Jadilah manusia merdeka.
Pesan ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam. Kata merdeka terasa mahal, bahkan eksklusif. Sesuatu yang harus diperjuangkan.
Dulu, dalam benak saya, merdeka berarti bebas dari penjajahan, seperti yang diajarkan guru sejarah. Beliau menggambarkan bagaimana kondisi fisik dan batin masyarakat Indonesia saat dijajah—penuh tekanan, keterbatasan, dan ketakutan. Saat itulah saya paham mengapa orang rela berjuang habis-habisan demi kemerdekaan.
Seiring waktu, kata merdeka hadir dalam banyak istilah: Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar, dan Kurikulum Merdeka. Di sini merdeka dimaknai sebagai mandiri dan bebas dari tekanan.
Belajar sesuai kebutuhan.
Mengajar sesuai kondisi nyata.
Bukan sekadar mengikuti tuntutan dari luar.
Lalu saya berpikir.
Dalam lingkup yang lebih kecil, sebagai individu, apakah kita sudah merdeka?
Atau sebenarnya kita masih hidup dalam tekanan yang tidak terlihat?
Merdeka Itu Soal Keputusan
Salah satu cara sederhana untuk menguji apakah kita ini manusia merdeka atau masih tertindas adalah dengan melihat bagaimana kita mengambil keputusan.
Ketika kita mengatakan iya, apakah itu karena kita memang ingin?
Atau karena tidak enak menolak?
Dan ketika kita ingin mengatakan tidak, apakah kita berani?
Mari kita lihat contoh yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari:
Ada teman meminta bantuan saat kita sebenarnya sudah sangat lelah.
Atasan memberi tugas tambahan, padahal pekerjaan utama belum selesai.
Grup WhatsApp meminta iuran atau kegiatan yang sebenarnya tidak kita setujui.
Tetangga atau keluarga meminta sesuatu yang terasa memberatkan.
Di situlah terjadi pergulatan batin.
Kalau menolak, takut dianggap tidak peduli.
Kalau menerima, hati terasa berat.
Inilah persimpangan antara manusia merdeka dan manusia yang masih tertindas.
Jika kata yang keluar dari mulut kita bertentangan dengan hati nurani, bisa jadi kita belum sepenuhnya merdeka.
Tidak Semua “Tidak” Itu Merdeka
Menjadi manusia merdeka bukan berarti selalu menolak.
Bukan juga berarti selalu mengikuti keinginan pribadi.
Kuncinya ada pada proses menimbang.
Sebelum mengatakan iya atau tidak, kita perlu bertanya:
Mengapa saya harus menerima?
Mengapa saya ingin menolak?
Apa dampak dari keputusan ini?
Apakah ini membawa kebaikan atau justru merugikan?
Apakah ini sesuai dengan nilai yang saya pegang?
Apakah Allah ridha jika saya melakukannya?
Di dalam proses inilah kualitas diri terbentuk.
Merdeka bukan berarti bebas semaunya.
Merdeka adalah kemampuan untuk memilih dengan sadar.
Penjara yang Tidak Terlihat
Yang menarik, banyak orang terlihat bebas, tetapi sebenarnya hidup dalam “penjara sosial”.
Penjara itu bernama:
tidak enak
takut dinilai
takut tidak disukai
takut dianggap berbeda
Akhirnya kita sering berkata iya, bukan karena mau, tetapi karena takut.
Padahal manusia merdeka bukanlah manusia yang selalu menyenangkan semua orang.
Manusia merdeka adalah yang jujur pada nilai hidupnya.
Merdeka Dimulai dari Diri Sendiri
Kemerdekaan pribadi tidak datang dari luar.
Tidak diberikan oleh atasan.
Tidak ditentukan oleh lingkungan.
Ia lahir dari keberanian untuk:
mengenal diri
memahami nilai hidup
berkata iya dengan tulus
berkata tidak dengan santun
Karena merdeka bukan soal bebas melakukan apa saja.
Merdeka adalah ketika keputusan kita selaras dengan hati, akal, dan nilai yang kita yakini.
Dan mungkin, kemerdekaan terbesar dalam hidup adalah:
Tidak lagi hidup untuk menyenangkan semua orang,
tetapi hidup untuk menjalankan yang benar menurut hati nurani.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar