Obrolan pada suatu hari. Seorang bocah kecil berusia lima tahun berada di antara kami. Dia merengek minta dibuatkan video. Ketika kamera HP diarahkan ke wajah mungilnya, sontak dia beraksi. Suaranya berubah centil. Kepalanya digeleng-gelengkan. Logat dan bahasanya juga berubah. Sapaannya guys.
Halo guys, ini aku lagi makan. Pakai tahu telur sama kecap. Hmm mantap. Sambelnya mantap. Ada yang (cabe) merah ijo diaduk. Hmm mantap.
Kaget dong aku. Perasaan dia tidak suka sambal dan tidak ada sambal di piringnya. Dia juga tidak membantu tantenya menyiapkan makanan. Lah dari mana itu kata-kata sambel nya mantap, mengaduk cabe merah dan hijau.
Eh, Dheeja kamu kan ga makan sambel, kenapa bilang makan sambel?
Dia menjawab santai: Pura-puranya
Oh rupanya yang dia pahami, dia itu sedang ngonten dan ga pa pa pura-pura. Kan cuma buat konten.
Aku tertawa sampai terpingkal-pingkal. Tapi setelahnya aku menyadari sesuatu. Bocil ini mewakili generasinya. Hidup di dua dunia yaitu dunia nyata dan dunia konten. Pura-pura dinormalisasi untuk konten.
Tapi di usia sekecil itu, dunianya penuh imajinasi. Dia masih belum bisa membedakan dengan jelas dunia nyata dan dunia konten yang imajiner.
Ini saya harus bangga karena sekecil itu dia sudah mampu membuat konten atau menangis karena dia mahir berpura - pura?
Dalam kamus hidupku, jujur itu penting dan merupakan pondasi hidup seseorang. Berbagai masalah hidup sering di awali dengan ketidak jujuran. Hubungan yang gagal juga bermula dari ketidakjujuran. Hilangnya kepercayaan juga diawali dengan ketidakjujuran. Itu lah alasan mengapa jujur harus ditanamkan sejak dini.
Ini adalah kode keras. Di titik ini, sikapku jelas: menolak ketidakjujuran, apa pun alasannya, terlebih pada anak kecil.
Bukan karena mereka berniat buruk, tetapi karena mereka belum memiliki kesadaran penuh tentang mana yang benar dan mana yang salah.
Di usia itu, apa yang mereka lakukan hari ini bisa menjadi kebiasaan esok hari, lalu menjadi karakter di masa depan.
Anak kecil belum punya kemampuan memilah: ini sekadar konten, ini kenyataan. Yang mereka pahami sederhana—boleh atau tidak boleh. Jika hari ini pura-pura dibenarkan, besok bisa jadi mengada-ada terasa wajar.
Bukan salah anaknya, tapi pesan penting untuk orang dewasa agar menjaga batas itu tidak kabur.
Di sinilah peran orang tua dan orang dewasa menjadi sangat penting. Mendampingi, bukan sekadar memberi izin. Mengarahkan, bukan hanya tertawa lalu selesai. Dunia digital tidak bisa dihindari, tapi nilai hidup tetap harus ditanamkan.
Konten tidak harus lahir dari kepalsuan. Tidak perlu berpura-pura makan sambal untuk terlihat seru. Tidak harus mengada-ada demi dianggap menarik.
Menurutku, konten adalah cerita. Dan cerita terbaik justru lahir dari kejujuran. Dari hal-hal sederhana yang apa adanya.
Anak-anak tidak perlu dilatih menjadi luar biasa dengan mengorbankan kejujuran demi sebuah konten. Mereka perlu dibiasakan menjadi jujur— dan itu sudah luar biasa.
Aku percaya, kejujuran bukan bakat, tapi latihan. Dan latihan itu dimulai sejak dini. Sebelum anak-anak mengenal like, views, dan validasi, biarlah mereka terlebih dahulu mengenal nilai.
Karena ketika suatu hari mereka benar-benar paham dunia konten, mereka sudah memiliki kompas batin yang kuat: tahu kapan bercerita, dan tahu kapan harus jujur pada diri sendiri.
Itu jauh lebih penting daripada sekadar terlihat mantap di kamera.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar