Selasa, 06 Mei 2025

Melepas Bukan Berarti Kalah, Tapi Dewasa


Setiap orang pasti pernah terluka. Bukan oleh pisau, bukan oleh benda tajam, tapi oleh kata-kata dan sikap dari orang lain—kadang dari orang yang justru paling dekat. Luka batin memang tidak terlihat, tapi dampaknya bisa sangat dalam. Ia bisa membekas bertahun-tahun, bahkan bertahan lebih lama dari luka fisik.

Sering kali, setelah disakiti, kita terdorong untuk terus membahasnya. Menceritakan ulang kejadian itu kepada teman, keluarga, bahkan kepada diri sendiri. Kita memutar kembali adegannya di kepala, mengingat kata demi kata, merasa marah, kecewa, sedih—semua campur aduk. Tapi sadar atau tidak, ketika kita terus mengangkat-angkat luka itu, kita sedang mengutiknya sendiri. Dan luka yang diutik-utik tidak akan pernah sembuh.

Mungkin memang ada kelegaan saat bercerita. Tapi jika dilakukan terus-menerus tanpa batas, cerita itu malah berubah menjadi beban. Kita menjadi terlalu fokus pada sosok yang menyakiti kita, terlalu lama hidup dalam bayang-bayang rasa sakit. Padahal, jalan menuju penyembuhan dimulai saat kita mengalihkan fokus dari “siapa yang menyakiti” ke “bagaimana cara menyembuhkan”.

Memaafkan bukan berarti setuju dengan kesalahan orang lain. Memaafkan juga bukan berarti melupakan begitu saja. Tapi memaafkan adalah bentuk perlindungan terhadap diri sendiri, agar tidak terus terbebani oleh hal yang tidak bisa diubah. Ketika kita berhenti membicarakan orang yang menyakiti kita, itu bukan berarti kita kalah—justru itu tanda kita sedang menang atas luka.

Langkah pertama bisa dimulai dengan sederhana: berhenti membuka luka itu lagi. Setiap kali muncul keinginan untuk menceritakan ulang kejadian menyakitkan, tahan sebentar. Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini akan membuatku merasa lebih baik, atau justru membuat luka ini makin dalam?”

Hidup terus berjalan. Akan ada orang-orang baru yang menyayangi dan menghargai kita. Akan ada kesempatan-kesempatan baru untuk tumbuh dan bahagia. Tapi semua itu sulit digapai kalau kita masih menggenggam erat kenangan yang menyakitkan.

Semoga siapa pun yang sedang membaca ini dan sedang terluka, pelan-pelan bisa memilih untuk sembuh. Tidak apa-apa butuh waktu. Tidak apa-apa kalau hari ini masih belum bisa melupakan. Tapi jangan berhenti berusaha. Karena kita semua layak bahagia, dan kebahagiaan itu bisa dimulai dari satu keputusan sederhana: berhenti mengulik luka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Paling sering dilihat

Resolusi 2026

Memasuki tahun 2026, aku mengawalinya dengan tulisan ini. Seperti sebuah kesadaran bahwa aku berada di dalam dimensi waktu yang ...