Yasin adalah nama sebuah surah di dalam Al-Qur’an. Surah ke-36 ini terletak di juz 15 dan terdiri dari 83 ayat. Surah Yasin termasuk salah satu surah yang sangat populer di kalangan umat Islam. Banyak orang menjadikannya sebagai bacaan favorit, bahkan amalan rutin. Ada yang membacanya seminggu sekali, ada pula yang membacanya setiap hari sebagai bentuk ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah.
Kata yasinan berasal dari kata Yasin yang diberi akhiran -an. Dalam bahasa Jawa, bentuk kata seperti ini biasanya merujuk pada suatu aktivitas yang dilakukan secara berulang dan menjadi kebiasaan. Maka, yasinan dapat dimaknai sebagai kegiatan membaca Surah Yasin yang dilakukan secara rutin dan bersama-sama.
Di desa tempat aku tinggal, yasinan telah menjadi tradisi yang hidup dan mengakar. Membaca Surah Yasin tidak hanya dilakukan di masjid atau musholla, tetapi juga oleh kelompok-kelompok kecil bapak-bapak maupun ibu-ibu. Mereka membentuk jamaah sederhana yang diikat oleh niat baik: berdoa bersama, menjaga silaturahmi, dan saling menguatkan.
Kelompok-kelompok yasinan ini biasanya bertemu satu minggu sekali. Ada yang menetap di masjid atau musholla, ada pula yang memilih sistem anjangsana—berpindah dari satu rumah ke rumah anggota lainnya secara bergiliran. Waktunya pun beragam, ada yang sore hari selepas Ashar, ada pula yang malam hari setelah Isya. Semua berjalan dengan kesepakatan dan saling pengertian.
Yasinan bukan sekadar membaca Surah Yasin. Di dalamnya sering disertai tahlil, doa-doa untuk orang tua dan keluarga yang telah wafat, serta doa untuk berbagai hajat kehidupan. Kadang juga ada tausiyah singkat atau nasihat sederhana yang justru terasa mengena karena disampaikan dalam suasana kekeluargaan.
Mengikuti yasinan membuat kita lebih terhubung dengan lingkungan sekitar. Dari pertemuan rutin inilah kita tahu kabar tetangga: siapa yang sedang sakit, siapa yang punya hajat, siapa yang sedang diuji kehidupannya. Tanpa banyak tanya, tanpa harus membuka aib, kepedulian itu tumbuh dengan sendirinya.
Ketika ada kabar tetangga sakit, doa langsung dipanjatkan. Ketika ada yang kesusahan, hati tergerak untuk membantu. Dari yasinan, kita belajar peka dan tidak hidup sendiri-sendiri. Kepedulian sosial dirawat melalui kebiasaan yang sederhana namun penuh makna.
Selain menumbuhkan kepedulian, yasinan juga menambah ilmu. Dari obrolan ringan, dari tausiyah singkat, dari pengalaman hidup sesama jamaah, kita belajar banyak hal: tentang sabar, tentang ikhlas, dan tentang cara menjalani kehidupan bermasyarakat dengan akhlak yang baik.
Bagi saya pribadi, yasinan bukan sekadar rutinitas mingguan. Ia adalah ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk urusan dunia, lalu duduk bersama, membaca ayat-ayat Allah, dan menguatkan hati satu sama lain. Di sanalah saya belajar bahwa agama tidak selalu harus disampaikan dengan kata-kata besar, tetapi bisa hadir dalam kebersamaan yang sederhana.
Yasinan mengajarkan saya untuk tidak hanya rajin berdoa, tetapi juga hadir bagi lingkungan sekitar. Mengingatkan bahwa hidup bermasyarakat membutuhkan kepedulian, kesabaran, dan keikhlasan.
Selama yasinan dijalankan dengan niat yang baik dan adab yang dijaga, tradisi ini layak untuk terus dirawat. Karena dari yasinan, kita tidak hanya membaca Surah Yasin, tetapi juga merawat iman, silaturahmi, dan rasa kemanusiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar