Pernahkah Anda sudah siap mengerjakan tugas penting?
Laptop sudah menyala, musik ringan sudah diputar, niat sudah dikuatkan, janji dalam hati sudah dibulatkan: 30 menit ini harus selesai.
Lalu terdengar bunyi notifikasi.
Pikiran langsung berbisik, “Jangan-jangan ada pesan penting.”
Anda mengeceknya.
Satu pesan terbuka.
Lanjut pesan lain. Ada tautan yang disematkan dalam pesan. Pikirang Anda meraung-raung meminta jempol untuk mengekliknya.
Sekali klik masuk ke media sosial. Satu video pendek, satu lagi, lagi dan lagi.
Dari satu tautan ke tautan lainnya.
Tertarik pada berita yang sedang viral. Penasaran. Klik lagi untuk menguliknya.
Dan tanpa sadar… dua jam sudah waktu Anda terlewat, habis.
Anda lelah, lalu berkata pada diri sendiri: ah masih ada waktu lain untuk mengerjakan tugas. Padahal yang sebetulnya anda lakukan adalah menghibur diri agar tidak terlalu menyesal. Sementara yang sebenarnya terjadi adalah, kita seperti berjalan jauh tapi gak pernah sampai ke tujuan karena arahnya beda. Arah tujuan kita ke Utara tapi kita berjalan ke selatan.
Bila Anda pernah mengalami seperti itu berarti kita se frekwensi. Mari sini. Duduk sebentar. Kita ngobrol di sini.
Penyesalan selalu datang terlambat. Waktu habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak berdampak besar dalam hidup.
Pernah suatu ketika, saat menjenguk Bulik yang sakit di rumah sakit, aku sempat mengobrol dengan sepupu. Lama tidak bertemu, obrolan pun ke mana-mana, sampai akhirnya tiba pada satu topik yang sama: sulit menjaga fokus. Tidak bisa mengendalikan diri dan mudah terdistraksi.
“Aku ya,” katanya sambil geleng-geleng kepala.
“Kalau bangun pagi langsung pegang HP, sudah bisa dipastikan seharian hidupku kacau.”
Dalam hati aku langsung menjawab, sama.
“Niatnya cuma mau cek pesan grup kantor,” lanjutnya, “Tapi yang kebuka malah pesan-pesan lain.”
Aku mengangguk, mengiyakan. Persis, aku banget itu, jeritku dalam hati.
Awalnya cuma WhatsApp. Tapi ada pesan berisi tautan.
Diklik.
Lalu nyasar ke mana-mana.
Tampaknya ini sudah menjadi fenomena apa gimana ya?
Suatu hari aku pernah mendapat nasihat begini: di zaman sekarang, fokus itu tidak instan. Fokus harus diperjuangkan dengan usaha yang keras. Menjaga agar tetap fokus itu berat dan kita harus keluar energi yang cukup besar.
Fokus itu perlu niat yang kuat. Fokus itu harus ditanamkan dan perlu tegas pada diri sendiri. Harus mengalahkan kesenangan.
Berani berkata tidak sebelum pekerjaan utama selesai.
Ketika fokus kemudian ada notifikasi masuk, kuatkan dalam hati, kalau memang mendesak, orang akan menelepon kita. Kalau tidak telpun berarti belum urgen. Lanjut fokus. Setiap kali tangan ingin meraih hp, katakan "stop, tidak sekarang" dan kembali fokus.
Sulit? Pasti.
Ada teman yang menyarankan untuk membuat daftar pekerjaan. Sekarang sudah ada aplikasinya. Tinggal menginstal di HP. Tulis semua daftar pekerjaan Anda dan cek setiap hari. Yang sudah dijalani centang, yang belum segera lakukan. Kalau mau scrool layar atau bermedsos, segera cek daftar. Lihat betapa deretan tugas mengantri untuk dikerjakan. Segera kerjakan dan jangan tunda waktu.
Tapi yakinlah bahwa semua yang aku tulis di atas bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Butuh perjuangan dan doa. Mohon kepadaNya untuk dikuatkan menjalani hidup dijaman seperti ini. Jaman di mana menjaga fokus serupa menjaga akhlak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar