Zaman sekarang mencari pekerjaan itu sulit. Bagi yang tidak tahu caranya. Tidak tahu ilmunya.
Sebaliknya, bagi mereka yang sudah menguasai ilmunya, jangankan mencari pekerjaan, untuk menciptakan lapangan kerja saja terasa lebih mudah.
Ada orang yang sudah melamar pekerjaan ke sana ke mari tapi belum juga dapat.
Ada yang sudah mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak bisa bertahan lama.
Ada orang yang mati-matian membangun usaha, rugi melulu.
Ada pula yang awalnya hanya iseng, eh malah jadi usahanya, bahkan sampai kaya raya.
Lalu apa sebenarnya rahasianya?
Tentu saja, hanya Allah yang Maha Tahu.
Tugas manusia hanyalah terus mencari ilmu dan berusaha.
Beberapa waktu ini saya mendengar cerita dari seseorang yang sudah lama berkecimpung di bidangnya. Ia bercerita tentang satu hal penting: bagaimana caranya agar orang yang sudah mendapatkan pekerjaan bisa bertahan di posisinya.
Nasehatnya sederhana, tapi kalau dipikir-pikir, dalam sekali.
Begini nasehatnya.
Pertama, kamu harus bisa dipercaya.
Orang yang bisa dipercaya adalah orang yang jujur.
Jujur dalam perkataan, jujur dalam perbuatan, jujur dalam tindakan.
Sepertinya kejujuran adalah harga mati bagi siapa pun yang ingin dipercaya orang lain. Dan sering kali, kejujuran inilah yang justru menyelamatkan kita dari putusnya hubungan kerja, bahkan hubungan antar sesama manusia.
Kedua, kualitas di atas pencitraan.
Maksudnya gimana?
Bekerjalah, dan tunjukkan kualitasmu.
Kualitas yang benar-benar ya, bukan sekadar kelihatannya berkualitas.
Hasil kerja yang berkualitas hanya bisa dihasilkan oleh orang yang berkualitas.
Ciri orang yang berkualitas adalah tidak asal-asalan dalam bekerja.
Dipikirkan dulu apa alasannya, apa dampaknya, dan apa yang harus dilakukan jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Jangan berusaha tampil baik tapi sebetulnya tidak.
Jangan mengejar terlihat berkualitas, padahal isinya kosong.
Ketiga, menghargai waktu.
Datang tepat waktu adalah salah satu indikator bahwa kamu menghargai waktu.
Bukan hanya menghargai waktumu sendiri, tapi juga waktu orang lain.
Seorang penjual yang membuka toko tepat waktu, misalnya, berarti ia menghargai waktu pembeli. Pembeli pun bisa mengatur waktunya untuk pekerjaan lain.
Menepati janji adalah bagian penting dari menghargai waktu.
Janji bukan sekadar ucapan. Janji adalah komitmen.
Sekali kita mudah mengingkari janji, kepercayaan orang lain pelan-pelan akan hilang.
Sebaliknya, orang yang menepati janji, meski pada hal-hal kecil, akan dikenang sebagai pribadi yang bisa diandalkan. Dan di dunia kerja, orang yang bisa diandalkan adalah aset.
Bertahan di sebuah posisi ternyata bukan soal siapa yang paling pintar, paling terlihat sibuk, atau paling pandai bicara.
Sering kali, yang bertahan adalah mereka yang konsisten menjaga hal-hal dasar: kejujuran, kualitas, dan kedisiplinan terhadap waktu serta janji.
Mungkin nasihat ini terdengar sederhana. Tapi justru yang sederhana inilah yang sering kita abaikan.
Padahal, bisa jadi di situlah letak kuncinya.
Bertahan, dipercaya, dan pelan-pelan bertumbuh… di posisi yang sudah Allah titipkan pada kita hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar