Kamis, 05 Februari 2026

Menjaga fokus


Pernahkah Anda sudah siap mengerjakan tugas penting?

Laptop sudah menyala, musik ringan sudah diputar, niat sudah dikuatkan, janji dalam hati sudah dibulatkan: 30 menit ini harus selesai.

Lalu terdengar bunyi notifikasi.

Pikiran langsung berbisik, “Jangan-jangan ada pesan penting.”

Anda mengeceknya.

Satu pesan terbuka.

Lanjut pesan lain. Ada tautan yang disematkan dalam pesan. Pikirang Anda meraung-raung meminta jempol untuk mengekliknya. 

Sekali klik masuk ke media sosial. Satu video pendek, satu lagi, lagi dan lagi.

Dari satu tautan ke tautan lainnya. 

Tertarik pada berita yang sedang viral. Penasaran. Klik lagi untuk menguliknya. 

Dan tanpa sadar… dua jam sudah waktu Anda terlewat,  habis.

Anda lelah, lalu berkata pada diri sendiri: ah masih ada waktu lain untuk mengerjakan tugas. Padahal yang sebetulnya anda lakukan adalah menghibur diri agar tidak terlalu menyesal. Sementara yang sebenarnya terjadi adalah, kita seperti berjalan jauh tapi gak pernah sampai ke tujuan karena arahnya beda. Arah tujuan kita ke Utara tapi kita berjalan ke selatan. 

Bila Anda pernah mengalami seperti itu berarti kita se frekwensi. Mari sini. Duduk sebentar. Kita ngobrol di sini.

Penyesalan selalu datang terlambat. Waktu habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak berdampak besar dalam hidup.

Pernah suatu ketika, saat menjenguk Bulik yang sakit di rumah sakit, aku sempat mengobrol dengan sepupu. Lama tidak bertemu, obrolan pun ke mana-mana, sampai akhirnya tiba pada satu topik yang sama: sulit menjaga fokus. Tidak bisa mengendalikan diri dan  mudah terdistraksi.

“Aku ya,” katanya sambil geleng-geleng kepala.

“Kalau bangun pagi langsung pegang HP, sudah bisa dipastikan seharian hidupku kacau.”

Dalam hati aku langsung menjawab, sama.

“Niatnya cuma mau cek pesan grup kantor,” lanjutnya, “Tapi yang kebuka malah pesan-pesan lain.”

Aku mengangguk, mengiyakan. Persis, aku banget itu, jeritku dalam hati.

Awalnya cuma WhatsApp. Tapi ada pesan berisi tautan.

Diklik.

Lalu nyasar ke mana-mana.

Tampaknya ini sudah menjadi fenomena apa gimana ya?

Suatu hari aku pernah mendapat nasihat begini: di zaman sekarang, fokus itu tidak instan. Fokus harus diperjuangkan dengan usaha yang keras. Menjaga agar tetap fokus itu berat dan kita harus keluar energi yang cukup besar. 

Fokus itu perlu niat yang kuat. Fokus itu harus ditanamkan dan perlu tegas pada diri sendiri. Harus mengalahkan kesenangan. 

Berani berkata tidak sebelum pekerjaan utama selesai.

Ketika fokus kemudian ada notifikasi masuk, kuatkan dalam hati, kalau memang mendesak, orang akan menelepon kita. Kalau tidak telpun berarti belum urgen. Lanjut fokus. Setiap kali tangan ingin meraih hp, katakan "stop, tidak sekarang" dan kembali fokus. 

Sulit? Pasti. 

Ada teman yang menyarankan untuk membuat daftar pekerjaan. Sekarang sudah ada aplikasinya. Tinggal menginstal di HP. Tulis semua daftar pekerjaan Anda dan cek setiap hari. Yang sudah dijalani centang, yang belum segera lakukan. Kalau mau scrool layar atau bermedsos, segera cek daftar. Lihat betapa deretan tugas mengantri untuk dikerjakan. Segera kerjakan dan jangan tunda waktu.  

Tapi yakinlah bahwa semua yang aku tulis di atas bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Butuh perjuangan dan doa. Mohon kepadaNya untuk dikuatkan menjalani hidup dijaman seperti ini. Jaman di mana menjaga fokus serupa menjaga akhlak.  



Minggu, 01 Februari 2026

Sakit Meredukpan Akal, Islam Menjaganya

 

Suatu ketika aku pernah duduk dalam sebuah majelis ilmu tentang ketakmiran dan wakaf.
Majelis itu mengkaji syarat dan rukun wakaf, sekaligus membahas bagaimana mengelola masjid dengan baik. Dalam salah satu pembahasannya, ustadz menjelaskan tentang syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang hendak berwakaf, atau disebut wakif.


Disebutkan bahwa seorang wakif haruslah orang yang merdeka, berakal, tidak pikun, dan tidak berada dalam kondisi sakit parah.


Di titik ini, aku menggarisbawahi satu syarat yang sebelumnya terasa biasa saja: sehat.
Baru ketika aku berada dalam kondisi sakit, aku benar-benar memahami mengapa sehat menjadi syarat bagi seorang wakif.

Orang sakit itu kehilangan sebagian kejernihan akalnya. Rasa nyeri memecah konsentrasi dan membuat pikiran sulit bekerja secara utuh. Dalam keadaan seperti itu, seseorang cenderung menyerahkan banyak urusan kepada orang lain—keluarga, kerabat, atau orang yang ia percayai.

Logis. Dan Islam mengaturnya sedetail itu. Masyaallah.

Untuk urusan-urusan penting, mengambil keputusan saat sakit memang sebaiknya dihindari. Rasa sakit dapat memengaruhi kevalidan keputusan yang dibuat. Sakit bukan hanya melemahkan tubuh, tetapi juga meredupkan kejernihan berpikir.

Dalam kondisi sakit, seseorang mudah lelah, mudah pasrah, dan cenderung mengiyakan apa pun yang disodorkan kepadanya. Ini bukan karena ia bodoh, melainkan karena pikirannya sedang sibuk bertahan dari rasa nyeri.

Saat berada di ruang tunggu rumah sakit, aku melihat betapa banyak keputusan penting akhirnya diwakilkan. Tanda tangan, persetujuan, bahkan pilihan-pilihan hidup sering kali berpindah tangan. Di situlah aku memahami: Islam bukan melarang orang sakit berbuat baik, tetapi justru melindungi mereka dari keputusan yang bisa disesali ketika sehat kembali.

Dari sini aku menarik beberapa pelajaran.

Pertama, dalam bersedekah dan berwakaf—melepaskan sebagian harta kepemilikan (yang hakikatnya hanyalah titipan)—tidak boleh ada paksaan atau tekanan. Islam memberi kebebasan penuh kepada manusia untuk memilih. Islam menjunjung tinggi kemanusiaan dan memperlakukan manusia sebagai makhluk yang berpikir dan merdeka dalam mengambil keputusan.

Kedua, sakit adalah keadaan yang pasti dialami setiap manusia. Ia seperti posisi off—jeda, rehat. Dalam kondisi ini, jangan memaksakan diri mengambil keputusan penting. Beri kesempatan kepada orang-orang yang mampu untuk mengambil alih tugas kita. Di sinilah pentingnya muamalah: menjalin hubungan baik, berbagi peran, dan mentransfer pengetahuan. Kita bukan manusia tanpa cela. Jangan meremehkan anak, pasangan, atau rekan kerja. Barangkali merekalah yang kelak mengambil keputusan saat kita harus berhenti sejenak.

Ketiga, sehat adalah nikmat yang sering baru disadari ketika sakit datang. Sehat adalah amanah—amanah untuk berpikir jernih, mengambil keputusan dengan sadar, dan menata urusan penting tanpa tekanan rasa nyeri.

Maka jika hari ini kita diberi sehat, barangkali yang paling bijak adalah tidak lengah. Saat akal masih jernih, jadilah manusia yang berakal dan waras. Siapkan keputusan-keputusan besar sejak sekarang, agar ketika tubuh melemah, hati dan pikiran tidak ikut goyah.

Sabtu, 24 Januari 2026

Curhat Dari Dua Sisi: Yang bercerita dan Yang Mendengarkan

Pernah curhat atau dicurhati seseorang? Pernah dong. Curhat, ngobrol, atau wadul adalah bagian dari interaksi sosial yang menghubungkan kita dengan orang lain. Ketika emosi menumpuk terlalu lama—dada terasa sesak, kepala pusing, dan bawaannya ingin marah—kita butuh cara untuk melegakannya. Salah satunya ya dengan curhat. Menyampaikan uneg-uneg yang membuat dada sesak kepada orang lain.

Pun begitu dengan orang lain. Ketika mereka menceritakan isi hatinya kepada kita, bisa jadi itu karena mereka ingin mengurangi beban hidupnya. Ingin didengar. Ingin merasa tidak sendirian.

Jadi, tidak ada yang salah dengan curhat. Tapi… curhat juga bisa bikin masalah.
Curhat yang bagaimana sih yang justru memicu konflik sosial?

Bila Anda berada di posisi orang yang curhat, perhatikan  beberapa fakta tentang curhat yang berpotensi bikin masalah. Tiga fakta penting curhat yang berpotensi menimbulkan masalah

1. Curhat yang Berlebihan

Semua dicurhatin. Apa pun diceritakan. Orang yang sedang curhat itu ibarat sedang membuka celah agar orang lain agar bisa melihat dirinya lebih dalam. Dengan menyampaikan segala hal tentang dirinya, sama saja dengan mengajak orang lain menjelajahi hidupnya—tanpa batas.

Masalahnya, membuka celah terlalu besar itu berbahaya ke depannya. Hubungan antar manusia tidak selalu baik-baik saja. Hari ini teman, besok bisa saja jadi orang yang paling berseberangan. Saat terjadi kesalahpahaman atau perselisihan, apa yang dulu kita ceritakan dengan polos bisa berubah menjadi senjata yang menikam diri sendiri.

Tidak semua cerita harus dibagi. Tidak semua luka harus diperlihatkan.

2. Salah Memilih Tempat Curhat

Faktanya, tidak semua orang bisa menjaga rahasia. Salah memilih tempat curhat bisa menjadi bumerang. Curhatan yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi komoditas.

Dalam obrolan yang lain, aib orang bisa menjadi bahan candaan. Cerita yang awalnya serius berubah menjadi gosip. Maka, memilih kepada siapa kita curhat itu penting. Jangan curhat kepada orang yang tidak bisa menjaga rahasia, yang suka ngoceh ke sana kemari, dan menjadikan cerita orang lain sebagai hiburan.

Curhat butuh kepercayaan. Dan kepercayaan itu mahal.

3. Tidak Melihat Kondisi Orang yang Dicurhati

Setiap orang punya masalah. Curhat sejatinya adalah membagi beban kepada orang lain. Maka, ketika kita berada di posisi orang yang curhat, ada baiknya kita juga melihat kondisi orang yang akan kita jadikan tempat bersandar.

Apakah dia sedang lelah? Apakah dia sedang memikul beban yang lebih berat dari kita? Jangan sampai niat kita meringankan diri justru menambah beban orang lain.


Lalu, bagaimana dari sudut pandang orang yang dicurhati? 

Bila Anda dijadikan tempat curhat, Anda perlu mengenal tipe orang yang curhat.  Setidaknya ada tiga tipe orang yang curhat kepada Anda.

Pertama, Curhat untuk Mencari Solusi

Tipe ini curhat karena memang butuh bantuan. Dia bingung, mentok, dan berharap orang yang dicurhati bisa memberikan saran atau sudut pandang lain untuk menyelesaikan masalahnya.

