Senin, 18 Februari 2019

Mengenal Tahap Penulisan Karya Ilmiah


Bismillahirrohmanirrohiim, 
Minggu ini saya membaca buku berjudul Menulis Karya Ilmiah. He... he... sengaja saya memilih bacaan yang agak serius, karena merasa penasaran. Bagaimana sih menulis artikel populer serupa esay, opini, feature dan lain sebagainya.

Isi buku ini sangat teoritis dan membuat otak gampang lelah. Tapi karena menurut saya penting, maka saya bertahan. Ibarat naik sepeda motor, saya berjalan dengan kecepatan sedang. Masalahnya  karena "pemantiknya" tidak ada dan saya harus membuat beberapa catatan penting. Untuk yang terakhir ini, buku sudah berubah jadi ndrembel oleh kertas post it

Jumat, 15 Februari 2019

Melawan Malas



Bismillahirrohmanirrohiim, 
Hari ini, karena tugas mengajar saya jam ke 5-6, dan itu dimulai jam 10.00, maka selama kurang lebih 3 jam saya berkesempatan menikmati rumpian beberapa orang di ruang guru. 

Tabiat setiap manusia, saya rasa, bila bertemu dengan temannya akan termotivasi untuk mengobrol. Ada saja topiknya. Mulai dari topik ringan sampai topik berat serupa politik. Lebih sering, obrolan itu mengarah ke dalam ghibah atau menggunjing. 

Kamis, 14 Februari 2019

Senangnya


Bismillahirrohmanirrohiim,
Hari ini ada warna lain yang indah. Say merasakannya keindahannya itu sampai ke tulang sumsum. Cie...

Pasalnya, pagi-pagi saya mendapat berita tentang tulisan saya yang dimuat di salah satu media. Ketika bergabung dengan grup OTM dan mendapat provokasi dari para suhu, saya memang agak gerah. La gimana  setiap hari dikomporin untuk mengirimkan tulisan di media. Ya karena memang itulah target grup ini, tembus media

Bagi para suhu, mastah atau sebutan lain untuk orang pinter, menulis, mengirimkan tulisan ke media kemudian dimuat itu sudah biasa. Tapi orang yang sedang tertatih belajar seperti saya, membayangkan nama saya tertera di salah satu halaman media masa saja sudah senang. Karena ya merasa sebagai pungguk merindu bulan itu, ngimpi di siang bolong. 

Tapi, salutlah saya. Semua teman-teman di grup itu saling manas-manasin. Tujuannya untuk menularkan semangat. Kami diberi tugas untuk mengirimkan tulisan ke media. Ingat ya, mengirimkan. Tidak harus dimuat. Hanya mengirim. 

Sederhana kan. Tidak sulit dan semua orang bisa melakukannya. Wong hanya menulis saja. Tidak perlu beranjak dari tempat duduk. Cukup klak klik saja. Mengirim naskah juga hanya lewat email. Tinggal buka email, tuliskan alamat email redaksi, tulis subyek dengan format yang sudah disampaikan sebelumnya, menuliskan kata pengantar, melampirkan file kemudian mengirimkan. Untuk pekerjaan ini, tak perlulah saya ke kantor pos dan harus keluar uang. Jadi, apa yang memberatkannya? 

Hanya mengirim saja to? Itu pertanyaan yang saya ulang berkali-kali. Jawabannya pun tetap sama: iya, hanya mengirim saja. Tetapi ketika saya menyimak obrolan, emosi saya tersulut. Laporan anggota yang sudah mengirim tulisan ke media berderet panjang. Luar biasa. 

Begitulah. Saya beruntung berada diantara mereka. Saya mendapatkan energi positif yang setiap hari saya rasakan semakin kuat arusnya. 

Saya suka.  

Rabu, 13 Februari 2019

Tokoh Pendidikan Yang Terlupakan




Judul Buku   : Guru Patriot; Biografi Ki Sarmidi Mangunsarkoro
Pengarang     : RH. Widada
Penerbit        : Ar-Ruzz Media
Tahun Terbit : 2018 (Cetakan Kedua)
Tebal Buku   ; 136 Hal
Harga Buku  : Rp. 40.000

Membaca buku ini seperti membaca sejarah Indonesia. Sebagaimana judul yang tertera pada sampul, buku ini merupakan biografi seorang tokoh pendidikan. 

Sarmidi, lahir di Desa Banyuanyar, Colomadu, Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 23 Mei 1904. Ayahnya, Mangunsarkoro, adalah seorang abdi dalem keraton Surakarta yang bergelar Rangga. Nama ayahnya inilah yang melekat dibelakang namanya sehingga di kemudian hari, dia dikenal dengan nama Sarmidi Mangunsarkoro. 

Sarmidi lahir pada masa politik etis atau politik balas budi. Politik etis adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang didasari alasan bahwa pemerintah Hindia-Belanda bertanggungjawab terhadap kesejahteraan Bumiputera (rakyat Indonesia-red). Politik ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa. Salah satu bentuk tanggungjawab itu adalah memberi kesempatan kepada rakyat Indonesia untuk mengenyam pendidikan. 

Sabtu, 09 Februari 2019

Resensi Novel "Ayahku (bukan) Pembohong"




Identitas Buku     : Ayahku (bukan) Pembohong
Pengarang           : Tere Liye
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit        : 2011
Jumlah Halaman : 298

Sinopsis Buku:
Novel ini bercerita tentang seorang laki-laki bernama Dam. Ayah Dam suka bercerita. Dam senang mendengarkan cerita Ayahnya. Cerita ayah Dam, bukanlah cerita seperti dongeng pengantar tidur yang biasanya disampaikan oleh orangtua kepada anaknya. Cerita ayah adalah cerita yang sarat dengan pendidikan moral. Uniknya dalam cerita tersebut, ayah Dam menjadi pelaku utama.

Paling sering dilihat

Mengenal Tahap Penulisan Karya Ilmiah

Bismillahirrohmanirrohiim,  Minggu ini saya membaca buku berjudul Menulis Karya Ilmiah. He... he... sengaja saya memilih bacaan yang aga...