Rabu, 07 Januari 2026

Resolusi 2026


Memasuki tahun 2026, aku mengawalinya dengan tulisan ini. Seperti sebuah kesadaran bahwa aku berada di dalam dimensi waktu yang terus bergerak, tanpa jeda, tanpa kompromi. Usia bertambah tanpa benar-benar terasa. Kita berjalan melewati proses demi proses, sering kali tanpa sempat berhenti.

Yang dahulu terasa asing, perlahan menjadi terbiasa.

Yang dulu selalu bersama, pelan-pelan bisa berpisah.

Kelahiran dan kematian silih berganti mewarnai waktu yang terus bergulir, mengingatkan bahwa hidup bukan garis lurus, melainkan rangkaian peristiwa yang saling menyentuh.

Lazimnya, setelah melewati sebuah penanda waktu, seseorang akan menoleh sebentar ke belakang. Bukan untuk menyesali, tetapi untuk memastikan langkah selanjutnya lebih mantap. Ada hal-hal yang patut disyukuri, ada pula yang perlu diterima dengan lapang dada.

Di titik inilah refleksi diri menjadi penting. Kita bertanya dengan jujur:

Sudah sejauh mana aku berjalan?

Apa yang benar-benar bertumbuh dalam diriku?

Dan bagian mana yang perlu aku perbaiki?

Refleksi membantu kita mengenali potensi diri—bukan untuk dibanggakan, apalagi dipamerkan, melainkan untuk dipertanggungjawabkan. Karena setiap orang diberi bekal yang berbeda, dan setiap bekal akan dimintai arah penggunaannya.

Ada sebuah ungkapan yang masyhur dalam khazanah keislaman, yaitu: barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung. Ungkapan ini merupakan nasihat penting bagi siapa pun yang ingin kualitas dirinya terus meningkat.

Baiklah, aku akan mulai dari satu hal penting: menjadi orang merdeka. Merdeka yang seperti apa?

Merdeka artinya tidak tergantung, bebas menentukan pilihan, dan bebas dari intimidasi dalam bentuk apa pun. Merdeka bukan takdir, apalagi hadiah. Merdeka harus diusahakan dan diperjuangkan.

Faktanya, kita memang tidak dijajah, tidak dihukum, atau dibatasi ruang geraknya. Tetapi yang sering tidak kita sadari adalah pikiran kita sendiri yang memposisikan kita pada posisi terjajah.

Namanya validasi. Validasi itu apa? Validasi adalah pengakuan. Validasi orang lain berarti pengakuan orang lain terhadap apa yang kita lakukan. Jika aku hidup berdasarkan pengakuan orang lain, maka apa yang aku lakukan akan aku yakini baik ketika orang lain menganggapnya baik. Sebaliknya, aku akan meyakini sesuatu itu buruk ketika orang lain mengatakan demikian. Jadi, acuannya berasal dari sudut pandang orang lain.

Contoh konkretnya begini. Ketika aku akan melakukan sesuatu, aku berpikir dulu: apa kata orang? Kalau orang memuji, ayo lanjut. Tolok ukurnya pujian atau cacian. Tanpa aku sadari, aku mencari pujian atas apa pun yang aku lakukan.

Nah, yang seperti inilah yang harus berubah di tahun 2026. Tidak boleh lagi seperti ini. Acarannya harus syariat. Allah yang membuatnya. Acuan ini tidak akan bergeser dan jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Hidupku bukan tentang memenuhi ekspektasi, melainkan tentang kesadaran. Tentang keberanian memilih jalan yang mungkin sunyi, tetapi jujur dan menenangkan.

Maka, tahun 2026 ini semoga menjadi tahun di mana kita melangkah dengan lebih sadar—tidak tergesa, tidak silau, dan tidak kehilangan arah.

Karena waktu akan terus bergerak, tetapi kualitas langkah kitalah yang menentukan makna perjalanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Paling sering dilihat

Resolusi 2026

Memasuki tahun 2026, aku mengawalinya dengan tulisan ini. Seperti sebuah kesadaran bahwa aku berada di dalam dimensi waktu yang ...