaksikan penampilan mereka secara utuh: kemampuan menyampaikan gagasan, keberanian, kreativitas, dan kemampuan bernalar kritis.

Selain pertanyaan yang telah saya siapkan, saat menghadapi siswa dengan motivasi belajar yang rendah, saya sering tergelitik untuk menanyakan tujuan mereka setelah lulus sekolah. Sebagian menjawab ingin langsung bekerja, sebagian kecil menyatakan ingin kuliah. Namun, ketika saya tanya pekerjaan seperti apa yang mereka inginkan, jawaban mereka mulai "ngaco"—asal jawab. Mereka tampak bingung dan tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.

Hal ini berbeda dengan siswa yang antusias dalam kegiatan pembelajaran. Mereka cenderung sudah memiliki jawaban yang menggambarkan arah hidup mereka. Misalnya, ingin bekerja di KAI, di perusahaan tambang, atau melanjutkan kuliah dengan jurusan tertentu.

Dari sini saya menyadari bahwa sebagian besar siswa belum memiliki tujuan yang jelas. Mereka tidak bisa menggambarkan ke mana mereka ingin melangkah dalam lima tahun ke depan. Saya rasa, hal ini berimbas terhadap motivasi belajar mereka.

Sebagai guru saya yakin bahwa tugas saya bukan hanya sekedar menyampaikan materi, membuat rencana pelajaran dan melakukan penilaian tetapi juga membantu mengenali diri dan arah hidup mereka. Dan penilaian bukan hanya sekedar angka yang tidak bisa berbicara. Penilaian menjadi cermin untuk melihat lebih dalam kesiapan mereka dalam menghadapi hidup.


Sabtu, 19 April 2025

Gadgetan Bareng Ibu-Ibu

Selamat datang di dunia belajar!

Belajar itu wajib. Nabi mengajarkan bahwa setiap manusia wajib belajar -kalau perlu sampai ke negeri China, dari ayunan sampai lianng lahat. Artinya belajar adalah proses yang harus kita lakukan terus menerus. Tidak peduli apakah Anda masih kecil atau sudah tua, belajar adalah kewajiban sepanjang hayat. 

Belajar tidak harus duduk manis di ruang yang disebut kelas, berhadapan dengan guru, membaca buku tebal dan mencatat. Pada hakikatnya belajar adalah usaha untuk mendapatkan informasi (ilmu) lalu mengolahnya kemudian menyampaikan kembali dengan versi kita sendiri - atau mempraktekkannya. Anda baru  dikatakan sudah belajar bila terjadi perubahan dalam diri Anda: dari yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa. Jadi, jika hanya menerima informasi saja, sebanyak apapun, tanpa ada perubahan atau penerapan, maka itu belum bisa disebut belajar. 

Uniknya, proses pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa, keduanya justru sama-sama belajar. Guru bukan satu-satunya sumber ilmu, dalam interaksi itu, baik guru maupun siswa saling bertumbuh dan bertambah ilmunya.

Seperti hari ini. 

Saya membersamai ibu-ibu untuk belajar. Bukan belajar memasak atau menyulam atau ketrampilan rumah tangga lainnya melainkan belajar mengoperasikan HP, khususnya aplikasi WA. 

Ibu-ibu ini sebenarnya sudah cukup akrab dengan aplikasi sejuta umat itu. Tetapi masih banyak fitur-fitur yang belum tersentuh. Yang kita pelajari adalah: 

  1. Menyetel grup agar tidak otomatis mendownload

  2. Membintangi pesan penting 

  3. Mencari pesan melalui searching 

  4. Mencari pesan berbintang 

  5. Mencari media 

  6. Menghapus semua pesan 

  7. Memblokir kontak 

  8. Melampirkan dokumen pada pesan 

  9. Ngetag pesan 

  10. Membalas pesan secara pribadi pada grup

  11. Membuat pesan siaran 

  12. Membuat grup baru 

  13. Menambahkan/ menonaktifkan  admin

  14. Mengeluarkan anggota dari grup

  15. Menambahkan anggota grup

  16. Barcode wa 

  17. Membuat tautan grup

Hal-hal seperti itu dirasa sesuai dengan kebutuhan ibu-ibu yang aktif dalam organisasi perempuan. Dan yang paling menyenangkan, apa yang dipelajari langsung bisa dipraktekkan. 

Belajar memang tidak mengenal usia. Hari ini saya kembali diingatkan bahwa semangat ibu-ibu untuk terus berkembang adalah kekuatan yang luar biasa. Dimulai dari layar kecil HP mereka, semoga menjadi pijakan untuk lompatan-lompatan selanjutnya. Semoga semangat belajar ini terus tumbuh dan menular kepada ibu-ibu yang lain

Kamis, 10 April 2025

Mahalnya Syukur


Siang ini saya mendapati sebuah video  pendek melalui media sosial. Tentang penjual roti, pembeli dan orang yang membutuhkan bantuan (maaf: miskin). Dikisahkan dalam video tersebut seseorang membeli roti di sebuah kedai roti. Ia membeli 4 roti tapi membayarnya lebih, cukup untuk membeli 8 roti. Awalnya si pembeli ini hanya menyerahkan uang tanpa bertanya lebih dahulu berapa jumlah yang harus ia bayar. Si penjual awalnya juga tidak menyadari bahwa uang yang diberikan terlalu banyak. Begitu ia menyadari uang yang diterima terlalu banyak, ia memanggil si pembeli dan menyampaikan bahwa uangnya lebih. Dengan jumlah itu seharusnya ia mengambil 8 roti. Kemudian si penjual mengingatkan pembeli bahwa uang yang dibayarkan terlalu banyak. Tetapi pembeli mengikhlaskan dan meminta agar penjual menyimpannya di keranjang untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. 

Beberapa saat kemudian datanglah orang miskin yang menginginkan roti tetapi tidak mampu membayar. Penjual memberikan 4 roti dengan cuma-cuma. Si miskin ketika menyadari roti yang diberikan terlalu banyak minta agar rotinya dikurangi, diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. 

Video ini cukup menyentuh dan memberikan pelajaran yang sangat berharga. Tak berlebihan ketika diberi caption: orang kaya tidak pelit, orang miskin tidak tamak dan penjual jujur. Video tersebut melibatkan tiga tokoh yang mewakili tiga kelompok sosial. 

Tokoh pertama adalah orang kaya yang berperan sebagai pembeli. Orang kaya memiliki harta berlebih. Hartanya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Tetapi dia tidak mengambil secukupnya. Selebihnya ia bagikan kepada orang yang membutuhkan. Padahal secara naluri, manusia itu tidak pernah puas. Manusia akan cenderung memanfaatkan melebihi kebutuhan. Menumpuk harta untuk diwariskan pada keturunannya. Kalau bisa semua keturunannya tidak kekurangan harta. Tapi dalam video tersebut, orang kaya cukup memanfaatkan apa yang dibutuhkan saja. Ia tidak pelit, mempersilahkan orang lain memanfaatkan sebagian hartanya  karena ia sadar bahwa hartanya adalah titipan. Ada hak orang miskin yang dititipkan padanya. 

Tokoh kedua adalah orang miskin. Karena kemiskinannya ia mengharapkan belas kasihan. Ia meminta secukupnya saja meski dia mempunyai kesempatan untuk mendapatkan lebih. Ia sadar masih banyak orang yang seperti dirinya, tidak beruntung dan membutuhkan bantuan juga. Maka ia tidak tamak, tidak aji mumpung, tidak mengeksploitasi kemiskinannya. 

Dan tokoh ketika adalah penjual yang amanah. Dia adalah perantara yang menghubungkan antara si kaya dan si miskin. Di posisinya, ia bisa saja nilep  harta yang dititipkan oleh si kaya. Toh  tidak ada manusia yang tahu. Tetapi ia sadar bahwa statusnya hanya perantara, bukan pemilik. Ia sadar bahwa ia sudah mendapatkan bagian dari transaksi ini. Ia mendapatkan keuntungan dari menjual roti. Itu jatahnya dan ia merasa cukup dengan apa yang ia terima. 

Alangkah indahnya bila masing-masing sadar diri dan menempatkan diri sesuai posisinya. Kalaulah dunia ini panggung sandiwara, setiap manusia adalah pemeran. Masing-masing mendapatkan peran dan harus memainkan peran sesuai skenario. Mereka adalah tokoh yang memainkan perannya dengan baik.  

Bagaimana dengan kita, saya? Anda?  


Link Video: bisa klik di sini   


Jumat, 04 April 2025

Mari Menginstal Habits

Nama saya Endah Susilawati. Nama ini beberapa kali keliru jadi harus dibenarkan. Rupanya bagi orang Jawa kata Susilawati itu kurang luwes. Luwesnya adalah Susilowati. Mungkin karena kesalahan penulis ijazah dulu atau bagaimana. Akibatnya setiap kali terbit berkas baru saya harus selalu memastikan huruf "a" pada kata susilawati itu tertulis dengan benar. 

Usia saya tidak muda lagi. Tahun ini genap limapuluh enam tahun. Itu artinya sudah lebih dari setengah abad saya menikmati karunia Allah dalam bentuk kehidupan. Entah apa yang sudah saya lakukan di perjalanan yang sudah lebih dari setengah abad ini. Rasanya kok belum ada ya pencapaian yang berarti. Saya hanya berharap apa yang sudah saya lalui ini membawa berkah bagi diri sendiri dan juga orang lain, aamiin. 

Meskipun sudah senja tapi saya masih menyimpan mimpi yaitu menghasilkan buku sendiri. Dulu sih ingin menghasilkan buku cetak tapi seiring berkembangnya waktu sepertinya ebook bolehlah. Belum kesampaian tapi. Sejauh ini, setua ini belum kesampaian? Iya betul belum kesampaian. Lalu apa usaha yang saya lakukan selama ini? Membaca iya tetapi kalau pas mood saja. Ikut pelatihan kepenulisan sudah. Dapat materi tapi dibaca pada saat pelatihan, mengerjakan tugas pelatihan tapi hanya sebatas tugas setelah itu da...da... Masuk komunitas penulis. Saat termotivasi, produktif menulis yang kata teman-teman tulisan saya tidak terlalu buruk. Tetapi setelah itu ya sudah, motivasi menulis raib begitu saja. 

Mengapa saya tidak bisa seperti mereka yag dapat dengan mudah menulis dan menghasilkan buku dengan hitungan bulan, minggu bahkan hari? Pertanyaan itu sangat menghantui. Jawabannya saya juga tidak tahu. Tetapi sepertinya itu disebabkan karena kebiasaan saya. Mereka yang berhasil menulis buku memiliki kebiasaan yang tidak saya miliki. Saya tidak melakukan apa yang mereka lakukan. 

Untuk menjadi ahli, seseorang harus menginvestasikan pikiran, tenaga dan waktunya untuk berlatih tentang kompetensi yang ingin ia kuasai. Saya ingin memiliki kompetensi menulis, berati saya harus mendedikasikan pikiran, tenaga dan waktu untuk menulis. Saya yakin seorang penulis melakukan latihan dengan cara menulis. Mereka mempunyai kebiasaan menulis setiap hari. Mungkin setengah jam, mungkin satu jam, dua jam atau tiga jam setiap hari waktunya digunakan untuk menulis, dan lama-lama menjadi sebuah kebiasaan. 

Jadi ditulisan ini saya ingin mendeklarasikan bahwa mulai hari ini saya akan menginstal kebiasaan menulis setiap hari. Saya akan menginvestasikan satu jam untuk menulis dan satu jam untuk membaca. Karena menurut saya dua kegiatan itu satu paket. Membaca adalah cara untuk membuka dan mengakses inspirasi agar dapat menghasilkan bahan tulisan. Untuk waktu membaca akan saya lakukan selepas shalat ashar atau sekitar jam empat sore sepulang sekolah. Sedangkan waktu menulis saya lakukan pada jam 21.00 setiap hari. 

Apa saja yang akan saya tulis? Ya apa saja. Karena mood menulis saya tidak tentu maka saya tahu membuat kebiasaan ini sangat sulit. Kalau saya mematok jenis tulisan justru akan membuat saya kesulitan sendiri. Dalam 30 hari ke depan biarlah tulisan random dulu. Yang penting konsisten menulis satu jam setiap hari. Minimal! Artinya bila tiba-tiba ide muncul dan saya harus menulis maka itu tidak termasuk dalam hitungan tadi. Istilahnya bonus dan tidak dihitung sebagai latihan menulis. 

  • Habits baru: Membaca dan menulis 
  • Waktu: 1 jam sehari untuk membaca dan 1 jam sehari untuk menulis 
  • Jenis bacaan: Apa saja 
  • Jenis tulisan: Apa saja 
  • Media: wattpad, blog, google dokumen 
  • Waktu pencapaian: 30 hari tak terputus, bila terputus maka akan mengulang dari awal dan dihitung nol 

Bismillah 

Belajar dari Ustadz Felix: Membangun Kebiasaan Baik


Tulisan ini merupakan review dari isi buku yang ditulis oleh Ustadz Felix. Judul Bukunya  How to Master your Habits.  Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kuranglebih artinya  bagaimana cara mengendalikan kebiasaanmu. 

Secara keseluruhan isi buku ini adalah tentang tip atau trik yang dibagikan  ustadz felix sebagai pendakwah. Jumlah halaman tidak terlalu banyak, hanya 168 hal. Tidak terlalu banyak, bisa dikhatamkan satu sampai dua jam. Tapi karena isinya daging jadi perlu dikunyah pelan-pelan sambil dinikmati enaknya. 

Saya membuat catatan khusus tentang isi buku ini. Di setiap bagian yang penting dan legit saya sengaja menjeda untuk meresapinya. Saya membaca sambil membayangkan gaya bertuturnya di podcast-podcast yang bertebaran di dunia maya. Suaranya yang khas, istilah-istilah yang dilafalkan dengan fasih, kutipan-kutipan ayat atau hadist yang selalu relate dengan apa yang sedang dibahas ternginga-ngiang di benak. Gayanya dalam bertutur dalam bentuk tulisan tak jauh berbeda dengan gaya tuturnya secara lisan. Sama-sama ringan, lincah dan energik. 

Dibagian awal bukunya  ustadz mengulas tentang apa itu habist atau kebiasaan. Saya tahu apa itu kebiasaan. Saya bisa menyebutkan kebiasaan saya dalam kurun waktu setahun terakhir ini dengan baik. Tapi dari penjelasan ustadz Felix ini mata saya menjadi terbuka lebar dan saya menyadari bahwa sebetulnya yang saya pahami tentang kebiasaan hanyalah sebatas kulit saja. Belum pemahaman yang seutuhnya. 

Misalnya saat  ustadz Felix menjelaskan bahwa kebiasaan menjadi penentu apakah kita akan menjadi sukses atau gagal. Juga bahwa kebiasaan itu dapat terbentuk baik kita menginginkan atau tidak, baik kita suka atau tidak bahkan baik kita sadari maupun tidak. Kalaulah kebiasaan itu dianggap makhluk maka dia itu hanya ada dua jenis saja. Yaitu kebiasaan baik dan kebiasaan buruk. Keduanya menempel pada diri saya, anda dan semua orang. Keduanya menuntun kita berjalan ke depan, terus dan terus sampai di titik akhirnya yaitu kegagalan dan keberhasilan. Tidak peduli apakah keduanya menjadi tujuan atau tidak. 

Maksudnya begini, manusia itu ada yang sadar sesadar-sadarnya apa yang dia lakukan, apa akibatnya dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Sementara ada juga orang yang tidak sadar apa tujuannya, tidak sadar apa yang dilakukan dan tidak tahu apa akibat dari perbuatannya. Tipe orang kedua ini akan berjalan terus dan terus tanpa ia ketahui dia akan sampai dimana. Bahkan apakah dia sudah sampai atau belumpun dia tidak tahu.

Setiap orang itu mempunyai kebiasaan. Yah setiap orang. Jam berapa Anda bangun setiap hari? Bila Anda menjawab jam tiga berarti Anda mempunyai kebiasaan bangun pagi. Bila jawaban Anda jam 8 berarti kebiasaan Anda bangun siang. Berapa kali Anda makan setiap hari, berapa kali Anda mandi, berapa kali gosok gigi, apa yang Anda lakukan saat bangun tidur? Jawaban Anda menunjukkan kebiasaan Anda. 

Sebetulnya untuk mengetahui apa kebiasaan yang kita miliki, kita bisa mengembangkan pertanyaan itu menjadi banyak lagi pertanyaan semisal itu. Intinya setiap orang memiliki kebiasaan karena kebiasaan itu adalah proses kehidupan. 

Kata ustadz Felix kebiasaan, itu mempunyai dua orangtua yaitu latihan dan pengulangan. Dapat dikatakan untuk menjadi suatu kebiasaan harus dilatihkan dan diulang-ulang. Pelatihan dan pengulangan itu bisa terjadi setiap saat untuk sesuatu yang kita sadari atau tidak. Apa yang kita kerjakan secara  berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Bila kebiasaan sudah terbentuk maka kita akan melakukannya secara otomatis. 

Saya lebih senang memberi contoh tentang ketrampilan dalam mengoperasikan komputer. Bagi orang awam yang awam sekali, ketika ingin mulai mengunggah file ke drive, mulai dari menghidupkan laptop harus menghafal langkah langkah seperti 1) hidupkan laptop dengan menekan tombol power, 2) klik sign in, 3) klik browser, 4) pilih akun yang sesuai, 5) bila sudah terbuka klik titik 9 di sebelan photo profil, 6) kliksimbol drive, 7) klik drive saya, 8) cari dan pilih folder yang sesuai, 9) klik tambah file, 10) pilih tempat penyimpanan di perangkat, 11) cari dan pilih file yang akan diunggah, 12) klik file yang akan diunggah, tunggu sampai proses mengunggah selesai. 

Kalau dilihat dari banyaknya langkah untuk mengunggah file mungkin seseorang yang belum pernah melakukannya akan mengeluh. Duh ribet sekali urusan mengunggah file. Sebagian orang memutuskan untuk menolak melakukannya dengan dalih tidak mau ribet. Padahal bagi orang yang terbiasa melakukannya hanya membutuhkan waktu 30 detik atau bahkan kurang asal koneksi internet lancar. 

Mengapa orang bisa melakukannya sedemikian cepat? Apakah dulu saat pertamakali melakukannya dia bisa mengerjakan secepat itu? Tentu saja tidak. Sama seperti yang lain, dia juga memulainya dengan susah payah, menghafal langkah-langkah yang banyak itu, melakukannya dan mengulanginya beberapa kali sampai akhirnya dia melakukannya tanpa berpikir. 

Nah di tahap orang melakukan tanpa berpikir itulah yang disebut habits atau kebiasaan. Kalau ada perbedaan antara ahli dan bukan ahli, sebetulnya yang membedakan itu adalah kebiasaan diantara keduanya. Di bukunya ini, ustadz Felix menjelaskannya cukup gamblang. 

Setelah memaparkan dengan sangat jelas, di bagian selanjutnya ustadz Felix menuntun, tepatnya memberi tantangan, kepada kita untuk memilih dan menciptakan kebiasaan baru secara sadar. Sebagaimana diulas di bagian sebelumnya bahwa kebiasaan ada yang dibuat secara sadar ada yang tidak. Nah tantangan yang diberikan ustadz Felix adalah membuat kebiasaan yang dipilih secara sadar. 

Tentu saja Ustadz Felix juga memberikan arahan bagaimana agar kita bisa mengerjakan tantangan tersebut. Memulai dari yang mudah dan sedikit tetapi ajeg. Pada bagian ini,Ustadz Felix seperti seorang pilot yang memberikan arahan secara mendetail agar kita yang menerima tantangannya tahu hal apa yang harus diperhatikan agar kita berhasil dalam menjalankan tantangannya. 

Seperti di hal 105 yang diberi judul The Rules of 10.000 hours. Di bagian ini ustadz Felix menegaskan bahwa untuk menjadikannya sebagai kebiasaan maka kita harus menghabiskan 10.000 jam untuk melakukan pengulangannya. Misalnya kita ingin mengokohkan suatu kebiasaan sehingga kita menjadi seorang ahli maka kita bisa menghitung berapa lama waktu yang kita butuhkan. Bila kita berlatih selama 3 jam perhari maka kita membutuhkan waktu kurang lebih 9 tahun untuk menjadi ahli. Untuk menjadi ahli dalam waktu 5 tahun kita harus berlatih selama 6 jam perhari. 

Buku ini mampu memotivasi pembaca untuk menyadari betapa pentingnya memiliki kebiasaan yang baik. Selain itu, isi buku ini juga menuntun pembaca untuk memikirkan ulang kebiasaannya, apakah kebiasaan itu akan dipertahankan ataukan dihancurkan untuk diganti dengan kebiasaan baru yang akan membuatnya lahir sebagai pribadi yang baru. 

Pilihan ada di tangan kita. Apakah kita akan mengendalikan kebiasaan kita ataukah pasrah dikendalikan oleh kebiasaan kita. Karena life is not fair! Orang kaya akan semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Kebiasaanlah yang menjadikan orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin.   

#motivasi

#ustadzfelix

#felixsiauw

#kebiasaanbaik

Sabtu, 04 Januari 2025

Belajar dari Kemangi


Foto di atas saya peroleh dari media sosial. Mengapa saya tertarik membagikan foto yang dicaption ini. Pertama saya tidak asing dengan tanaman kemangi. Tanaman perdu yang berdaun runcing dan beraroma khas. Tanaman ini diambil daunnya karena baunya yang sedap. Daun kemangi biasanya dikonsumsi dalam bentuk daun segar sebagai lalapan. Tetapi ada juga orang yang menyantap kemangi sebagai bagian dari olahan, misalnya dikukus dalam pepes ikan. Sebagai lalapan kemangi biasanya disajikan bersama timun dan kacang panjang mentah yang ranum.  

Sabtu, 31 Desember 2022

Sibang Kodir (1)

ASN di Jawa Timur, bersiaplah. Akan ada Sibang Kodir yang mengganggu tidurmu. Ha... Ha... Becandalah. Bercanda untuk mengganggu tidur tapi beneran untuk Sibang Kodirnya. Siapa dia Sibang Kodir? Sibang Kodir adalah singkatan dari aplikasi pengembangan kompetensi mandiri. Jadi si abang ini bukan orang tetapi sebuah aplikasi yang harus diaplikasikan oleh ASN di lingkungan wilayah propinsi Jawa Timur. Seperti apa aplikasi itu? Penasaran kan? Simak yuk. Berikut adalah hasil nggogling sana sini. Yah karena penasaran juga, penulisnya. 

Paling sering dilihat

Nah Kan! Ternyata Aku Salah Menilai Tubuhku

Salah satu masalah yang aku hadapi sebagai seorang penderita diabetes adalah  mengatasi rasa lapar.   Mungkin karena kebiasaan m...