Minggu, 01 Februari 2026

Sakit Meredukpan Akal, Islam Menjaganya

 

Suatu ketika aku pernah duduk dalam sebuah majelis ilmu tentang ketakmiran dan wakaf.
Majelis itu mengkaji syarat dan rukun wakaf, sekaligus membahas bagaimana mengelola masjid dengan baik. Dalam salah satu pembahasannya, ustadz menjelaskan tentang syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang hendak berwakaf, atau disebut wakif.


Disebutkan bahwa seorang wakif haruslah orang yang merdeka, berakal, tidak pikun, dan tidak berada dalam kondisi sakit parah.


Di titik ini, aku menggarisbawahi satu syarat yang sebelumnya terasa biasa saja: sehat.
Baru ketika aku berada dalam kondisi sakit, aku benar-benar memahami mengapa sehat menjadi syarat bagi seorang wakif.

Orang sakit itu kehilangan sebagian kejernihan akalnya. Rasa nyeri memecah konsentrasi dan membuat pikiran sulit bekerja secara utuh. Dalam keadaan seperti itu, seseorang cenderung menyerahkan banyak urusan kepada orang lain—keluarga, kerabat, atau orang yang ia percayai.

Logis. Dan Islam mengaturnya sedetail itu. Masyaallah.

Untuk urusan-urusan penting, mengambil keputusan saat sakit memang sebaiknya dihindari. Rasa sakit dapat memengaruhi kevalidan keputusan yang dibuat. Sakit bukan hanya melemahkan tubuh, tetapi juga meredupkan kejernihan berpikir.

Dalam kondisi sakit, seseorang mudah lelah, mudah pasrah, dan cenderung mengiyakan apa pun yang disodorkan kepadanya. Ini bukan karena ia bodoh, melainkan karena pikirannya sedang sibuk bertahan dari rasa nyeri.

Saat berada di ruang tunggu rumah sakit, aku melihat betapa banyak keputusan penting akhirnya diwakilkan. Tanda tangan, persetujuan, bahkan pilihan-pilihan hidup sering kali berpindah tangan. Di situlah aku memahami: Islam bukan melarang orang sakit berbuat baik, tetapi justru melindungi mereka dari keputusan yang bisa disesali ketika sehat kembali.

Dari sini aku menarik beberapa pelajaran.

Pertama, dalam bersedekah dan berwakaf—melepaskan sebagian harta kepemilikan (yang hakikatnya hanyalah titipan)—tidak boleh ada paksaan atau tekanan. Islam memberi kebebasan penuh kepada manusia untuk memilih. Islam menjunjung tinggi kemanusiaan dan memperlakukan manusia sebagai makhluk yang berpikir dan merdeka dalam mengambil keputusan.

Kedua, sakit adalah keadaan yang pasti dialami setiap manusia. Ia seperti posisi off—jeda, rehat. Dalam kondisi ini, jangan memaksakan diri mengambil keputusan penting. Beri kesempatan kepada orang-orang yang mampu untuk mengambil alih tugas kita. Di sinilah pentingnya muamalah: menjalin hubungan baik, berbagi peran, dan mentransfer pengetahuan. Kita bukan manusia tanpa cela. Jangan meremehkan anak, pasangan, atau rekan kerja. Barangkali merekalah yang kelak mengambil keputusan saat kita harus berhenti sejenak.

Ketiga, sehat adalah nikmat yang sering baru disadari ketika sakit datang. Sehat adalah amanah—amanah untuk berpikir jernih, mengambil keputusan dengan sadar, dan menata urusan penting tanpa tekanan rasa nyeri.

Maka jika hari ini kita diberi sehat, barangkali yang paling bijak adalah tidak lengah. Saat akal masih jernih, jadilah manusia yang berakal dan waras. Siapkan keputusan-keputusan besar sejak sekarang, agar ketika tubuh melemah, hati dan pikiran tidak ikut goyah.

Sabtu, 24 Januari 2026

Curhat Dari Dua Sisi: Yang bercerita dan Yang Mendengarkan

Pernah curhat atau dicurhati seseorang? Pernah dong. Curhat, ngobrol, atau wadul adalah bagian dari interaksi sosial yang menghubungkan kita dengan orang lain. Ketika emosi menumpuk terlalu lama—dada terasa sesak, kepala pusing, dan bawaannya ingin marah—kita butuh cara untuk melegakannya. Salah satunya ya dengan curhat. Menyampaikan uneg-uneg yang membuat dada sesak kepada orang lain.

Pun begitu dengan orang lain. Ketika mereka menceritakan isi hatinya kepada kita, bisa jadi itu karena mereka ingin mengurangi beban hidupnya. Ingin didengar. Ingin merasa tidak sendirian.

Jadi, tidak ada yang salah dengan curhat. Tapi… curhat juga bisa bikin masalah.
Curhat yang bagaimana sih yang justru memicu konflik sosial?

Bila Anda berada di posisi orang yang curhat, perhatikan  beberapa fakta tentang curhat yang berpotensi bikin masalah. Tiga fakta penting curhat yang berpotensi menimbulkan masalah

1. Curhat yang Berlebihan

Semua dicurhatin. Apa pun diceritakan. Orang yang sedang curhat itu ibarat sedang membuka celah agar orang lain agar bisa melihat dirinya lebih dalam. Dengan menyampaikan segala hal tentang dirinya, sama saja dengan mengajak orang lain menjelajahi hidupnya—tanpa batas.

Masalahnya, membuka celah terlalu besar itu berbahaya ke depannya. Hubungan antar manusia tidak selalu baik-baik saja. Hari ini teman, besok bisa saja jadi orang yang paling berseberangan. Saat terjadi kesalahpahaman atau perselisihan, apa yang dulu kita ceritakan dengan polos bisa berubah menjadi senjata yang menikam diri sendiri.

Tidak semua cerita harus dibagi. Tidak semua luka harus diperlihatkan.

2. Salah Memilih Tempat Curhat

Faktanya, tidak semua orang bisa menjaga rahasia. Salah memilih tempat curhat bisa menjadi bumerang. Curhatan yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi komoditas.

Dalam obrolan yang lain, aib orang bisa menjadi bahan candaan. Cerita yang awalnya serius berubah menjadi gosip. Maka, memilih kepada siapa kita curhat itu penting. Jangan curhat kepada orang yang tidak bisa menjaga rahasia, yang suka ngoceh ke sana kemari, dan menjadikan cerita orang lain sebagai hiburan.

Curhat butuh kepercayaan. Dan kepercayaan itu mahal.

3. Tidak Melihat Kondisi Orang yang Dicurhati

Setiap orang punya masalah. Curhat sejatinya adalah membagi beban kepada orang lain. Maka, ketika kita berada di posisi orang yang curhat, ada baiknya kita juga melihat kondisi orang yang akan kita jadikan tempat bersandar.

Apakah dia sedang lelah? Apakah dia sedang memikul beban yang lebih berat dari kita? Jangan sampai niat kita meringankan diri justru menambah beban orang lain.


Lalu, bagaimana dari sudut pandang orang yang dicurhati? 

Bila Anda dijadikan tempat curhat, Anda perlu mengenal tipe orang yang curhat.  Setidaknya ada tiga tipe orang yang curhat kepada Anda.

Pertama, Curhat untuk Mencari Solusi

Tipe ini curhat karena memang butuh bantuan. Dia bingung, mentok, dan berharap orang yang dicurhati bisa memberikan saran atau sudut pandang lain untuk menyelesaikan masalahnya.

Menghadapi tipe ini, kita perlu mendengarkan dengan serius dan menanggapi dengan bijak. Bukan menghakimi, tapi membantu berpikir jernih. Bila Anda dicurhati seseorang berarti orang tersebut percaya kepada Anda. Berikan bantuan semampu Anda. Berikan pendapat sesuai kompetensi yang Anda miliki. Bila tidak paham dengan masalah yang dihadapi sebaiknya rekomendasikan untuk berkonsultasi kepada ahlinya. 

Kedua, Curhat yang Hanya Ingin Didengar

Ada juga orang yang curhat hanya ingin meminjam telinga kita. Dia sebenarnya sudah punya solusi. Hanya saja, dia butuh ruang untuk menumpahkan isi hati agar emosinya lebih stabil. Bisa jadi dia curhat untuk sekedar mendapat respon positif dari Anda. 

Untuk tipe ini, sering kali nasihat tidak terlalu dibutuhkan. Cukup dengarkan. Kadang kehadiran yang tenang jauh lebih menolong daripada seribu saran.

Ketiga, Curhat untuk Pamer

Nah, yang ini agak berbeda. Curhat tapi ujung-ujungnya pamer. Masalahnya dibungkus rapi agar terlihat sebagai pencapaian. Bukan mencari solusi, bukan juga ingin didengar, tapi ingin diakui. Menghadapi tipe ini, Anda tidak perlu merespon berlebihan. Bila Anda merasa tidak nyaman dan tidak ingin dia kembali lagi untuk mengganggu waktu Anda, respon saja dengan datar. 

Intinya bila kita dijadikan tempat curhat, kita harus bijaksana. Tidak semua curhatan harus direspon dengan empati yang mendalam. Dengarkan setelah itu lupakan. Jangan ambil beban orang lain menjadi beban diri sendiri. Karena hidup harus tetap berjalan di rel masing-masing. 


Pada akhirnya, curhat adalah soal keseimbangan.
Keseimbangan dalam berbicara dan mendengarkan.
Keseimbangan dalam membuka diri dan menjaga batas.

Curhat yang sehat bisa menguatkan hubungan.
Curhat yang berlebihan justru bisa memantik konflik sosial.

Yang perlu kita latih bukan hanya keberanian untuk curhat, tapi juga kebijaksanaan—kapan, kepada siapa, dan sejauh mana kita berbagi cerita


    

Rabu, 21 Januari 2026

Kulkas Alam di Belakang Rumah

 


Pemandangan yang ada di foto dalam tulisan ini sangat mudah ditemui di wilayah pedesaan. Lahan yang cukup luas, dengan rumah tinggal menempati salah satu sudut halaman. Di sekitarnya tumbuh beberapa pohon produktif: mangga, rambutan, pepaya, atau sejenisnya. Bila empunya rumah gemar bunga, biasanya akan ada beberapa pot bunga yang tertata rapi.

Namun selebihnya, yang sering terlihat justru lahan kosong yang ditumbuhi ilalang dan tanaman liar yang tak terurus.


Pemandangan ini mengingatkanku pada puluhan tahun yang lalu. Saat itu, seorang rekan guru—seorang bapak yang hobi bertani—pernah berkata sambil bercanda, “Orang tinggal di desa tapi apa-apa beli, itu berarti orangnya kurang pinter.”

Karena nadanya bercanda, aku pun menanggapinya dengan bercanda pula. Waktu itu aku tidak terlalu memikirkannya. Hanya lewat begitu saja.


Nah, sekarang setelah waktu berlalu dan usia bertambah, aku baru benar-benar merasakan makna ucapan itu. Ketika kami mulai memanfaatkan sedikit lahan di sekitar rumah—menanam beberapa sayur, buah, rimpang, serta memelihara ayam—ternyata ungkapan teman waktu itu seratus persen benar.


Kami punya tanaman sawi, kangkung, terong, ketela pohon, pepaya, bayam, beluntas, dan masih banyak tanaman lainnya. Intinya sederhana: apa yang biasa kami konsumsi, kalau bisa ditanam, ya kami tanam.


Hasilnya luar biasa. Aku seperti punya kulkas alam. Penyimpan makanan yang selalu segar, selalu siap dipetik, dan yang paling penting bisa kami kendalikan sendiri penggunaan pupuk dan pestisidanya. Kami hanya memakai pupuk alami. Pestisidanya pun alami. Mungkin istilah kerennya sekarang adalah tanaman organik.


Misalnya begini. Sore hari tiba-tiba kehabisan sayur. Tidak perlu panik, tidak perlu ke warung. Tinggal ke kebun belakang. Cabut beberapa batang kangkung, lalu dibuat plecing. Atau tiba-tiba ingin sambal terong. Tinggal petik. Cabai ada, kemangi ada, terong ada. Mau membuat sup, seledri tinggal cabut. Semua tersedia.


Di titik inilah aku benar-benar merasakan bahwa kata-kata rekan guruku dulu terbukti benar.

Kami juga memelihara ayam. Awalnya bukan untuk dikembangkan menjadi peternakan, meskipun sebenarnya itu sangat memungkinkan dan pemikiran ke arah sana mulai berkembang. Mulanya sederhana saja. Ketika kami menyadari banyak sisa makanan dapur yang biasanya terbuang percuma, kami berpikir: bagaimana caranya agar sampah dapur ini tidak sia-sia?


Dari situ terpikirlah untuk memelihara ayam. Tidak banyak. Hanya beberapa ekor. Tapi itu sudah sangat membantu mengurangi sampah dapur. Sisa nasi, sayur, atau kulit-kulitan yang masih layak, habis oleh ayam. Siklus kecil pun terbentuk.


Dari pengalaman ini aku mulai memahami konsep yang sekarang disebut integrated farming atau pertanian terpadu. Tanaman, ternak, dan lingkungan saling terhubung. Sisa tanaman jadi pakan ternak. Kotoran ternak jadi pupuk. Hampir tidak ada yang terbuang. Menariknya, konsep ini sebenarnya bukan hal baru. Orang-orang desa zaman dulu sudah mempraktikkannya, hanya saja sekarang diberi nama yang terdengar modern dan keren.


Ada satu pernyataan dari seorang tokoh pertanian yang cukup mengusikku. Katanya, di Indonesia ini seolah-olah sengaja dibangun opini bahwa pertanian itu tidak menjanjikan. Pupuk mahal, upah mahal, hasil tidak sebanding. Lalu solusinya apa? Jual saja lahan pertanian, ganti dengan usaha lain yang lebih menguntungkan. Tentu saja ini opini yang menyesatkan. Menguntungkan para tengkulak dan pihak yang mengincar lahan untuk dijadikan tempat industri. Opini yang mereka bangun, membuat generasi muda enggan menjadi petani dan peternak. Siapa yang akan menopang pangan masyarakat Indonesia?


Padahal, kalau dilihat dari skala rumah tangga, terutama di desa, pertanian dapat dilakukan oleh siapa saja, baik skala kecil maupun skala besar. Bila dilakukan dalam skala rumah tangga, akan mengurangi biaya hidup, membuat lebih mandiri, dan memberi rasa aman pangan bagi keluarga.


Dari lahan kecil di sekitar rumah, aku belajar satu hal penting: hidup di desa seharusnya membuat hidup lebih sederhana, bukan lebih boros. Lebih mandiri, bukan lebih bergantung. Lahan bukan sekadar halaman kosong, tapi peluang yang sering kita abaikan.


Mungkin benar kata teman guruku dulu. Tinggal di desa tapi semua beli, itu memang sayang sekali. Bukan soal pintar atau tidak pintar. Tapi soal mau atau tidak mau memanfaatkan apa yang sudah disediakan alam dengan begitu murah hati.


Dan aku bersyukur, meski agak terlambat menyadarinya, kami akhirnya mulai melangkah. Dari lahan kecil, dari niat sederhana, menuju hidup yang lebih selaras dengan desa itu sendiri.

Rabu, 14 Januari 2026

Sebelum Menuntut Diharga, Lihat Cara Kita Menghargai Diri Sendiri


Suatu ketika, di sebuah ruang, diadakan rapat dinas oleh kepala sekolah. Undangan rapat disampaikan melalui grup info sekolah yang tertutup. Grup ini bukan ruang obrolan bebas. Hanya tim manajemen yang bisa menuliskan pesan. Artinya, setiap informasi yang masuk adalah informasi penting. Bukan untuk diabaikan, apalagi dianggap sepele. Semua guru dan karyawan seharusnya mencermati dan menindaklanjutinya dengan penuh tanggung jawab.

Siang itu, rapat dimulai seperti biasa. Namun ada pemandangan yang berulang: kursi-kursi di bagian depan ruangan kosong, sepi, jarang penghuninya. Padahal di setiap meja sudah tersedia kotak kue dan minuman. Fasilitasnya sama. Tidak ada yang dibedakan.

Beberapa kali wakil kepala sekolah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan rapat mengingatkan bapak ibu guru agar mengisi bangku kosong di depan. Namun entah mengapa, kursi belakang selalu menjadi kursi favorit. Padahal, secara logika sederhana, kualitas suara tentu lebih jelas jika duduk di depan. Wajah pimpinan terlihat, materi terserap lebih utuh, suasana rapat pun terasa lebih hidup.

Karena berkali-kali diingatkan namun diabaikan, akhirnya kepala sekolah berdiri. Beliau menghampiri guru dan karyawan yang duduk di belakang. Sambil memegang mikrofon, beliau berkata dengan nada tenang namun tegas:

“Saya menghargai bapak ibu itu semua sama. Tetapi rupanya bapak ibu sendiri yang memilih menghargai diri sendiri lebih rendah dari yang seharusnya.”

Kalimat itu terasa tajam. Sedikit pedas. Tapi jujur. Dan justru karena itulah ia mengena. Tidak sedang menyalahkan, tapi menyodorkan cermin.

Sering kali, dalam kehidupan nyata, kita ingin dihargai. Ingin diperlakukan dengan baik. Ingin didengar, dianggap, dan diperhitungkan. Namun tanpa sadar, sikap kita sendiri justru berkata sebaliknya. Cara kita datang, cara kita duduk, cara kita merespons, bahkan cara kita menempatkan diri—semua itu mengirimkan pesan.

Duduk di belakang mungkin terasa nyaman. Tidak terlalu terlihat. Tidak terlalu terlibat. Tapi dalam forum resmi, sikap seperti itu bisa dibaca sebagai jarak. Seolah berkata, “Saya ada, tapi setengah hati.” Dan dunia, termasuk orang-orang di dalamnya, sangat jujur dalam merespons sikap semacam itu.

Bagaimana orang memperlakukan kita, sering kali adalah pantulan dari bagaimana kita memperlakukan diri sendiri. Jika kita menempatkan diri sekadar sebagai pelengkap, jangan heran jika kemudian dianggap tidak penting. Jika kita hadir tanpa kesungguhan, jangan kecewa jika perhatian juga setengah-setengah.

Menghargai diri bukan soal meminta perlakuan istimewa. Tapi soal keberanian mengambil posisi yang pantas. Duduk di depan. Siap terlihat. Siap mendengar. Siap terlibat. Dan siap bertanggung jawab atas peran yang kita emban.

Rapat dinas siang itu memberi pelajaran sederhana namun dalam: sebelum menuntut penghargaan dari orang lain, pastikan kita sudah menghargai diri sendiri dengan sikap yang tepat.

Karena pada akhirnya, sikap tidak pernah bohong. Ia selalu bicara lebih nyaring daripada kata-kata.


Minggu, 11 Januari 2026

Bertahan di Posisi yang Allah Titipkan




Zaman sekarang mencari pekerjaan itu sulit. Bagi yang tidak tahu caranya. Tidak tahu ilmunya.
Sebaliknya, bagi mereka yang sudah menguasai ilmunya, jangankan mencari pekerjaan, untuk menciptakan lapangan kerja saja terasa lebih mudah.

