Senin, 22 Desember 2025

Raport dan Perjalanan Mencapai Tujuan



Hai anak muda, kalian sudah terima raport, kan?

Sudah dilihat apa saja yang tertera di sana? Sudahkah kalian menyimpulkan apa sebenarnya isi raport itu?

Semoga kalian semua mendapatkan laporan capaian pembelajaran yang memuaskan. Bagi siswa dan orang tua, momen menerima raport seharusnya menjadi saat yang spesial. Di sana, seluruh usaha selama satu semester ditampilkan. Laporannya memang dalam bentuk angka-angka, karena melihat angka jauh lebih mudah untuk mewakili banyak hal. Di raport, angka merepresentasikan capaian pembelajaran.

Seharusnya begitu, kan?

Lalu, apa sebenarnya yang Bapak, Ibu, dan para siswa harapkan dari angka-angka itu? Nilai yang bagus dan sempurna? Nilai yang melampaui teman-teman satu kelas alias ranking?

Bila nilai raport baik dan melampaui siswa lain, apakah orang tua dan siswa otomatis bangga? Jika iya, bangga karena apa? Apakah bangga karena siswa telah mencapai kompetensi maksimal, atau sekadar bangga karena merasa "lebih" dari yang lain?

Perlu kita sadari, beberapa tahun terakhir ini ranking sudah tidak dituliskan di raport. Akhirnya, banyak siswa dan orang tua yang kehilangan arah karena tidak tahu putranya ranking berapa. Mengapa kebijakan ini diambil?

Sederhana saja: karena prestasi siswa tidak harus diukur dengan cara membandingkannya dengan orang lain. Tidak perlu! Prestasi siswa diukur berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sejak awal.

Ibaratnya begini: Kita hendak melakukan perjalanan dengan tujuan negara Singapura. Nah, raport itu serupa laporan proses perjalanan tersebut. Laporannya akan menunjukkan: Apakah kita sudah sampai di tujuan, atau justru masih tertahan di Batam?

Jadi, jangan jadikan ranking sebagai tujuan utama. Fokuslah belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.

Lalu, bagaimana kalau ternyata nilainya jelek? Artinya, proses untuk mencapai tujuan tersebut belum maksimal. Kita belum sampai pada titik yang ditentukan di awal. Apakah itu salah? Tentu tidak.

Setiap siswa itu unik. Setiap anak membutuhkan waktu yang berbeda untuk sampai di tujuan. Cara mencapainya pun tidak harus sama; ada yang naik pesawat, ada yang menggunakan transportasi darat, ada pula yang lewat laut. Yang paling penting untuk diingat bukanlah kecepatannya, melainkan: Bagaimana prosesnya? Apakah caranya sudah benar?

Dari fenomena raport ini, hal yang paling krusial sebenarnya adalah refleksi.

Setelah menerima raport, bertanyalah pada diri sendiri: Dengan capaian seperti ini, apa yang bisa diperbaiki? Apa yang harus dilakukan agar kompetensi kita jauh lebih baik di tahun-tahun berikutnya?

Jadi, setelah memahami ini semua, mengapa kita masih harus sibuk bertanya: "Anakmu ranking berapa?"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Paling sering dilihat

Bertahan di Posisi yang Allah Titipkan

Zaman sekarang mencari pekerjaan itu sulit. Bagi yang tidak tahu caranya. Tidak tahu ilmunya. Sebaliknya, bagi mereka yang suda...