Kamis, 23 April 2020
Belajar dari Rumah
Sejak bekerja dari rumah, saya senang sekali belajar secara online, baik yang saya lakukan sendiri maupun yang saya lakukan bersama teman-teman. Dengan bekerja dari rumah, sebagai seorang guru, saya dipaksa untuk mengejar ketertinggalan IT. IT adalah sarana penting dalam pembelajaran daring.
Melakukan pembelajaran daring, bukanlah pekerjaan mudah. Boleh dibilang mengajar daring itu tingkat kesulitannya dua kali lipat dari melakukan pembelajaran secara luring atau tatap muka. Pada pembelajaran luring, guru bisa mengontrol siswa. Apakah siswa merespon pembelajaran dengan benar atau tidak. Apakah siswa mengalami kesulitan memahami materi pembelajaran atau tidak. Apakah siswa belajar dengan sungguh-sungguh atau tidak. Selain itu pembelajaran secara luring memungkinkan seorang guru mengontrol perilaku siswa. Saat siswa berhadapan dengan guru tentu ada rasa sungkan kalau ingin berbicara tidak sopan.
Selasa, 07 April 2020
Mencari Orang Cerdas
Cerdas adalah sempurna akal budinya (kbbi online). Termasuk di dalam akal budi adalah berpikir, mengerti, memahami dan lain sebagainya. Sehingga orang yang cerdas dapat dimaknai sebagai orang yang sudah sempurna cara berpikirnya, sudah mengerti mana yang benar dan mana yang salah serta mengambil keputusan di jalan yang benar.
Mengetahui atau mengerti bahwa sesuatu itu baik, belum bisa dikatakan cerdas. Kecerdasan menuntut seseorang menentukan pilihan, yaitu memilih hanya yang baik untuk dirinya dan orang lain.
Minggu, 29 Maret 2020
Karena Tidak Tahu
La iyo, usume pagebluk koyo ngene, kudune awake dewe ki nggethu lek ngibadah. La kok malah ra oleh ngibadah ki piye???
(La iya, di saat wabah begini kita seharus fokus beribadah. La ini malah kita dilarang beribadah, maksudnya gimana)
Itu tadi adalah kalimat yang terlontar dari tetangga saya, seorang nenek berusia kurang lebih enam puluh tahun yang ahli yasinan, dibaan, istighosah dan kegiatan keagamaan yang lain.
Oh mohon untuk tidak dihujat, apa lagi dibully. Tetangga saya itu mengatakan seperti itu pasti karena tidak paham dengan apa yang terjadi. Dia tidak paham Covid-19 itu apa dan mengapa kita harus membatasi diri sedemikian rupa. Dulu, yang dialaminya ketika ada wabah flu burung tidak sedemikian mencekam. Tdak sampai anak-anak sekolah dirumahkan, orang dipaksa untuk tetap di rumah dan kegiatan keagamaan yang bersifat jamaah dihentikan.
Tetangga saya itu, yang biasanya saya panggil lek Nah, hanyalah seorang nenek yang ingin menghabiskan waktu tuanya untuk beribadah. Dia hanya tahu bahwa hidup dan mati itu ditangan Allah.
Lek Nah bukan politikus yang ingin menggoreng isu apalagi ingin menentang pemerintah. Tidak sama sekali.
Saya mencoba meluruskan pemahamannya, karena sayalah orang yang berada di dekatnya saat itu. Sebisa saya. Dengan modal yang sangat terbatas.
Ketika orang memaknai ibadah terlalu sempit, maka dia akan terjebak. Ibadah adalah hubungan langsung antara hamba dengan sang khaliq. Bisa dilakukan sendiri-sendiri bisa dilakukan secara berjamaah. Allah mengetahui apa yang kita niatkan di dalam hati. Fisik hanyalah sesuatu yang terlihat dan merupakan bagian luar saja. Sementara Allah menilai ibadah kita dari apa yang ada dihati kita. Anggap saja ini saatnya kita disuruh uzlah.
Kembali ke lek Nah dan teman-temannya, mereka mewakili sebagian besar rakyat kita yang masih belum paham dengan kondisi ini. Dibutuhkan lebih banyak relawan untuk melakukan edukasi kepada mereka. Bukan dengan bahasa yang sulit dimengerti, melainkan dengan bahasa yang baik dan menenangkan.
Bisa jadi relawan itu Anda. Orang yang lebih paham dengan apa yang terjadi. Yang mampu berkomunikasi dengan baik, mencerahkan dan bukan malah merendahkan.
#lawancorona
Senin, 02 Maret 2020
Ketika Akses Terhenti
Di jaman super ini kita semua dimanjakan dengan berbagai kemudahan. Semua serba klik. Urusan yang biasanya dilakukan di luar ruangan, bisa dilakukan di dalam ruangan dan tidak mengenal waktu libur. Itulah kehebatan kecerdasan buatan. Itulah kehebatan jaman millenial.
Berkenalan dengan ke-modern-an harus siap menghadapi masa-masa sulit juga selain menikmati kemudahan. Yang sederhana saja ya. Listrik. Hari ini listrik sudah menjadi nyawa kehidupan. Semua urusan terselesaikan bila ada listrik. Nah ketika listrik padam, penderitaanlah yang dirasakan.
Urusan bayar membayar tagihan juga demikian. Dengan adanya internet banking dan dompet elektronik, banyak hal bisa diselesaikan dengan mudah. Bayar tagihan listrik, bayar iuran bpjs, beli tiket pesawat, beli tiket kereta dan ngojekpun, pembayarannya bisa dilakukan non tunai. Lebih enak. Tidak usah bawa duit kemana-mana tetapi tetap aman, asal saldonya cukup.
Tetapi, akan menjadi masalah besar bila sistem bermasalah. Seperti hari ini. Transaksi melalui dompet elektronik mengalami kegagalan. Ini menjadi masalah. Meskipun sebetulnya penyelesaiannya mudah. Ya tinggal dilakukan secara manual saja kan. Tetapi karena sudah terlanjur nyaman dengan kemudahan, maka sedikit kesulitan saja rasanya sudah sangat menderita.
Beda jaman, beda generasi tentu beda culture. Ketahanan seseorang ditentukan dari stimulus yang diterima selama proses yang di alami. Ketika semua didapatkan dengan mudah maka ketahanan untuk menolong diri sendiri juga lemah. Seperti kata pepatah, tanaman yang tumbuh di tanah yang tandus akarnya akan kuat mencengkeram bumi. Sehingga dia akan kuat menahan terpaan angin.
Manusia kurang lebih sama. Diperlukan proses pembelajaran yang sedemikian rupa untuk meningkatkan kemampuannya bertahan hidup.
Berkenalan dengan ke-modern-an harus siap menghadapi masa-masa sulit juga selain menikmati kemudahan. Yang sederhana saja ya. Listrik. Hari ini listrik sudah menjadi nyawa kehidupan. Semua urusan terselesaikan bila ada listrik. Nah ketika listrik padam, penderitaanlah yang dirasakan.
Urusan bayar membayar tagihan juga demikian. Dengan adanya internet banking dan dompet elektronik, banyak hal bisa diselesaikan dengan mudah. Bayar tagihan listrik, bayar iuran bpjs, beli tiket pesawat, beli tiket kereta dan ngojekpun, pembayarannya bisa dilakukan non tunai. Lebih enak. Tidak usah bawa duit kemana-mana tetapi tetap aman, asal saldonya cukup.
Tetapi, akan menjadi masalah besar bila sistem bermasalah. Seperti hari ini. Transaksi melalui dompet elektronik mengalami kegagalan. Ini menjadi masalah. Meskipun sebetulnya penyelesaiannya mudah. Ya tinggal dilakukan secara manual saja kan. Tetapi karena sudah terlanjur nyaman dengan kemudahan, maka sedikit kesulitan saja rasanya sudah sangat menderita.
Beda jaman, beda generasi tentu beda culture. Ketahanan seseorang ditentukan dari stimulus yang diterima selama proses yang di alami. Ketika semua didapatkan dengan mudah maka ketahanan untuk menolong diri sendiri juga lemah. Seperti kata pepatah, tanaman yang tumbuh di tanah yang tandus akarnya akan kuat mencengkeram bumi. Sehingga dia akan kuat menahan terpaan angin.
Manusia kurang lebih sama. Diperlukan proses pembelajaran yang sedemikian rupa untuk meningkatkan kemampuannya bertahan hidup.
Rabu, 26 Februari 2020
Ima, Namaku
Perkenalkan, namaku Ima. Aku lahir di sebuah desa di Kabupaten Blitar. Tepatnya di Blitar bagian Utara. Aku lahir pada tanggal xx bulan mm sekian tahun yang lalu. Saat ini aku duduk di kelas X SLB kota Blitar.
Allah teramat baik kepadaku. Dia memelihara pendengaranku dan mengasingkanku agar tidak mendengar hal-hal yang merusak hatiku. Terimakasih ya Allah. Semoga Engkau senantiasa melindungiku.
Langganan:
Postingan (Atom)
Paling sering dilihat
Nah Kan! Ternyata Aku Salah Menilai Tubuhku
Salah satu masalah yang aku hadapi sebagai seorang penderita diabetes adalah mengatasi rasa lapar. Mungkin karena kebiasaan m...
-
Hari ini saya mendapat musibah. e Eh bukan sih. Pembelajaran baru, tepatnya. Ketika saya membuka tab, sinyal internet tidak muncul. Itu...
-
Bismillahirrohmanirrohiim, Jamkos atau jam kosong adalah sebutan populer untuk jam pelajaran yang tidak efektif. Tidak ada kegiatan pem...
-
Dihadapan Tuhan kita semua setara dan sama, yang membedakan itu akhlak kita. (Albert Einstein) Bismillahirrohmanirrohiim, Kunjungan...




