Rabu, 24 Desember 2025

Kolaborasi: Cara Paling Waras Menjaga Sistem Tetap Hidup



Nasihat Pagi Ini

Sebetulnya nasihat ini ditujukan untuk para pebisnis. Tapi seperti banyak pelajaran hidup lainnya, rasanya ia tidak pernah benar-benar eksklusif. Ia bisa berlaku di mana saja, untuk siapa saja.

Ada tiga hal yang aku catat.

Pertama, dalam memilih supplier, jangan hanya terpaku pada harga murah. Karena harga murah sering kali menyimpan risiko di belakang hari. Awalnya memang terlihat menguntungkan, tapi jika kualitas buruk, pengiriman bermasalah, atau komitmen tidak terjaga, biaya yang harus dibayar justru bisa lebih mahal. Murah di depan, mahal di belakang.

Kedua, soal visibilitas. Pebisnis diminta untuk punya data. Tahu persis apa yang dimiliki, apa yang dijual, apa yang bergerak, dan apa yang macet. Tanpa data, keputusan hanya akan berdasar perkiraan. Dan terlalu sering, perkiraan membawa kita ke arah yang keliru.

Ketiga, dan ini yang paling menarik perhatianku: menyerahkan semua urusan pada satu orang.

Aku bukan pebisnis. Tapi nasihat ketiga ini terasa sangat mengena. Bahkan menurutku, ia berlaku di hampir semua sistem kehidupan—organisasi, lembaga, komunitas, bahkan keluarga.

Menggantungkan sebuah sistem hanya pada satu orang itu, jujur saja, konyol. Bukan karena orang itu tidak hebat. Justru sering kali karena dia terlalu hebat. Terlalu bisa. Terlalu diandalkan.

Padahal manusia bukan mesin. Manusia punya batas. Bisa lelah, bisa sakit, bisa punya urusan lain. Ketika semua pengetahuan, kendali, dan keputusan hanya ada di satu kepala, maka sistem itu sesungguhnya sedang berdiri di atas kaki yang rapuh.

Dalam sebuah organisasi, mengandalkan satu “manusia super” ibarat menggenggam bom. Kelihatannya aman, tapi sewaktu-waktu bisa meledak dan melumpuhkan semuanya. Bayangkan jika suatu hari orang ini sakit atau berhalangan, sementara yang lain tidak paham alur kerja, tidak tahu harus berbuat apa, dan tidak bisa menggantikan. Yang terjadi bukan sekadar keterlambatan, tapi kelumpuhan.

Dari sini aku belajar satu hal penting: kolaborasi bukan sekadar konsep, tapi sikap hidup. Setiap orang, siapa pun dia, di posisi apa pun, dan di mana pun berada, punya tanggung jawab untuk ikut menjaga sistem agar tetap hidup dan berjalan.

Berada dalam sebuah sistem seharusnya membuat kita bertanya pada diri sendiri: aku sedang membangun atau justru meruntuhkan? Apakah kehadiranku memudahkan, atau malah menyulitkan? Apakah aku mau belajar, berbagi, dan saling menguatkan, atau justru merasa paling benar sendiri?

Sistem yang sehat tidak lahir dari satu orang yang bekerja paling keras, tapi dari banyak orang yang mau saling mensupport. Yang mau belajar satu sama lain. Yang sadar bahwa perannya mungkin kecil, tapi tetap penting. Karena ketika setiap orang mau mengambil bagian—sekecil apa pun itu—sistem menjadi lebih kuat, lebih lentur, dan lebih tahan terhadap guncangan.

Akhirnya aku sampai pada kesimpulan sederhana:
di mana pun kita berada, apa pun jabatan kita, tugas kita sama—menjadi bagian yang menguatkan, bukan yang melemahkan. Mendukung sistem, bukan menjadi beban di dalamnya. Karena sistem yang baik hanya akan bertahan jika orang-orang di dalamnya saling menopang, bukan saling menggantungkan.


 

Senin, 22 Desember 2025

Raport dan Perjalanan Mencapai Tujuan



Hai anak muda, kalian sudah terima raport, kan?

Sudah dilihat apa saja yang tertera di sana? Sudahkah kalian menyimpulkan apa sebenarnya isi raport itu?

Semoga kalian semua mendapatkan laporan capaian pembelajaran yang memuaskan. Bagi siswa dan orang tua, momen menerima raport seharusnya menjadi saat yang spesial. Di sana, seluruh usaha selama satu semester ditampilkan. Laporannya memang dalam bentuk angka-angka, karena melihat angka jauh lebih mudah untuk mewakili banyak hal. Di raport, angka merepresentasikan capaian pembelajaran.

Seharusnya begitu, kan?

Lalu, apa sebenarnya yang Bapak, Ibu, dan para siswa harapkan dari angka-angka itu? Nilai yang bagus dan sempurna? Nilai yang melampaui teman-teman satu kelas alias ranking?

Bila nilai raport baik dan melampaui siswa lain, apakah orang tua dan siswa otomatis bangga? Jika iya, bangga karena apa? Apakah bangga karena siswa telah mencapai kompetensi maksimal, atau sekadar bangga karena merasa "lebih" dari yang lain?

Perlu kita sadari, beberapa tahun terakhir ini ranking sudah tidak dituliskan di raport. Akhirnya, banyak siswa dan orang tua yang kehilangan arah karena tidak tahu putranya ranking berapa. Mengapa kebijakan ini diambil?

Sederhana saja: karena prestasi siswa tidak harus diukur dengan cara membandingkannya dengan orang lain. Tidak perlu! Prestasi siswa diukur berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sejak awal.

Ibaratnya begini: Kita hendak melakukan perjalanan dengan tujuan negara Singapura. Nah, raport itu serupa laporan proses perjalanan tersebut. Laporannya akan menunjukkan: Apakah kita sudah sampai di tujuan, atau justru masih tertahan di Batam?

Jadi, jangan jadikan ranking sebagai tujuan utama. Fokuslah belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.

Lalu, bagaimana kalau ternyata nilainya jelek? Artinya, proses untuk mencapai tujuan tersebut belum maksimal. Kita belum sampai pada titik yang ditentukan di awal. Apakah itu salah? Tentu tidak.

Setiap siswa itu unik. Setiap anak membutuhkan waktu yang berbeda untuk sampai di tujuan. Cara mencapainya pun tidak harus sama; ada yang naik pesawat, ada yang menggunakan transportasi darat, ada pula yang lewat laut. Yang paling penting untuk diingat bukanlah kecepatannya, melainkan: Bagaimana prosesnya? Apakah caranya sudah benar?

Dari fenomena raport ini, hal yang paling krusial sebenarnya adalah refleksi.

Setelah menerima raport, bertanyalah pada diri sendiri: Dengan capaian seperti ini, apa yang bisa diperbaiki? Apa yang harus dilakukan agar kompetensi kita jauh lebih baik di tahun-tahun berikutnya?

Jadi, setelah memahami ini semua, mengapa kita masih harus sibuk bertanya: "Anakmu ranking berapa?"


Senin, 15 Desember 2025

Detail, Kaizen, dan Menghargai Manusia: Tiga Pelajaran Sederhana yang Tidak Pernah Diajar di Sekolah

 

Dulu aku pikir, kualitas seseorang ditentukan oleh hal-hal besar: jabatan, prestasi, dan pencapaian.
Tapi setelah mendengar cerita dari orang Indonesia yang bekerja di perusahaan Jepang (@hildainprogres), cara pandangku berubah.
Ternyata, justru hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele itulah yang diam-diam membentuk kualitas seseorang

1. Detail itu penting 

Pelajaran ini bukan aku peroleh dari orang Jepang langsung, tetapi dari orang Indonesia yang bekerja di perusahaan Jepang. Belajar kan boleh dari siapa saja ya.

Pelajaran pertama yang aku dapat adalah tentang detail.
Teliti. Memperhitungkan hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele.
Ini terasa sekali ketika kita mendapat tugas atau terlibat dalam sebuah proyek. Karena kejadian besar sering kali muncul dari hal kecil yang diabaikan.

Pernah menjadi pembina upacara?
Aku pernah punya teman yang mendapat tugas itu. Dia mempersiapkannya dengan sangat matang.
Mempersiapkan materi yang akan disampaikan, latihan intonasi, dan bahkan menghitung berapa lama waktu yang ideal untuk menyampaikan amanat di podium.
Saking seriusnya, dia sampai riset kecil-kecilan ke anaknya tentang durasi terbaik supaya siswa tidak bosan.

Yang luar biasa, dia juga menyempatkan diri mengatur tinggi mikrofon di podium agar pas dengan tinggi tubuhnya. Sebelum upacara dimulai, ia menyempatkan berdiri di depan podium, ketika ratusan siswa sedang bersiap di barisan masing. Tidak peduli ratusan pasang mata memandangnya dengan tatapan aneh.
Bagi sementara orang, itu hal kecil, ya. Sering diabaikan .
Tapi dari hal kecil itulah rasa hormat dan kagum orang yang akan mendengar amanatnya muncul.
Dan dari hal kecil itu pula kualitas sebuah tugas meningkat. Terlihat keren. 


2. Kaizen — 1% lebih baik setiap hari

Pelajaran kedua adalah kaizen.
Istilah Jepang yang artinya perbaikan kecil, tapi dilakukan terus menerus.

Banyak dari kita ingin berubah besar sekaligus.
Ingin langsung rajin, langsung produktif, langsung disiplin.
Padahal perubahan seperti itu sering hanya bertahan dua hari, lalu hilang.

Dalam filosofi Jepang berbeda. Padahal sebetulnya bukan hanya filosofi Jepang ya. Dalam ajaran Islam juga ada istilah Istiqomah. Allah  lebih suka ibadah kecil yang dilakukan secara istiqomah. Ajaran ini serupa dengan filosofi Kaizen ini.
Orang Jepang percaya bahwa 1% lebih baik hari ini, kalau dilakukan setiap hari, hasilnya akan jauh lebih kuat daripada perubahan besar yang hanya dilakukan sesaat.

Aku dan banyak orang  sering merasakannya.
Kita sadar bahwa semangat itu naik turun. Ada kalanya ketika suasana hati kita baik, semangat melambung tinggi. Semua terasa ringan. Tapi di saat lain ketika suasana hati buruk apa-apa malas.  

Ini sama seperti ketika kita jalan kaki menempuh jarak yang jauh. Dengan berjalan pelan, santai berirama tetapi tetap melangkah akan menahan energi kita untuk tetap bertahan lebih lama. Tanpa terasa kita sudah menempuh jarak yang sangat jauh. 

Melakukan sedikit secara terus menerus akan membentuk kebiasaan atau habit. Ketika habit sudah terbentuk maka itu seperti mesin yang bekerja secara otomatis. Semua karakter terbentuk melalui habit. Dan habit terbentuk melalui tindakan kecil yang terus menerus. 

Tidak harus banyak.
Tidak harus sempurna.
Yang penting bergerak sedikit saja, tapi tidak berhenti.

Menulis satu paragraf.
Membereskan satu bagian rumah.
Membaca dua halaman buku.
Atau sekadar mengatur napas dan merapikan pikiran.

Itu sudah termasuk kaizen.
Dan lama-lama, perubahannya terasa.
Pelan, tapi pasti.


3. Respect for People — menghargai setiap orang

Pelajaran ketiga adalah tentang menghargai manusia.
Dalam budaya kerja Jepang, siapapun dia—satpam, office boy, pegawai baru, sampai direktur—punya tempat dan kehormatan yang sama.

Dan ini sering terlihat dari hal sederhana:
Cara mereka meminta tolong.
Cara mengucapkan terima kasih.
Cara memberi instruksi tanpa merendahkan.

Pelajaran ini terasa sekali di kehidupan kita.
Tidak ada seorangpun di dunia ini yang suka diabaikan. 

Tidak ada seorang pun yang tidak suka dianggap tidak penting.
Setiap manusia yang punya cerita yang layak didengarkan

Setiap manusia  punya keluarga, punya kelelahan, dan punya harga diri.

Sapaan ramah, penerimaan, penghargaan adalah kebutuhan dasar manusia. BIla kita ingin mendapatkannya dari orang lain, jangan lupa ajari mereka untuk melakukannya dengan cara memberi contoh. 

Bersikaplah ramah, maka orang akan menirunya.

Hargailah kerja keras bawahan Anda, maka dia akan menirunya dan melakukannya untuk Anda. 

Dengarkan saat orang lain berbicara dengan seksama, maka dia akan melakukan hal yang sama untuk Anda. 

Bila bawahan Anda yang terlihat kesulitan tanyakan : “Apa ada yang bisa saya bantu supaya tugasmu   lebih mudah?”

Bukan dengan pertanyaan “Sudah sampai mana?”
Bukan pula dengan pertanyaan “Kok lama?”
Sederhana, tapi itu bentuk respect.
Dan respect itulah yang membuat tim bekerja tanpa tekanan yang merendahkan.

Pelajaran ini sangat berarti.
Menghargai orang bukan hanya ketika mereka berjasa pada kita.
Tapi juga dalam momen kecil—menyapa, mendengarkan, tidak memotong pembicaraan, dan tidak meremehkan.

Karena pada akhirnya, pekerjaan itu memang penting,

tapi orang-orang yang mengerjakannya jauh lebih penting.


Jumat, 12 Desember 2025

Kendalikan yang Bisa, Lepaskan yang Tidak




Kendalikan apa yang bisa dikendalikan dan lepaskan apa yang tidak bisa dikendalikan.

Suatu hari aku membaca sebuah tulisan yang sangat menyentuh. Kira-kira begini bunyinya:

“Tidak ada musim yang salah. Yang ada, pakaian yang kamu kenakan yang salah.”

Aku terdiam cukup lama, merenungi kalimat itu.

Tidak ada musim yang salah. Mengapa? Karena manusia tidak punya kuasa atas musim. Perubahan cuaca, hujan, panas, angin—semuanya berada di luar kendali manusia. Ada rumus agung yang mengaturnya, dan hanya Allah yang mengetahui seluruh perhitungannya.

“Kesalahan” seringkali hanya hidup di kepala manusia. Sesuatu dianggap salah hanya karena tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal, apakah sesuatu itu benar atau salah, sering kali bergantung pada sudut pandang siapa. Si A bisa menganggap sesuatu salah, sementara si B justru melihatnya benar. Maka, penilaian manusia tentang benar dan salah sejatinya bersifat nisbi, relatif.

Dalam pengertian lain, musim adalah simbol dari hal-hal di luar diri kita. Hal-hal eksternal yang tidak bisa kita atur sesuka hati. Dan di sanalah kita harus jujur mengakui: manusia memiliki batas.

Tidak semua yang kita inginkan akan berjalan sesuai harapan.

Ketika Allah menurunkan hujan, mau kita suka atau tidak, hujan tetap turun.

Ketika kita ingin seseorang berjalan ke utara, sementara dia memilih ke selatan, kita tak bisa memaksanya begitu saja. Kalaupun kita memaksa dengan kekuatan, hatinya tetap akan menolak.

Orang lain, pikiran orang lain, keputusan orang lain—sering kali berada di luar jangkauan kendali kita.

Lalu kita kembali pada kalimat “ajaib” tadi:

Bukan musimnya yang salah, tapi pakaian yang kita kenakan.

Makna tersembunyi di balik kalimat itu adalah tentang cara kita merespons realitas.

Jika musim dingin datang, maka yang perlu diubah bukan musimnya, tetapi pilihan pakaian kita. Memakai baju tebal atau tipis adalah keputusan kita. Respon kita.

Jika kita memilih mantel tebal, kita merasa hangat.

Jika kita memilih pakaian tipis, kita akan menggigil kedinginan.

Pilihan itulah yang menentukan kenyamanan kita, bukan musimnya.

Di sinilah titik simpulnya: kemampuan memilih respon yang tepat.

Bukan sekadar memilih, tetapi memilih dengan sadar, dengan bijak, bukan asal-asalan yang justru menyulitkan diri sendiri.

Kalimat sederhana itu ternyata menyimpan pelajaran hidup yang sangat dalam.

Kita harus sadar bahwa kita terbatas. Ada hal-hal yang sesuai dengan harapan kita, dan jauh lebih banyak yang tidak.

Memaksa dunia selalu sesuai dengan kehendak kita adalah tindakan yang melelahkan dan sia-sia. Ia menguras energi yang seharusnya bisa kita gunakan untuk hal-hal yang lebih penting.

Yang cerdas bukan mereka yang memaksa dunia berubah.

Yang cerdas adalah mereka yang mampu mengatur respon dirinya sendiri.

Maka pelajarannya menjadi sangat jelas:

Kendalikan apa yang bisa kamu kendalikan, dan lepaskan apa yang tidak bisa.

Jika kamu ingin mengubah dunia, jangan mulai dari dunia.

Mulailah dari cara pandangmu terhadap dunia


Rabu, 10 Desember 2025

Belajar Merawat Jenazah, Muslimat NU Bence Menyiapkan Pelayan Umat

Kematian adalah kepastian. Ia datang tepat pada waktunya, tanpa pernah tertukar. Bagi seorang muslim, ada empat hak muslim yang meninggal dunia yang menjadi kewajiban muslim yang masih hidup yaitu: memandikan, mengkafani, menyolati, dan menguburkan. Keempatnya adalah fardhu kifayah, sehingga menjadi tanggung jawab bersama umat Islam. Bila ada yang melaksanakannya, gugurlah kewajiban bagi yang lain. Namun bila tidak ada, maka semua mendapat dosa.

Di sinilah pentingnya memiliki orang-orang yang belajar dan siap mengurus jenazah—sebuah keterampilan yang tidak hanya dibutuhkan, tetapi juga menjadi ladang ibadah yang besar.

Menindaklanjuti Pelatihan Tingkat Anak Cabang

Beberapa waktu lalu, Bidang Dakwah Muslimat NU Anak Cabang Garum mengadakan pelatihan perawatan jenazah perempuan. Pelatihan ini memberikan banyak pengetahuan sekaligus pengalaman praktis bagi para peserta, terutama mereka yang selama ini terlibat langsung dalam pelayanan kemasyarakatan.

Sebagai tindak lanjut, Ranting Muslimat NU Bence berinisiatif membagikan ilmu tersebut ke tingkat jamaah. Harapannya, setiap sub ranting atau lingkungan memiliki tim perawatan jenazah perempuan yang siap turun kapan saja dibutuhkan.

Kegiatan Perdana: Sub Ranting Bence 1

Kegiatan berbagi ilmu dimulai di Sub Ranting Bence 1. Kegiatan ini tidak hanya berbentuk penyampaian materi, tetapi juga praktik langsung menggunakan manekin. Dengan cara ini, jamaah bisa melihat dan memahami langkah-langkah perawatan jenazah secara konkret.

Penanggung jawab kegiatan adalah Bidang Dakwah Ranting Bence, dengan pemateri dari pengurus yang telah mengikuti pelatihan tingkat Anak Cabang dan sudah terbiasa mengurus jenazah perempuan di lingkungan sekitar.

Di sesi teori, pemateri menyampaikan urutan perawatan jenazah secara rinci. Sesekali beliau menambahkan contoh permasalahan lapangan yang sering berbeda dari panduan tertulis. Hal ini membuat materi lebih hidup dan mudah dipahami.

Kematian: Rahasia Allah yang Menguji kesiapan Kita

Berulang kali pemateri menegaskan bahwa kematian adalah rahasia Allah.

  • Tidak bisa diatur waktunya.
  • Tidak bisa dipilih caranya.
  • Tidak bisa disetting sesuai keinginan kita.

Allah-lah yang menentukan bagaimana seseorang meninggal, di mana tempatnya, dalam kondisi apa, dan apakah aibnya ditutup atau justru dibuka.

Mengingat kematian sering kali membuat kita gentar. Bukan karena takut pada proses matinya, tetapi takut apakah bekal kita sudah cukup. Mengingat kematian membuat kita berhenti sejenak dan bercermin: apa yang sudah kita lakukan dengan hidup ini?

Menguatkan Tradisi Pelayanan Umat

Program ini akan berlanjut ke sub ranting berikutnya. Ranting Muslimat NU Bence berkomitmen membentuk tim perawatan jenazah perempuan di setiap lingkungan, sehingga saat ada warga perempuan yang wafat, ada tim yang siap merawatnya dengan baik, sopan, dan sesuai syariat.

Semoga kegiatan sederhana ini menjadi wasilah kebaikan, memperkuat solidaritas jamaah, dan menambah bekal ibadah untuk kita semua.


Paling sering dilihat

Nah Kan! Ternyata Aku Salah Menilai Tubuhku

Salah satu masalah yang aku hadapi sebagai seorang penderita diabetes adalah  mengatasi rasa lapar.   Mungkin karena kebiasaan m...