Salah satu masalah yang aku hadapi sebagai seorang penderita diabetes adalah mengatasi rasa lapar.
Mungkin karena kebiasaan makan yang salah, aku mudah sekali lapar. Setiap pagi harus sarapan. Kalau tidak sarapan tubuhku gemetar, lemas dan keluar keringat dingin. Hal ini menumbuhkan keyakinan bahwa aku perlu makan cukup. Bahkan kalau perlu makan sebelum lapar.
Masalah muncul begitu aku harus menjalani diet. Tidak boleh mengkonsumsi gula. Harus mengurangi karbohidrat. Kurangi makan nasi dan makanan bertepung lainnya.
Setelah memutuskan untuk menerima fakta bahwa aku adalah penderita diabetes yang harus mengendalikan jumlah dan jenis makanan, ada penyangkalan dalam benakku. Kalau manusia membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, mengapa kita justru tidak boleh makan. Bukankah ini sesuatu yang bertentangan. Di sisi hatiku yang lain menyangkal. Mungkinkah Allah mengingkari sunnatullahnya sendiri?
Sepertinya aku harus mendengarkan tubuhku dengan baik.
Apa yang sebetulnya dibutuhkan oleh tubuhku?
Kapan tubuhku membutuhkan asupan?
Seberapa banyak asupan yang dibutuhkan tubuhku sebenarnya?
Apa arti lapar bagi tubuhku?
Dan akupun benar-benar melakukannya. Kunikmati setiap suapan yang masuk ke dalam tubuhku sambil merasakan dengan cermat apa yang aku rasakan "sebenarnya".
Kubuat porsi sesuai arahan. Kuabaikan pertanyaan "apakah ini cukup?"; "apakah tubuhku bisa menerima jumlah sesedikit ini?"
Aku menyuap sambil menajamkan rasa untuk mengenali respon tubuhku.
Aku menjeda sebelum perutku "merasa cukup". Tidak buru-buru menambahkan makanan baru.
Dan.... Aman.
Semua baik-baik saja. Tidak kekenyangan tapi juga tidak kelaparan. Sampai jadwal makan berikutnya tubuhku masih aman.
Jadi, sepertinya, selama ini aku salah menilai tubuhku sendiri.
Ketika makan aku melakukannya bukan karena tubuhku membutuhkan melainkan karena aku ingin makan.
Jadi sebetulnya aku menemukan bahwa pada diriku, tidak semua dorongan untuk makan ternyata berarti tubuhku membutuhkan makanan sebanyak yang selama ini kuberikan.
Nah kan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar