Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Januari 2026

Kulkas Alam di Belakang Rumah

 


Pemandangan yang ada di foto dalam tulisan ini sangat mudah ditemui di wilayah pedesaan. Lahan yang cukup luas, dengan rumah tinggal menempati salah satu sudut halaman. Di sekitarnya tumbuh beberapa pohon produktif: mangga, rambutan, pepaya, atau sejenisnya. Bila empunya rumah gemar bunga, biasanya akan ada beberapa pot bunga yang tertata rapi.

Namun selebihnya, yang sering terlihat justru lahan kosong yang ditumbuhi ilalang dan tanaman liar yang tak terurus.


Pemandangan ini mengingatkanku pada puluhan tahun yang lalu. Saat itu, seorang rekan guru—seorang bapak yang hobi bertani—pernah berkata sambil bercanda, “Orang tinggal di desa tapi apa-apa beli, itu berarti orangnya kurang pinter.”

Karena nadanya bercanda, aku pun menanggapinya dengan bercanda pula. Waktu itu aku tidak terlalu memikirkannya. Hanya lewat begitu saja.


Nah, sekarang setelah waktu berlalu dan usia bertambah, aku baru benar-benar merasakan makna ucapan itu. Ketika kami mulai memanfaatkan sedikit lahan di sekitar rumah—menanam beberapa sayur, buah, rimpang, serta memelihara ayam—ternyata ungkapan teman waktu itu seratus persen benar.


Kami punya tanaman sawi, kangkung, terong, ketela pohon, pepaya, bayam, beluntas, dan masih banyak tanaman lainnya. Intinya sederhana: apa yang biasa kami konsumsi, kalau bisa ditanam, ya kami tanam.


Hasilnya luar biasa. Aku seperti punya kulkas alam. Penyimpan makanan yang selalu segar, selalu siap dipetik, dan yang paling penting bisa kami kendalikan sendiri penggunaan pupuk dan pestisidanya. Kami hanya memakai pupuk alami. Pestisidanya pun alami. Mungkin istilah kerennya sekarang adalah tanaman organik.


Misalnya begini. Sore hari tiba-tiba kehabisan sayur. Tidak perlu panik, tidak perlu ke warung. Tinggal ke kebun belakang. Cabut beberapa batang kangkung, lalu dibuat plecing. Atau tiba-tiba ingin sambal terong. Tinggal petik. Cabai ada, kemangi ada, terong ada. Mau membuat sup, seledri tinggal cabut. Semua tersedia.


Di titik inilah aku benar-benar merasakan bahwa kata-kata rekan guruku dulu terbukti benar.

Kami juga memelihara ayam. Awalnya bukan untuk dikembangkan menjadi peternakan, meskipun sebenarnya itu sangat memungkinkan dan pemikiran ke arah sana mulai berkembang. Mulanya sederhana saja. Ketika kami menyadari banyak sisa makanan dapur yang biasanya terbuang percuma, kami berpikir: bagaimana caranya agar sampah dapur ini tidak sia-sia?


Dari situ terpikirlah untuk memelihara ayam. Tidak banyak. Hanya beberapa ekor. Tapi itu sudah sangat membantu mengurangi sampah dapur. Sisa nasi, sayur, atau kulit-kulitan yang masih layak, habis oleh ayam. Siklus kecil pun terbentuk.


Dari pengalaman ini aku mulai memahami konsep yang sekarang disebut integrated farming atau pertanian terpadu. Tanaman, ternak, dan lingkungan saling terhubung. Sisa tanaman jadi pakan ternak. Kotoran ternak jadi pupuk. Hampir tidak ada yang terbuang. Menariknya, konsep ini sebenarnya bukan hal baru. Orang-orang desa zaman dulu sudah mempraktikkannya, hanya saja sekarang diberi nama yang terdengar modern dan keren.


Ada satu pernyataan dari seorang tokoh pertanian yang cukup mengusikku. Katanya, di Indonesia ini seolah-olah sengaja dibangun opini bahwa pertanian itu tidak menjanjikan. Pupuk mahal, upah mahal, hasil tidak sebanding. Lalu solusinya apa? Jual saja lahan pertanian, ganti dengan usaha lain yang lebih menguntungkan. Tentu saja ini opini yang menyesatkan. Menguntungkan para tengkulak dan pihak yang mengincar lahan untuk dijadikan tempat industri. Opini yang mereka bangun, membuat generasi muda enggan menjadi petani dan peternak. Siapa yang akan menopang pangan masyarakat Indonesia?


Padahal, kalau dilihat dari skala rumah tangga, terutama di desa, pertanian dapat dilakukan oleh siapa saja, baik skala kecil maupun skala besar. Bila dilakukan dalam skala rumah tangga, akan mengurangi biaya hidup, membuat lebih mandiri, dan memberi rasa aman pangan bagi keluarga.


Dari lahan kecil di sekitar rumah, aku belajar satu hal penting: hidup di desa seharusnya membuat hidup lebih sederhana, bukan lebih boros. Lebih mandiri, bukan lebih bergantung. Lahan bukan sekadar halaman kosong, tapi peluang yang sering kita abaikan.


Mungkin benar kata teman guruku dulu. Tinggal di desa tapi semua beli, itu memang sayang sekali. Bukan soal pintar atau tidak pintar. Tapi soal mau atau tidak mau memanfaatkan apa yang sudah disediakan alam dengan begitu murah hati.


Dan aku bersyukur, meski agak terlambat menyadarinya, kami akhirnya mulai melangkah. Dari lahan kecil, dari niat sederhana, menuju hidup yang lebih selaras dengan desa itu sendiri.

Selasa, 10 Juni 2025

Menjadi Indonesia: Belajar dari Suara dan Cerita


Banyak cara untuk belajar.
Banyak pula sumber belajar di sekitar kita yang bisa kita manfaatkan untuk meningkatkan kualitas diri, menambah pengetahuan, dan mengasah keterampilan. Dahulu, belajar identik dengan membaca—itulah sebabnya muncul istilah "kutu buku", sebutan bagi orang-orang yang gemar membaca.

Hingga kini, aktivitas membaca masih menjadi metode penting bagi siapa saja yang sedang menuntut ilmu, baik melalui buku fisik maupun e-book. Namun, membaca bukanlah satu-satunya cara untuk belajar.

Berdiskusi juga merupakan cara yang efektif. Bila membaca memberi kita informasi satu arah, maka dalam diskusi, kita menantang diri untuk mengonfirmasi pemahaman kita kepada orang lain. Dengan proses ini, secara tidak langsung, kita menguji apakah pemahaman kita sudah tepat atau masih perlu diluruskan.

Cara lain adalah menyimak percakapan orang lain.
Mendengarkan orang lain berbicara—meski tanpa keterlibatan langsung—bisa membuka wawasan baru. Menyimak podcast, misalnya, sering kali memperkaya perspektif kita dan bahkan meluruskan informasi yang keliru.

Baru-baru ini saya menyimak sebuah podcast yang menarik. Podcast ini merupakan program NU Online dengan tema besar “Menjadi Indonesia.” Dalam salah satu episodenya, dihadirkan seorang tokoh sejarah: JJ Rizal. Judul podcast tersebut cukup mencuri perhatian: “Kegagalan Pemuda Memungut Negara.” Durasinya hampir satu setengah jam. Anda bisa menyimaknya di Sini

Podcast ini adalah sumber belajar yang sangat menarik. Alih-alih membaca buku sejarah, kita justru memperoleh pengetahuan dari seorang ahli sejarah yang menyampaikannya dengan gaya santai dan jenaka—mudah dicerna dan menyenangkan. JJ Rizal memilih jurusan sejarah dengan penuh kesadaran dan berkomitmen penuh menjalani jalan itu.

Hal ini membuat saya tertarik. Sejak dulu, saya menganggap pelajaran sejarah membosankan—penuh hafalan tahun dan peristiwa yang menumpuk. Saya bahkan sempat frustrasi. Sejarah, bagi saya saat itu, tidak memiliki seni. Saya lebih menyukai matematika atau kimia, yang kaya simbol dan penuh tantangan. Mengerjakan soal-soal rumit terasa seperti bermain game yang mengasah logika.

Namun, podcast ini mengubah pandangan saya. Ternyata, sejarah bisa sangat keren. Mendengar kisah JJ Rizal seperti mendengar dongeng menjelang tidur dari nenek saat saya kecil—bedanya, ini cerita nyata. Saya pun menyimak dengan seksama, mengikuti alur ceritanya, agar memperoleh pemahaman utuh. Karena ini format video, saya bisa memutar ulang bagian-bagian tertentu sesuka hati.

Bagi guru sejarah, podcast seperti ini bisa menjadi media pembelajaran alternatif yang menarik. Bahkan, bukan hanya untuk guru sejarah—semua guru bisa memanfaatkan podcast sebagai media belajar yang efektif.

Isi podcast ini memungut kembali informasi-informasi yang sempat terlewat oleh saya.

Topiknya membahas perjalanan bangsa kita sejak akhir Orde Baru hingga masa Reformasi. Saat itu, saya berusia hampir 30 tahun. Masih muda—dibanding sekarang, tentu saja. Saya tinggal di desa dan mendapatkan informasi hanya dari TV nasional dan swasta—media yang kadang informasinya perlu dipertanyakan kebenarannya.

JJ Rizal menyampaikan kisah dari sudut pandangnya sebagai pelaku sejarah. Ia ikut terjun ke jalan, membacakan sajak sebagai pembuka ritual demonstrasi. Dari cerita-cerita itu, saya menyimpulkan bahwa suasana saat itu cukup mengerikan.

Mendengarkan podcast ini membuka cakrawala baru bagi saya. Sejarah yang dulu terasa membosankan, ternyata bisa hidup dan bermakna bila disampaikan dengan jujur, jenaka, dan penuh semangat. 

Dari cerita JJ Rizal saya belajar, bahwa memahami sejarah bukan sekadar menghafal tanggal dan peristiwa. Belajar sejarah menjadi harga mati kalau kita ingin kembali ke rumah besar kita, Indonesia. 

Semoga semakin banyak ruang belajar seperti ini—yang membumi, mencerahkan, dan menyentuh nurani.



Jumat, 25 April 2025

Mereka Diam, Saya Belajar

 

Saya berhadapan dengan lima cowok berusia belasan tahun. Mereka adalah murid-murid saya. Saat ini, mereka sedang mengikuti sesi penilaian untuk tugas proyek yang saya berikan beberapa waktu lalu. Tugasnya sebenarnya cukup sederhana: setiap kelompok diminta membuat dua video tentang komunikasi, yaitu komunikasi efektif dan komunikasi tidak efektif.

Itulah sebabnya saat ini kami berkumpul dalam satu forum. Saya sebagai penguji, dan mereka sebagai yang diuji.

Suasana penilaian terasa sangat berbeda dibandingkan suasana pembelajaran. Murid-murid yang biasanya celometan, kini jadi lebih tenang. Apalagi saat mereka mendapat pertanyaan yang dirasa sulit dan tak bisa mereka jawab—sikap urakan yang biasanya mereka tampilkan pun langsung lenyap.

Selama satu tahun terakhir, saya mulai menyadari bahwa penilaian dengan teknik wawancara seperti ini sangat diperlukan. Sebelumnya, saya melakukan penilaian seperti umumnya: menyusun soal, meminta mereka mengerjakan, lalu mengoreksi. Cara itu memang simpel. Saya bisa mendapatkan nilai dengan cepat. Tapi, saya tidak tahu seperti apa performa mereka secara langsung, dan sering kali nilai yang mereka peroleh tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya.

Dengan metode penilaian saat ini, saya bisa menyaksikan penampilan mereka secara utuh: kemampuan menyampaikan gagasan, keberanian, kreativitas, dan kemampuan bernalar kritis.

Selain pertanyaan yang telah saya siapkan, saat menghadapi siswa dengan motivasi belajar yang rendah, saya sering tergelitik untuk menanyakan tujuan mereka setelah lulus sekolah. Sebagian menjawab ingin langsung bekerja, sebagian kecil menyatakan ingin kuliah. Namun, ketika saya tanya pekerjaan seperti apa yang mereka inginkan, jawaban mereka mulai "ngaco"—asal jawab. Mereka tampak bingung dan tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.

Hal ini berbeda dengan siswa yang antusias dalam kegiatan pembelajaran. Mereka cenderung sudah memiliki jawaban yang menggambarkan arah hidup mereka. Misalnya, ingin bekerja di KAI, di perusahaan tambang, atau melanjutkan kuliah dengan jurusan tertentu.

Dari sini saya menyadari bahwa sebagian besar siswa belum memiliki tujuan yang jelas. Mereka tidak bisa menggambarkan ke mana mereka ingin melangkah dalam lima tahun ke depan. Saya rasa, hal ini berimbas terhadap motivasi belajar mereka.

Sebagai guru saya yakin bahwa tugas saya bukan hanya sekedar menyampaikan materi, membuat rencana pelajaran dan melakukan penilaian tetapi juga membantu mengenali diri dan arah hidup mereka. Dan penilaian bukan hanya sekedar angka yang tidak bisa berbicara. Penilaian menjadi cermin untuk melihat lebih dalam kesiapan mereka dalam menghadapi hidup.


Kamis, 10 April 2025

Mahalnya Syukur


Siang ini saya mendapati sebuah video  pendek melalui media sosial. Tentang penjual roti, pembeli dan orang yang membutuhkan bantuan (maaf: miskin). Dikisahkan dalam video tersebut seseorang membeli roti di sebuah kedai roti. Ia membeli 4 roti tapi membayarnya lebih, cukup untuk membeli 8 roti. Awalnya si pembeli ini hanya menyerahkan uang tanpa bertanya lebih dahulu berapa jumlah yang harus ia bayar. Si penjual awalnya juga tidak menyadari bahwa uang yang diberikan terlalu banyak. Begitu ia menyadari uang yang diterima terlalu banyak, ia memanggil si pembeli dan menyampaikan bahwa uangnya lebih. Dengan jumlah itu seharusnya ia mengambil 8 roti. Kemudian si penjual mengingatkan pembeli bahwa uang yang dibayarkan terlalu banyak. Tetapi pembeli mengikhlaskan dan meminta agar penjual menyimpannya di keranjang untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. 

Beberapa saat kemudian datanglah orang miskin yang menginginkan roti tetapi tidak mampu membayar. Penjual memberikan 4 roti dengan cuma-cuma. Si miskin ketika menyadari roti yang diberikan terlalu banyak minta agar rotinya dikurangi, diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. 

Video ini cukup menyentuh dan memberikan pelajaran yang sangat berharga. Tak berlebihan ketika diberi caption: orang kaya tidak pelit, orang miskin tidak tamak dan penjual jujur. Video tersebut melibatkan tiga tokoh yang mewakili tiga kelompok sosial. 

Tokoh pertama adalah orang kaya yang berperan sebagai pembeli. Orang kaya memiliki harta berlebih. Hartanya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Tetapi dia tidak mengambil secukupnya. Selebihnya ia bagikan kepada orang yang membutuhkan. Padahal secara naluri, manusia itu tidak pernah puas. Manusia akan cenderung memanfaatkan melebihi kebutuhan. Menumpuk harta untuk diwariskan pada keturunannya. Kalau bisa semua keturunannya tidak kekurangan harta. Tapi dalam video tersebut, orang kaya cukup memanfaatkan apa yang dibutuhkan saja. Ia tidak pelit, mempersilahkan orang lain memanfaatkan sebagian hartanya  karena ia sadar bahwa hartanya adalah titipan. Ada hak orang miskin yang dititipkan padanya. 

Tokoh kedua adalah orang miskin. Karena kemiskinannya ia mengharapkan belas kasihan. Ia meminta secukupnya saja meski dia mempunyai kesempatan untuk mendapatkan lebih. Ia sadar masih banyak orang yang seperti dirinya, tidak beruntung dan membutuhkan bantuan juga. Maka ia tidak tamak, tidak aji mumpung, tidak mengeksploitasi kemiskinannya. 

Dan tokoh ketika adalah penjual yang amanah. Dia adalah perantara yang menghubungkan antara si kaya dan si miskin. Di posisinya, ia bisa saja nilep  harta yang dititipkan oleh si kaya. Toh  tidak ada manusia yang tahu. Tetapi ia sadar bahwa statusnya hanya perantara, bukan pemilik. Ia sadar bahwa ia sudah mendapatkan bagian dari transaksi ini. Ia mendapatkan keuntungan dari menjual roti. Itu jatahnya dan ia merasa cukup dengan apa yang ia terima. 

Alangkah indahnya bila masing-masing sadar diri dan menempatkan diri sesuai posisinya. Kalaulah dunia ini panggung sandiwara, setiap manusia adalah pemeran. Masing-masing mendapatkan peran dan harus memainkan peran sesuai skenario. Mereka adalah tokoh yang memainkan perannya dengan baik.  

Bagaimana dengan kita, saya? Anda?  


Link Video: bisa klik di sini   


Sabtu, 05 April 2025

Masih tentang Habits: Sepuluh Fakta yang Saya Pahami

Masih berbicara tentang habits atau kebiasaan. Saya masih belum ingin move on dari topik ini. Kali ini, saya ingin menuliskan pemahaman saya tentang habits berdasarkan apa yang saya baca, renungkan, dan alami sendiri. Tulisan ini juga terinspirasi dari buku How to Create Your Habits karya Ustadz Felix.

Ada sepuluh fakta tentang habits yang saya pahami. Anda mungkin punya pandangan atau tambahan lain—silakan tulis di kolom komentar, saya senang bisa belajar dari pengalaman Anda juga.

Berikut sepuluh fakta tersebut:

  1. Semua orang memiliki habits.

  2. Habits terbentuk karena latihan dan pengulangan.

  3. Habits ada dua jenis: baik dan buruk.

  4. Habits bisa terbentuk karena keinginan maupun karena kondisi yang tidak diinginkan.

  5. Habits bisa dibentuk secara sadar sesuai keinginan.

  6. Habits akan menuntun dan menarik kita menuju keberhasilan atau justru kegagalan.

  7. Untuk membentuk habits baru yang diinginkan dibutuhkan energi yang besar.

  8. Habits membuat seseorang menjadi ahli.

  9. Untuk membentuk suatu habit, dibutuhkan pengulangan minimal 30 hari.

  10. Jika habit sudah terbentuk, seseorang melakukannya tanpa berpikir.

Mari kita kupas satu per satu:

Fakta pertama: Semua orang memiliki habits

Ya, semua orang memiliki kebiasaan yang melekat pada dirinya. Bahkan, kadang seseorang dikenal justru karena kebiasaannya. Pernah kan mendengar orang berkata, "Dia itu suka bercanda, apa-apa dibecandain," atau, "Semua orang tahu dia sangat disiplin." Ungkapan seperti itu mencerminkan kebiasaan yang melekat pada seseorang dan menjadi ciri khas dirinya. Maka, bahwa setiap orang punya kebiasaan adalah fakta yang tak terbantahkan.

Fakta kedua: Habits terbentuk karena latihan dan pengulangan

Latihan terjadi di awal sebelum kebiasaan terbentuk. Misalnya, belajar satu jam setiap hari—saat pertama kali dilakukan, itu disebut latihan. Main gim pertama kali juga latihan. Semua hal yang dilakukan untuk pertama kali, sadar atau tidak, saya sebut latihan.

Nah, bila tindakan itu diulangi lagi dan lagi, itu menjadi pengulangan. Perbedaannya adalah saat pertama kali, kita melakukannya dengan sadar dan hati-hati. Tapi setelah berulang kali, kita melakukannya secara otomatis.

Fakta ketiga: Ada dua jenis habits—baik dan buruk

Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan: ada baik, ada buruk. Demikian pula kebiasaan. Kebiasaan buruk, misalnya berkata kotor, buang sampah sembarangan, atau berbicara dengan volume keras. Sedangkan kebiasaan baik misalnya menepati janji, datang tepat waktu, dan mendengarkan orang lain dengan saksama.

Coba tuliskan 10 kebiasaan Anda sendiri, lalu kelompokkan mana yang termasuk kebiasaan baik dan mana yang perlu Anda perbaiki.

Fakta keempat: Habits bisa terbentuk karena keinginan maupun tidak

Saya teringat pada sebuah video motivasi. Ada dua kakak beradik dari keluarga miskin. Mereka hanya memiliki satu pasang sepatu, dipakai bergantian untuk sekolah. Karena beda shift, mereka bisa saling bergantian—tapi harus berlari agar tidak terlambat.

Kebiasaan berlari ke sekolah itu bukan hal yang mereka inginkan, tapi terpaksa dilakukan karena kondisi. Lama-lama, itu menjadi kebiasaan. Ini contoh habit yang terbentuk bukan karena keinginan, melainkan keadaan.

Sebaliknya, ada pula habit yang dibentuk secara sadar. Misalnya seseorang yang mulai makan buah setiap hari karena ingin hidup lebih sehat. Ia membeli buah secara rutin, menyimpannya di kulkas, dan memakannya sebelum sarapan. Awalnya ini butuh usaha. Tapi dengan pengulangan, lama-lama menjadi kebiasaan.

Fakta kelima lanjut ke postingan berikutnya ya. Untuk lanjut ke fakta selanjutnya klik di sini 

Sabtu, 04 Januari 2025

Belajar dari Kemangi


Foto di atas saya peroleh dari media sosial. Mengapa saya tertarik membagikan foto yang dicaption ini. Pertama saya tidak asing dengan tanaman kemangi. Tanaman perdu yang berdaun runcing dan beraroma khas. Tanaman ini diambil daunnya karena baunya yang sedap. Daun kemangi biasanya dikonsumsi dalam bentuk daun segar sebagai lalapan. Tetapi ada juga orang yang menyantap kemangi sebagai bagian dari olahan, misalnya dikukus dalam pepes ikan. Sebagai lalapan kemangi biasanya disajikan bersama timun dan kacang panjang mentah yang ranum.  

Sabtu, 31 Desember 2022

Sibang Kodir (1)

ASN di Jawa Timur, bersiaplah. Akan ada Sibang Kodir yang mengganggu tidurmu. Ha... Ha... Becandalah. Bercanda untuk mengganggu tidur tapi beneran untuk Sibang Kodirnya. Siapa dia Sibang Kodir? Sibang Kodir adalah singkatan dari aplikasi pengembangan kompetensi mandiri. Jadi si abang ini bukan orang tetapi sebuah aplikasi yang harus diaplikasikan oleh ASN di lingkungan wilayah propinsi Jawa Timur. Seperti apa aplikasi itu? Penasaran kan? Simak yuk. Berikut adalah hasil nggogling sana sini. Yah karena penasaran juga, penulisnya. 

Paling sering dilihat

Nah Kan! Ternyata Aku Salah Menilai Tubuhku

Salah satu masalah yang aku hadapi sebagai seorang penderita diabetes adalah  mengatasi rasa lapar.   Mungkin karena kebiasaan m...