Menghadapi tipe ini, kita perlu mendengarkan dengan serius dan menanggapi dengan bijak. Bukan menghakimi, tapi membantu berpikir jernih. Bila Anda dicurhati seseorang berarti orang tersebut percaya kepada Anda. Berikan bantuan semampu Anda. Berikan pendapat sesuai kompetensi yang Anda miliki. Bila tidak paham dengan masalah yang dihadapi sebaiknya rekomendasikan untuk berkonsultasi kepada ahlinya. 

Kedua, Curhat yang Hanya Ingin Didengar

Ada juga orang yang curhat hanya ingin meminjam telinga kita. Dia sebenarnya sudah punya solusi. Hanya saja, dia butuh ruang untuk menumpahkan isi hati agar emosinya lebih stabil. Bisa jadi dia curhat untuk sekedar mendapat respon positif dari Anda. 

Untuk tipe ini, sering kali nasihat tidak terlalu dibutuhkan. Cukup dengarkan. Kadang kehadiran yang tenang jauh lebih menolong daripada seribu saran.

Ketiga, Curhat untuk Pamer

Nah, yang ini agak berbeda. Curhat tapi ujung-ujungnya pamer. Masalahnya dibungkus rapi agar terlihat sebagai pencapaian. Bukan mencari solusi, bukan juga ingin didengar, tapi ingin diakui. Menghadapi tipe ini, Anda tidak perlu merespon berlebihan. Bila Anda merasa tidak nyaman dan tidak ingin dia kembali lagi untuk mengganggu waktu Anda, respon saja dengan datar. 

Intinya bila kita dijadikan tempat curhat, kita harus bijaksana. Tidak semua curhatan harus direspon dengan empati yang mendalam. Dengarkan setelah itu lupakan. Jangan ambil beban orang lain menjadi beban diri sendiri. Karena hidup harus tetap berjalan di rel masing-masing. 


Pada akhirnya, curhat adalah soal keseimbangan.
Keseimbangan dalam berbicara dan mendengarkan.
Keseimbangan dalam membuka diri dan menjaga batas.

Curhat yang sehat bisa menguatkan hubungan.
Curhat yang berlebihan justru bisa memantik konflik sosial.

Yang perlu kita latih bukan hanya keberanian untuk curhat, tapi juga kebijaksanaan—kapan, kepada siapa, dan sejauh mana kita berbagi cerita


    

Rabu, 21 Januari 2026

Kulkas Alam di Belakang Rumah

 


Pemandangan yang ada di foto dalam tulisan ini sangat mudah ditemui di wilayah pedesaan. Lahan yang cukup luas, dengan rumah tinggal menempati salah satu sudut halaman. Di sekitarnya tumbuh beberapa pohon produktif: mangga, rambutan, pepaya, atau sejenisnya. Bila empunya rumah gemar bunga, biasanya akan ada beberapa pot bunga yang tertata rapi.

Namun selebihnya, yang sering terlihat justru lahan kosong yang ditumbuhi ilalang dan tanaman liar yang tak terurus.


Pemandangan ini mengingatkanku pada puluhan tahun yang lalu. Saat itu, seorang rekan guru—seorang bapak yang hobi bertani—pernah berkata sambil bercanda, “Orang tinggal di desa tapi apa-apa beli, itu berarti orangnya kurang pinter.”

Karena nadanya bercanda, aku pun menanggapinya dengan bercanda pula. Waktu itu aku tidak terlalu memikirkannya. Hanya lewat begitu saja.


Nah, sekarang setelah waktu berlalu dan usia bertambah, aku baru benar-benar merasakan makna ucapan itu. Ketika kami mulai memanfaatkan sedikit lahan di sekitar rumah—menanam beberapa sayur, buah, rimpang, serta memelihara ayam—ternyata ungkapan teman waktu itu seratus persen benar.


Kami punya tanaman sawi, kangkung, terong, ketela pohon, pepaya, bayam, beluntas, dan masih banyak tanaman lainnya. Intinya sederhana: apa yang biasa kami konsumsi, kalau bisa ditanam, ya kami tanam.


Hasilnya luar biasa. Aku seperti punya kulkas alam. Penyimpan makanan yang selalu segar, selalu siap dipetik, dan yang paling penting bisa kami kendalikan sendiri penggunaan pupuk dan pestisidanya. Kami hanya memakai pupuk alami. Pestisidanya pun alami. Mungkin istilah kerennya sekarang adalah tanaman organik.


Misalnya begini. Sore hari tiba-tiba kehabisan sayur. Tidak perlu panik, tidak perlu ke warung. Tinggal ke kebun belakang. Cabut beberapa batang kangkung, lalu dibuat plecing. Atau tiba-tiba ingin sambal terong. Tinggal petik. Cabai ada, kemangi ada, terong ada. Mau membuat sup, seledri tinggal cabut. Semua tersedia.


Di titik inilah aku benar-benar merasakan bahwa kata-kata rekan guruku dulu terbukti benar.

Kami juga memelihara ayam. Awalnya bukan untuk dikembangkan menjadi peternakan, meskipun sebenarnya itu sangat memungkinkan dan pemikiran ke arah sana mulai berkembang. Mulanya sederhana saja. Ketika kami menyadari banyak sisa makanan dapur yang biasanya terbuang percuma, kami berpikir: bagaimana caranya agar sampah dapur ini tidak sia-sia?


Dari situ terpikirlah untuk memelihara ayam. Tidak banyak. Hanya beberapa ekor. Tapi itu sudah sangat membantu mengurangi sampah dapur. Sisa nasi, sayur, atau kulit-kulitan yang masih layak, habis oleh ayam. Siklus kecil pun terbentuk.


Dari pengalaman ini aku mulai memahami konsep yang sekarang disebut integrated farming atau pertanian terpadu. Tanaman, ternak, dan lingkungan saling terhubung. Sisa tanaman jadi pakan ternak. Kotoran ternak jadi pupuk. Hampir tidak ada yang terbuang. Menariknya, konsep ini sebenarnya bukan hal baru. Orang-orang desa zaman dulu sudah mempraktikkannya, hanya saja sekarang diberi nama yang terdengar modern dan keren.


Ada satu pernyataan dari seorang tokoh pertanian yang cukup mengusikku. Katanya, di Indonesia ini seolah-olah sengaja dibangun opini bahwa pertanian itu tidak menjanjikan. Pupuk mahal, upah mahal, hasil tidak sebanding. Lalu solusinya apa? Jual saja lahan pertanian, ganti dengan usaha lain yang lebih menguntungkan. Tentu saja ini opini yang menyesatkan. Menguntungkan para tengkulak dan pihak yang mengincar lahan untuk dijadikan tempat industri. Opini yang mereka bangun, membuat generasi muda enggan menjadi petani dan peternak. Siapa yang akan menopang pangan masyarakat Indonesia?


Padahal, kalau dilihat dari skala rumah tangga, terutama di desa, pertanian dapat dilakukan oleh siapa saja, baik skala kecil maupun skala besar. Bila dilakukan dalam skala rumah tangga, akan mengurangi biaya hidup, membuat lebih mandiri, dan memberi rasa aman pangan bagi keluarga.


Dari lahan kecil di sekitar rumah, aku belajar satu hal penting: hidup di desa seharusnya membuat hidup lebih sederhana, bukan lebih boros. Lebih mandiri, bukan lebih bergantung. Lahan bukan sekadar halaman kosong, tapi peluang yang sering kita abaikan.


Mungkin benar kata teman guruku dulu. Tinggal di desa tapi semua beli, itu memang sayang sekali. Bukan soal pintar atau tidak pintar. Tapi soal mau atau tidak mau memanfaatkan apa yang sudah disediakan alam dengan begitu murah hati.


Dan aku bersyukur, meski agak terlambat menyadarinya, kami akhirnya mulai melangkah. Dari lahan kecil, dari niat sederhana, menuju hidup yang lebih selaras dengan desa itu sendiri.

Rabu, 14 Januari 2026

Sebelum Menuntut Diharga, Lihat Cara Kita Menghargai Diri Sendiri


Suatu ketika, di sebuah ruang, diadakan rapat dinas oleh kepala sekolah. Undangan rapat disampaikan melalui grup info sekolah yang tertutup. Grup ini bukan ruang obrolan bebas. Hanya tim manajemen yang bisa menuliskan pesan. Artinya, setiap informasi yang masuk adalah informasi penting. Bukan untuk diabaikan, apalagi dianggap sepele. Semua guru dan karyawan seharusnya mencermati dan menindaklanjutinya dengan penuh tanggung jawab.

Siang itu, rapat dimulai seperti biasa. Namun ada pemandangan yang berulang: kursi-kursi di bagian depan ruangan kosong, sepi, jarang penghuninya. Padahal di setiap meja sudah tersedia kotak kue dan minuman. Fasilitasnya sama. Tidak ada yang dibedakan.

Beberapa kali wakil kepala sekolah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan rapat mengingatkan bapak ibu guru agar mengisi bangku kosong di depan. Namun entah mengapa, kursi belakang selalu menjadi kursi favorit. Padahal, secara logika sederhana, kualitas suara tentu lebih jelas jika duduk di depan. Wajah pimpinan terlihat, materi terserap lebih utuh, suasana rapat pun terasa lebih hidup.

Karena berkali-kali diingatkan namun diabaikan, akhirnya kepala sekolah berdiri. Beliau menghampiri guru dan karyawan yang duduk di belakang. Sambil memegang mikrofon, beliau berkata dengan nada tenang namun tegas:

“Saya menghargai bapak ibu itu semua sama. Tetapi rupanya bapak ibu sendiri yang memilih menghargai diri sendiri lebih rendah dari yang seharusnya.”

Kalimat itu terasa tajam. Sedikit pedas. Tapi jujur. Dan justru karena itulah ia mengena. Tidak sedang menyalahkan, tapi menyodorkan cermin.

Sering kali, dalam kehidupan nyata, kita ingin dihargai. Ingin diperlakukan dengan baik. Ingin didengar, dianggap, dan diperhitungkan. Namun tanpa sadar, sikap kita sendiri justru berkata sebaliknya. Cara kita datang, cara kita duduk, cara kita merespons, bahkan cara kita menempatkan diri—semua itu mengirimkan pesan.

Duduk di belakang mungkin terasa nyaman. Tidak terlalu terlihat. Tidak terlalu terlibat. Tapi dalam forum resmi, sikap seperti itu bisa dibaca sebagai jarak. Seolah berkata, “Saya ada, tapi setengah hati.” Dan dunia, termasuk orang-orang di dalamnya, sangat jujur dalam merespons sikap semacam itu.

Bagaimana orang memperlakukan kita, sering kali adalah pantulan dari bagaimana kita memperlakukan diri sendiri. Jika kita menempatkan diri sekadar sebagai pelengkap, jangan heran jika kemudian dianggap tidak penting. Jika kita hadir tanpa kesungguhan, jangan kecewa jika perhatian juga setengah-setengah.

Menghargai diri bukan soal meminta perlakuan istimewa. Tapi soal keberanian mengambil posisi yang pantas. Duduk di depan. Siap terlihat. Siap mendengar. Siap terlibat. Dan siap bertanggung jawab atas peran yang kita emban.

Rapat dinas siang itu memberi pelajaran sederhana namun dalam: sebelum menuntut penghargaan dari orang lain, pastikan kita sudah menghargai diri sendiri dengan sikap yang tepat.

Karena pada akhirnya, sikap tidak pernah bohong. Ia selalu bicara lebih nyaring daripada kata-kata.


Paling sering dilihat

Menjaga fokus

Pernahkah Anda sudah siap mengerjakan tugas penting? Laptop sudah menyala, musik ringan sudah diputar, niat sudah dikuatkan, janji dalam hat...