Ada orang yang sudah melamar pekerjaan ke sana ke mari tapi belum juga dapat.
Ada yang sudah mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak bisa bertahan lama.
Ada orang yang mati-matian membangun usaha, rugi melulu.
Ada pula yang awalnya hanya iseng, eh malah jadi usahanya, bahkan sampai kaya raya.

Lalu apa sebenarnya rahasianya?

Tentu saja, hanya Allah yang Maha Tahu.
Tugas manusia hanyalah terus mencari ilmu dan berusaha.

Beberapa waktu ini saya mendengar cerita dari seseorang yang sudah lama berkecimpung di bidangnya. Ia bercerita tentang satu hal penting: bagaimana caranya agar orang yang sudah mendapatkan pekerjaan bisa bertahan di posisinya.
Nasehatnya sederhana, tapi kalau dipikir-pikir, dalam sekali.

Begini nasehatnya.

Pertama, kamu harus bisa dipercaya.
Orang yang bisa dipercaya adalah orang yang jujur.
Jujur dalam perkataan, jujur dalam perbuatan, jujur dalam tindakan.
Sepertinya kejujuran adalah harga mati bagi siapa pun yang ingin dipercaya orang lain. Dan sering kali, kejujuran inilah yang justru menyelamatkan kita dari putusnya hubungan kerja, bahkan hubungan antar sesama manusia.

Kedua, kualitas di atas pencitraan.
Maksudnya gimana?

Bekerjalah, dan tunjukkan kualitasmu.
Kualitas yang benar-benar ya, bukan sekadar kelihatannya berkualitas.

Hasil kerja yang berkualitas hanya bisa dihasilkan oleh orang yang berkualitas.
Ciri orang yang berkualitas adalah tidak asal-asalan dalam bekerja.
Dipikirkan dulu apa alasannya, apa dampaknya, dan apa yang harus dilakukan jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Jangan berusaha tampil baik tapi sebetulnya tidak.
Jangan mengejar terlihat berkualitas, padahal isinya kosong.

Ketiga, menghargai waktu.
Datang tepat waktu adalah salah satu indikator bahwa kamu menghargai waktu.
Bukan hanya menghargai waktumu sendiri, tapi juga waktu orang lain.

Seorang penjual yang membuka toko tepat waktu, misalnya, berarti ia menghargai waktu pembeli. Pembeli pun bisa mengatur waktunya untuk pekerjaan lain.

Menepati janji adalah bagian penting dari menghargai waktu.
Janji bukan sekadar ucapan. Janji adalah komitmen.
Sekali kita mudah mengingkari janji, kepercayaan orang lain pelan-pelan akan hilang.
Sebaliknya, orang yang menepati janji, meski pada hal-hal kecil, akan dikenang sebagai pribadi yang bisa diandalkan. Dan di dunia kerja, orang yang bisa diandalkan adalah aset.

Bertahan di sebuah posisi ternyata bukan soal siapa yang paling pintar, paling terlihat sibuk, atau paling pandai bicara.
Sering kali, yang bertahan adalah mereka yang konsisten menjaga hal-hal dasar: kejujuran, kualitas, dan kedisiplinan terhadap waktu serta janji.

Mungkin nasihat ini terdengar sederhana. Tapi justru yang sederhana inilah yang sering kita abaikan.
Padahal, bisa jadi di situlah letak kuncinya.
Bertahan, dipercaya, dan pelan-pelan bertumbuh… di posisi yang sudah Allah titipkan pada kita hari ini.




Paling sering dilihat

Sakit Meredukpan Akal, Islam Menjaganya

  Suatu ketika aku pernah duduk dalam sebuah majelis ilmu tentang ketakmiran dan wakaf. Majelis itu mengkaji syarat dan rukun wakaf, sekali...