Pernah curhat atau dicurhati seseorang? Pernah dong. Curhat, ngobrol, atau wadul adalah bagian dari interaksi sosial yang menghubungkan kita dengan orang lain. Ketika emosi menumpuk terlalu lama—dada terasa sesak, kepala pusing, dan bawaannya ingin marah—kita butuh cara untuk melegakannya. Salah satunya ya dengan curhat. Menyampaikan uneg-uneg yang membuat dada sesak kepada orang lain.
Pun begitu dengan orang lain. Ketika mereka menceritakan isi hatinya kepada kita, bisa jadi itu karena mereka ingin mengurangi beban hidupnya. Ingin didengar. Ingin merasa tidak sendirian.
Jadi, tidak ada yang salah dengan curhat. Tapi… curhat juga bisa bikin masalah.
Curhat yang bagaimana sih yang justru memicu konflik sosial?
Bila Anda berada di posisi orang yang curhat, perhatikan beberapa fakta tentang curhat yang berpotensi bikin masalah. Tiga fakta penting curhat yang berpotensi menimbulkan masalah
1. Curhat yang Berlebihan
Semua dicurhatin. Apa pun diceritakan. Orang yang sedang curhat itu ibarat sedang membuka celah agar orang lain agar bisa melihat dirinya lebih dalam. Dengan menyampaikan segala hal tentang dirinya, sama saja dengan mengajak orang lain menjelajahi hidupnya—tanpa batas.
Masalahnya, membuka celah terlalu besar itu berbahaya ke depannya. Hubungan antar manusia tidak selalu baik-baik saja. Hari ini teman, besok bisa saja jadi orang yang paling berseberangan. Saat terjadi kesalahpahaman atau perselisihan, apa yang dulu kita ceritakan dengan polos bisa berubah menjadi senjata yang menikam diri sendiri.
Tidak semua cerita harus dibagi. Tidak semua luka harus diperlihatkan.
2. Salah Memilih Tempat Curhat
Faktanya, tidak semua orang bisa menjaga rahasia. Salah memilih tempat curhat bisa menjadi bumerang. Curhatan yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi komoditas.
Dalam obrolan yang lain, aib orang bisa menjadi bahan candaan. Cerita yang awalnya serius berubah menjadi gosip. Maka, memilih kepada siapa kita curhat itu penting. Jangan curhat kepada orang yang tidak bisa menjaga rahasia, yang suka ngoceh ke sana kemari, dan menjadikan cerita orang lain sebagai hiburan.
Curhat butuh kepercayaan. Dan kepercayaan itu mahal.
3. Tidak Melihat Kondisi Orang yang Dicurhati
Setiap orang punya masalah. Curhat sejatinya adalah membagi beban kepada orang lain. Maka, ketika kita berada di posisi orang yang curhat, ada baiknya kita juga melihat kondisi orang yang akan kita jadikan tempat bersandar.
Apakah dia sedang lelah? Apakah dia sedang memikul beban yang lebih berat dari kita? Jangan sampai niat kita meringankan diri justru menambah beban orang lain.
Lalu, bagaimana dari sudut pandang orang yang dicurhati?
Bila Anda dijadikan tempat curhat, Anda perlu mengenal tipe orang yang curhat. Setidaknya ada tiga tipe orang yang curhat kepada Anda.
Pertama, Curhat untuk Mencari Solusi
Tipe ini curhat karena memang butuh bantuan. Dia bingung, mentok, dan berharap orang yang dicurhati bisa memberikan saran atau sudut pandang lain untuk menyelesaikan masalahnya.
Menghadapi tipe ini, kita perlu mendengarkan dengan serius dan menanggapi dengan bijak. Bukan menghakimi, tapi membantu berpikir jernih. Bila Anda dicurhati seseorang berarti orang tersebut percaya kepada Anda. Berikan bantuan semampu Anda. Berikan pendapat sesuai kompetensi yang Anda miliki. Bila tidak paham dengan masalah yang dihadapi sebaiknya rekomendasikan untuk berkonsultasi kepada ahlinya.
Kedua, Curhat yang Hanya Ingin Didengar
Ada juga orang yang curhat hanya ingin meminjam telinga kita. Dia sebenarnya sudah punya solusi. Hanya saja, dia butuh ruang untuk menumpahkan isi hati agar emosinya lebih stabil. Bisa jadi dia curhat untuk sekedar mendapat respon positif dari Anda.
Untuk tipe ini, sering kali nasihat tidak terlalu dibutuhkan. Cukup dengarkan. Kadang kehadiran yang tenang jauh lebih menolong daripada seribu saran.
Ketiga, Curhat untuk Pamer
Nah, yang ini agak berbeda. Curhat tapi ujung-ujungnya pamer. Masalahnya dibungkus rapi agar terlihat sebagai pencapaian. Bukan mencari solusi, bukan juga ingin didengar, tapi ingin diakui. Menghadapi tipe ini, Anda tidak perlu merespon berlebihan. Bila Anda merasa tidak nyaman dan tidak ingin dia kembali lagi untuk mengganggu waktu Anda, respon saja dengan datar.
Intinya bila kita dijadikan tempat curhat, kita harus bijaksana. Tidak semua curhatan harus direspon dengan empati yang mendalam. Dengarkan setelah itu lupakan. Jangan ambil beban orang lain menjadi beban diri sendiri. Karena hidup harus tetap berjalan di rel masing-masing.
Pada akhirnya, curhat adalah soal keseimbangan.
Keseimbangan dalam berbicara dan mendengarkan.
Keseimbangan dalam membuka diri dan menjaga batas.
Curhat yang sehat bisa menguatkan hubungan.
Curhat yang berlebihan justru bisa memantik konflik sosial.
Yang perlu kita latih bukan hanya keberanian untuk curhat, tapi juga kebijaksanaan—kapan, kepada siapa, dan sejauh mana kita berbagi cerita
