Nasihat Pagi Ini
Sebetulnya nasihat ini ditujukan untuk para pebisnis. Tapi seperti banyak pelajaran hidup lainnya, rasanya ia tidak pernah benar-benar eksklusif. Ia bisa berlaku di mana saja, untuk siapa saja.
Ada tiga hal yang aku catat.
Pertama, dalam memilih supplier, jangan hanya terpaku pada harga murah. Karena harga murah sering kali menyimpan risiko di belakang hari. Awalnya memang terlihat menguntungkan, tapi jika kualitas buruk, pengiriman bermasalah, atau komitmen tidak terjaga, biaya yang harus dibayar justru bisa lebih mahal. Murah di depan, mahal di belakang.
Kedua, soal visibilitas. Pebisnis diminta untuk punya data. Tahu persis apa yang dimiliki, apa yang dijual, apa yang bergerak, dan apa yang macet. Tanpa data, keputusan hanya akan berdasar perkiraan. Dan terlalu sering, perkiraan membawa kita ke arah yang keliru.
Ketiga, dan ini yang paling menarik perhatianku: menyerahkan semua urusan pada satu orang.
Aku bukan pebisnis. Tapi nasihat ketiga ini terasa sangat mengena. Bahkan menurutku, ia berlaku di hampir semua sistem kehidupan—organisasi, lembaga, komunitas, bahkan keluarga.
Menggantungkan sebuah sistem hanya pada satu orang itu, jujur saja, konyol. Bukan karena orang itu tidak hebat. Justru sering kali karena dia terlalu hebat. Terlalu bisa. Terlalu diandalkan.
Padahal manusia bukan mesin. Manusia punya batas. Bisa lelah, bisa sakit, bisa punya urusan lain. Ketika semua pengetahuan, kendali, dan keputusan hanya ada di satu kepala, maka sistem itu sesungguhnya sedang berdiri di atas kaki yang rapuh.
Dalam sebuah organisasi, mengandalkan satu “manusia super” ibarat menggenggam bom. Kelihatannya aman, tapi sewaktu-waktu bisa meledak dan melumpuhkan semuanya. Bayangkan jika suatu hari orang ini sakit atau berhalangan, sementara yang lain tidak paham alur kerja, tidak tahu harus berbuat apa, dan tidak bisa menggantikan. Yang terjadi bukan sekadar keterlambatan, tapi kelumpuhan.
Dari sini aku belajar satu hal penting: kolaborasi bukan sekadar konsep, tapi sikap hidup. Setiap orang, siapa pun dia, di posisi apa pun, dan di mana pun berada, punya tanggung jawab untuk ikut menjaga sistem agar tetap hidup dan berjalan.
Berada dalam sebuah sistem seharusnya membuat kita bertanya pada diri sendiri: aku sedang membangun atau justru meruntuhkan? Apakah kehadiranku memudahkan, atau malah menyulitkan? Apakah aku mau belajar, berbagi, dan saling menguatkan, atau justru merasa paling benar sendiri?
Sistem yang sehat tidak lahir dari satu orang yang bekerja paling keras, tapi dari banyak orang yang mau saling mensupport. Yang mau belajar satu sama lain. Yang sadar bahwa perannya mungkin kecil, tapi tetap penting. Karena ketika setiap orang mau mengambil bagian—sekecil apa pun itu—sistem menjadi lebih kuat, lebih lentur, dan lebih tahan terhadap guncangan.
Akhirnya aku sampai pada kesimpulan sederhana:
di mana pun kita berada, apa pun jabatan kita, tugas kita sama—menjadi bagian yang menguatkan, bukan yang melemahkan. Mendukung sistem, bukan menjadi beban di dalamnya. Karena sistem yang baik hanya akan bertahan jika orang-orang di dalamnya saling menopang, bukan saling menggantungkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar