Kamis, 01 April 2021

Teman, Meninggikan atau Merendahkan

Kalau Anda takut berbuat dosa, maka Anda adalah teman orang yang beriman (Cak Lontong- komedian Indonesia)

Kali ini tentang teman. Dalam kajiannya, Kyai Imron Jamil mengulas dalam beberapa rekaman tentang pentingnya mencari teman. Bukan hanya sekedar teman, tetapi teman dunia akhirat. 

Manusia itu makhluk sosial. Dia tidak bisa hidup sendiri. Dia membutuhkan bantuan orang lain. Meskipun dia kuat dan bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tetapi dia tetap membutuhkan kehadiran orang lain untuk mengisi ruang dalam jiwanya. 

Jadi kita membutuhkan kehadiran teman di sekitar kita. Kehadiran teman akan memberikan warna dalam kehidupan kita. Tetapi tidak sembarang teman yang dapat menumbuhkan rasa nyaman.  Itulah sebabnya kita harus waspada dan berhati-hati dalam memilih teman. 

Ada dua kriteria teman yang baik. Pertama, teman yang baik adalah teman yang perbuatannya dapat menularkan kebaikan kepada kita. Kita sadari atau tidak teman bergaul akan mempengaruhi kehidupan kita, demikian juga sebaliknya. Teman yang baik menularkan kebaikan. Penularan itu terjadi secara bertahap. Perlahan tetapi pasti. Karakter seseorang dibentuk oleh lingkungan. Salah satu diantaranya adalah teman sepergaulan. 

Nasehat cak Lontong mengisyaratkan antara dua orang yang membangun hubungan pertemanan ada timbal balik. Orang yang takut berbuat dosa adalah teman orang yang beriman. Takut dosa dan beriman itu serupa. Orang yang beriman adalah takut dosa. Orang yang takut melakukan dosa karena dia beriman. 

Kriteria kedua  teman yang baik adalah teman yang perkataannya adalah nasehat. Nasehat untuk selalu meningkatkan ketakwaan. Teman yang baik bukan teman ghibah yang selalu membicarakan keburukan orang lain. Teman yang baik adalah teman yang membuat kita merasa nyaman, tidak menghakimi, tidak memaksa kita untuk mengikuti kehendaknya, tidak terlihat baik ketika mendapatkan sesuatu dari kita, tidak suka memuji dan tidak suka dipuji. 

Meski tidak banyak jumlahnya dalam kehidupan nyata, tetapi teman seperti ini ada. Bila kita sudah menemukan, jangan sia-siakan dia.  

Begitu pentingnya memilih teman, maka kita harus berhati-hati dan cermat dalam memutuskan dengan siapa kita berteman.        
 


Rabu, 31 Maret 2021

Quotes dari Ikatan Cinta

 



Saya bukan pecinta sinetron, sebetulnya. Tidak banyak sinetron yang saya tonton. Beberapa saja dan itupun termasuk sinetron yang jalan ceritanya masuk akal, bercerita tentang kehidupan dan membawa pesan moral yang baik. 


Maka, ketika ada sinetron yang viral saya terlambat mengetahuinya. Judulnya Ikatan Cinta. Pemainnya ganteng dan cantik. Melihat tayangannya yang sepotong-sepotong saja membuat saya keranjingan dan semakin kepo untuk mengulik episode-episode sebelumnya. 

Pembelajaran memang dapat diperoleh dari mana saja. Pembelajaran juga dapat diperoleh dari jalan cerita sebuah sinetron. Asal Tuhan membuka hati kita untuk mendapatkan pelajaran, dari hal buruk sekalipun kita bisa mendapatkan pembelajaran. 

Sembari menonton, saya mencatat quotes-quotes menarik di sepanjang episode sinetron ini. Mungkin banyak penonton yang tidak menyadarinya. Nah, saya akan menyalin quotes-quotes itu di sini untuk anda. 

Inilah dia, 

Sabtu, 02 Januari 2021

Untung Gak Ada

 
Kejadian ini sudah berlangsung beberapa hari yang lalu. Tetapi kalimat itu selalu terngiang-ngiang. Ceritanya, waktu itu Ami, si bungsu yang sedang merintis usaha jasa cetak dan desain mendapat order undangan pernikahan. Ini adalah order pertama untuk cetak undangan. Setelah disepakati jenis dan jumlah undangan mulailah dia memperosesnya. Singkat cerita dia akan membeli blangko undangan itu di salah satu agen di Tulungagung. Deal, sayapun ikut dengannya. Belakangan saya memang hobi mengekor kemana si bungsu pergi. 

Tugas saya adalah menemani dan melayaninya saat dia ingin berdiskusi tentang hal remeh temeh yang tidak ada urusannya dengan desain. Selain itu tentu saja siap siaga bila dia membutuhkan sesuatu yang berhubungan dengan duit. Biasalah. Orangtua kan memang itu tugasnya. 
Kami langsung menuju agen blangko undangan. Ami terlibat pembicaraan serius dengan pramuniaganya sementara saya duduk di tempat yang agak jauh dengannya. Beberapa saat kemudian dia menghampiri saya dan berkata, "Blangko yang aku cari gak ada. Padahal kemarin pas aku tanya ada" Wajahnya menyiratkan kekecewaan. Saya pun bertanya apa yang akan dia lakukan, apakah mengcancel orderan atau mencari agen lain untuk mendapat barang yang dia inginkan itu. "Kita cari warung dulu. Pengen duduk dan searching agen lain" katanya. 
Kami berjalan meninggalkan toko itu, menyeberangi jalan. Ami menghampiri cafe yang pintunya tertutup, mendorongnya dan masuk ke dalam. Lagi-lagi saya mengekor di belakangnya. Saya baru menyadari ada cafe di situ. Dari luar seperti ruko tutup. Ternyata didalamnya OK. Kafe dengan konsep anak muda banget. Sepertinya kafe ini menjual minuman kekinian. Ruangannya tidak terlalu luas tetapi tertata apik. Ber AC lagi. Saat kami masuk ada bapak ojol yang sedang menunggu pesanan. 
Kami duduk di salah satu bangku. Tak banyak orang di situ, tetapi penjualnya terlihat sibuk. Satu dua orang datang untuk mengambil pesanan. Penjualannya secara online, batin saya. Inilah cara berdagang anak-anak millenial. 

Kami lama duduk di situ. Sampai minuman kami habis. Ami sibuk dengan gadgetnya. Begitu serius. Saya tahu dia sedang bekerja, bukan bermain. Maka saya tidak mengajaknya bicara. Saya juga asyik dengan gadget saya, baca novel. 

"Yes. Dapat" pekik Ami lirih. 
Saya menoleh, melihat wajahnya bersinar.
"Kita kemana sekarang?" 
"Pulang?"
Lah kok pulang. 
"Saya dapat agen Surabaya. Di sana tersedia banyak dengan harga miring. Besok kita ambil sekalian jemput Deeja" jelasnya sebelum saya bertanya lebih banyak. Oalah, jadi hasil dia ngutek hp sedari tadi itu hasilnya. 

Kami pun pulang. Bayangkan, perjalanan Blitar-Tulungagung dapatnya agen Surabaya. Oh my God. 

Di perjalanan pulang dia berkata, "Untung di agen itu gak ada, saya jadi tahu yang lain"  Saya melongo mendengarnya. 

Kalimat itu sepintas terdengar aneh. Untung kok karena gak ada. Bertolak belakang kan? Tetapi itulah yang terjadi. Karena tidak ada maka dia berpikir dimana mendapatkannya. Karena tidak ada di Tulungagung maka searching mengantarkannya menemukan agen lain yang lebih besar dengan harga yang lebih murah. Karena gak ada, wawasannya bertambah, ilmunya bertambah. Semua karena gak ada. Begitulah kira-kira jalan pikiran Ami. 

Jadi, segala sesuatu itu tinggal bagaimana kita memaknainya. Yang terlihat tidak menguntung kan pun bisa membawa berkah kalau kita memaknainya sebagai berkah. Dengan kata lain, dibalik kerugian bisa disematkan keuntungan. Maka yang terjadi sebaliknya pun demikian. Pada hal yang terlihat menguntungkan bisa juga tersemat sesuatu yang merugikan. 

Beruntunglah orang yang diberi ilmu untuk melihatnya dengan awas. 

Jumat, 01 Januari 2021

Tahun Depan, Ngapain Ya?

Selamat tahun baru 2021. Hari ini kita bangun sudah disongsong sinar matahari tahun 2021. Padahal beberapa jam lalu kita masih berada di tahun 2020. Alhamdulillah ya masih diberi kesempatan menghirup udara di tahun baru ini. 

Perayaan tahun baru sudah berakhir. Tak sedikit yang merayakan dengan segala kemeriahan yang bisa kita usahakan. Ada yang merayakannya dengan mengunjungi tempat wisata bersama keluarga. Ada yang merayakannya dengan menggelar makan-makan bersama teman-temannya. Ada juga yang bertafakur di bilik sepi. 

Senin, 28 Desember 2020

Renungan Akhir Tahun

Tetiba saja kita sudah berada di penghujung tahun. Saat saya membuat tulisan ini, tahun baru tinggal tiga hari lagi. Menjelang tahun baru saatnya berintropeksi diri. Mengenang capaian selama 365 hari yang sudah terlewati. Kita  pasti akan mengenang kejadian-kejadian berkesan tahun ini. Mungkin kita ditakdirkan mengalami masa-masa berat atau sebaliknya, kita dihujani anugerah tiada tara oleh yang maha kuasa. 

Satu hal yang sangat berkesan bagi saya dan selertinya akan terus menempel diingatan. Begini ceritanya. Setiap awal tahun setiap ASN kan harus membuat progran sasaran kerja. Namanya sasaran kerja pegawai. Dalam program itu seorang ASN harus membuat program untuk dirinya sendiri. Rencana apa yang harus dilakukan selama setahun ke depan. Selain kegiatan wajib yang menjadi tupoksinya (merencanakan, melaksanakan dan melakukan evaluasi) seorang guru harus memprogram kan kegiatan-kegiatan yang menunjang peningkatan kompetensi seperti unsur pengembangan diri dan PKB. Salah satu unsur yang saya programkan saat itu adalah membuat buku pedoman guru. 

Buku pedoman guru merupakan acuan kerja seorang guru setahun ke depan. Di dalam buku pedoman guru itu saya tuliskan target saya di tahun 2020 yang meliputi peningkatan 4 kompetensi yaitu kompetensi pedagogis, profesional, sosial dan kepribadian. Dalam setiap target saya jabarkan secara detil kegiatan apa saja yang akan saya lakukan untuk mencapai target itu. 

Jujur saja saat membuat buku pedoman guru itu yang terpikir dalam benak saya hanyalah memenuhi kewajiban saja. Menggugurkan kewajiban. Itu sebabnya maka saya segera melupakan sesaat setelah membuatnya. Saya menyimpannya  dalam bentuk file yang belum sempurna di folder bersama dengan dokumen-dokumen yang lain. Setelah itu saya tidak pernah membuka apalagi membacanya. 

Kegiatan berjalan dan sayapun disibukkan dengan banyak tugas. Banyak kejadian yang menyita energi saya. Diantaranya pandemi covid 19. Bagi saya, tahun ini merupakan tahun terberat. Pandemi mengharuskan pembelajaran dilaksanakan secara daring. Dengan segala keterbatasan saya mulai mengubah moda pembelajaran. Ini bukan hal yang mudah. Saya sadar kemampuan saya terbatas tetapi saya tidak boleh menyerah. 

Beberapa hari yang lalu seorang teman meminta contoh buku pedoman guru dan sayapun membongkar file-file yang tersimpan rapi di folder kedinasan. Saya menemukan kembali file buku pedoman guru. Sebelum mengirimkan kepada teman, saya sempatkan untuk membaca ulang file itu. 

Saya terkesima dibuatnya. Mengapa? Setelah saya renungkan ternyata tanpa saya sadari kegiatan yang saya lakukan setahun ini sebagian besar saya tuliskan sebagai target dalam buku itu.  Buku itu sudah saya lupakan setelah saya buat saat itu. Bahkan saya belum sempat mencetaknya. Tetapi isiinya seperti menuntun saya untuk melakukan kegiatan yang sama seperti apa yang saya tuliskan. Kok bisa ya? 

Sepertinya tanpa saya sadari otak saya sudah merekamnya dan mengarahkan saya untuk melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Hal itu menyadarkan saya tentang pentingnya membuat rencana. 

Membuat rencana berarti kita meluangkan waktu untuk merenung dan memikirkan apa yang ingin kita capai di hari mendatang.  Boleh jadi kita akan mengabaikannya setelah itu tetapi otak kita akan merekam dan mengarahkan kita. Itulah sebabnya kita perlu membuat resolusi di awal tahun.  

Bagaimana menurut Anda? 

Paling sering dilihat

Nah Kan! Ternyata Aku Salah Menilai Tubuhku

Salah satu masalah yang aku hadapi sebagai seorang penderita diabetes adalah  mengatasi rasa lapar.   Mungkin karena kebiasaan m...