Rabu, 14 Januari 2026

Sebelum Menuntut Diharga, Lihat Cara Kita Menghargai Diri Sendiri


Suatu ketika, di sebuah ruang, diadakan rapat dinas oleh kepala sekolah. Undangan rapat disampaikan melalui grup info sekolah yang tertutup. Grup ini bukan ruang obrolan bebas. Hanya tim manajemen yang bisa menuliskan pesan. Artinya, setiap informasi yang masuk adalah informasi penting. Bukan untuk diabaikan, apalagi dianggap sepele. Semua guru dan karyawan seharusnya mencermati dan menindaklanjutinya dengan penuh tanggung jawab.

Siang itu, rapat dimulai seperti biasa. Namun ada pemandangan yang berulang: kursi-kursi di bagian depan ruangan kosong, sepi, jarang penghuninya. Padahal di setiap meja sudah tersedia kotak kue dan minuman. Fasilitasnya sama. Tidak ada yang dibedakan.

Beberapa kali wakil kepala sekolah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan rapat mengingatkan bapak ibu guru agar mengisi bangku kosong di depan. Namun entah mengapa, kursi belakang selalu menjadi kursi favorit. Padahal, secara logika sederhana, kualitas suara tentu lebih jelas jika duduk di depan. Wajah pimpinan terlihat, materi terserap lebih utuh, suasana rapat pun terasa lebih hidup.

Karena berkali-kali diingatkan namun diabaikan, akhirnya kepala sekolah berdiri. Beliau menghampiri guru dan karyawan yang duduk di belakang. Sambil memegang mikrofon, beliau berkata dengan nada tenang namun tegas:

“Saya menghargai bapak ibu itu semua sama. Tetapi rupanya bapak ibu sendiri yang memilih menghargai diri sendiri lebih rendah dari yang seharusnya.”

Kalimat itu terasa tajam. Sedikit pedas. Tapi jujur. Dan justru karena itulah ia mengena. Tidak sedang menyalahkan, tapi menyodorkan cermin.

Sering kali, dalam kehidupan nyata, kita ingin dihargai. Ingin diperlakukan dengan baik. Ingin didengar, dianggap, dan diperhitungkan. Namun tanpa sadar, sikap kita sendiri justru berkata sebaliknya. Cara kita datang, cara kita duduk, cara kita merespons, bahkan cara kita menempatkan diri—semua itu mengirimkan pesan.

Duduk di belakang mungkin terasa nyaman. Tidak terlalu terlihat. Tidak terlalu terlibat. Tapi dalam forum resmi, sikap seperti itu bisa dibaca sebagai jarak. Seolah berkata, “Saya ada, tapi setengah hati.” Dan dunia, termasuk orang-orang di dalamnya, sangat jujur dalam merespons sikap semacam itu.

Bagaimana orang memperlakukan kita, sering kali adalah pantulan dari bagaimana kita memperlakukan diri sendiri. Jika kita menempatkan diri sekadar sebagai pelengkap, jangan heran jika kemudian dianggap tidak penting. Jika kita hadir tanpa kesungguhan, jangan kecewa jika perhatian juga setengah-setengah.

Menghargai diri bukan soal meminta perlakuan istimewa. Tapi soal keberanian mengambil posisi yang pantas. Duduk di depan. Siap terlihat. Siap mendengar. Siap terlibat. Dan siap bertanggung jawab atas peran yang kita emban.

Rapat dinas siang itu memberi pelajaran sederhana namun dalam: sebelum menuntut penghargaan dari orang lain, pastikan kita sudah menghargai diri sendiri dengan sikap yang tepat.

Karena pada akhirnya, sikap tidak pernah bohong. Ia selalu bicara lebih nyaring daripada kata-kata.


Minggu, 11 Januari 2026

Bertahan di Posisi yang Allah Titipkan




Zaman sekarang mencari pekerjaan itu sulit. Bagi yang tidak tahu caranya. Tidak tahu ilmunya.
Sebaliknya, bagi mereka yang sudah menguasai ilmunya, jangankan mencari pekerjaan, untuk menciptakan lapangan kerja saja terasa lebih mudah.

Ada orang yang sudah melamar pekerjaan ke sana ke mari tapi belum juga dapat.
Ada yang sudah mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak bisa bertahan lama.
Ada orang yang mati-matian membangun usaha, rugi melulu.
Ada pula yang awalnya hanya iseng, eh malah jadi usahanya, bahkan sampai kaya raya.

Lalu apa sebenarnya rahasianya?

Tentu saja, hanya Allah yang Maha Tahu.
Tugas manusia hanyalah terus mencari ilmu dan berusaha.

Beberapa waktu ini saya mendengar cerita dari seseorang yang sudah lama berkecimpung di bidangnya. Ia bercerita tentang satu hal penting: bagaimana caranya agar orang yang sudah mendapatkan pekerjaan bisa bertahan di posisinya.
Nasehatnya sederhana, tapi kalau dipikir-pikir, dalam sekali.

Begini nasehatnya.

Pertama, kamu harus bisa dipercaya.
Orang yang bisa dipercaya adalah orang yang jujur.
Jujur dalam perkataan, jujur dalam perbuatan, jujur dalam tindakan.
Sepertinya kejujuran adalah harga mati bagi siapa pun yang ingin dipercaya orang lain. Dan sering kali, kejujuran inilah yang justru menyelamatkan kita dari putusnya hubungan kerja, bahkan hubungan antar sesama manusia.

Kedua, kualitas di atas pencitraan.
Maksudnya gimana?

Bekerjalah, dan tunjukkan kualitasmu.
Kualitas yang benar-benar ya, bukan sekadar kelihatannya berkualitas.

Hasil kerja yang berkualitas hanya bisa dihasilkan oleh orang yang berkualitas.
Ciri orang yang berkualitas adalah tidak asal-asalan dalam bekerja.
Dipikirkan dulu apa alasannya, apa dampaknya, dan apa yang harus dilakukan jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Jangan berusaha tampil baik tapi sebetulnya tidak.
Jangan mengejar terlihat berkualitas, padahal isinya kosong.

Ketiga, menghargai waktu.
Datang tepat waktu adalah salah satu indikator bahwa kamu menghargai waktu.
Bukan hanya menghargai waktumu sendiri, tapi juga waktu orang lain.

Seorang penjual yang membuka toko tepat waktu, misalnya, berarti ia menghargai waktu pembeli. Pembeli pun bisa mengatur waktunya untuk pekerjaan lain.

Menepati janji adalah bagian penting dari menghargai waktu.
Janji bukan sekadar ucapan. Janji adalah komitmen.
Sekali kita mudah mengingkari janji, kepercayaan orang lain pelan-pelan akan hilang.
Sebaliknya, orang yang menepati janji, meski pada hal-hal kecil, akan dikenang sebagai pribadi yang bisa diandalkan. Dan di dunia kerja, orang yang bisa diandalkan adalah aset.

Bertahan di sebuah posisi ternyata bukan soal siapa yang paling pintar, paling terlihat sibuk, atau paling pandai bicara.
Sering kali, yang bertahan adalah mereka yang konsisten menjaga hal-hal dasar: kejujuran, kualitas, dan kedisiplinan terhadap waktu serta janji.

Mungkin nasihat ini terdengar sederhana. Tapi justru yang sederhana inilah yang sering kita abaikan.
Padahal, bisa jadi di situlah letak kuncinya.
Bertahan, dipercaya, dan pelan-pelan bertumbuh… di posisi yang sudah Allah titipkan pada kita hari ini.




Rabu, 07 Januari 2026

Resolusi 2026


Memasuki tahun 2026, aku mengawalinya dengan tulisan ini. Seperti sebuah kesadaran bahwa aku berada di dalam dimensi waktu yang terus bergerak, tanpa jeda, tanpa kompromi. Usia bertambah tanpa benar-benar terasa. Kita berjalan melewati proses demi proses, sering kali tanpa sempat berhenti.

Yang dahulu terasa asing, perlahan menjadi terbiasa.

Yang dulu selalu bersama, pelan-pelan bisa berpisah.

Kelahiran dan kematian silih berganti mewarnai waktu yang terus bergulir, mengingatkan bahwa hidup bukan garis lurus, melainkan rangkaian peristiwa yang saling menyentuh.

Lazimnya, setelah melewati sebuah penanda waktu, seseorang akan menoleh sebentar ke belakang. Bukan untuk menyesali, tetapi untuk memastikan langkah selanjutnya lebih mantap. Ada hal-hal yang patut disyukuri, ada pula yang perlu diterima dengan lapang dada.

Di titik inilah refleksi diri menjadi penting. Kita bertanya dengan jujur:

Sudah sejauh mana aku berjalan?

Apa yang benar-benar bertumbuh dalam diriku?

Dan bagian mana yang perlu aku perbaiki?

Refleksi membantu kita mengenali potensi diri—bukan untuk dibanggakan, apalagi dipamerkan, melainkan untuk dipertanggungjawabkan. Karena setiap orang diberi bekal yang berbeda, dan setiap bekal akan dimintai arah penggunaannya.

Ada sebuah ungkapan yang masyhur dalam khazanah keislaman, yaitu: barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung. Ungkapan ini merupakan nasihat penting bagi siapa pun yang ingin kualitas dirinya terus meningkat.

Baiklah, aku akan mulai dari satu hal penting: menjadi orang merdeka. Merdeka yang seperti apa?

Merdeka artinya tidak tergantung, bebas menentukan pilihan, dan bebas dari intimidasi dalam bentuk apa pun. Merdeka bukan takdir, apalagi hadiah. Merdeka harus diusahakan dan diperjuangkan.

Faktanya, kita memang tidak dijajah, tidak dihukum, atau dibatasi ruang geraknya. Tetapi yang sering tidak kita sadari adalah pikiran kita sendiri yang memposisikan kita pada posisi terjajah.

Namanya validasi. Validasi itu apa? Validasi adalah pengakuan. Validasi orang lain berarti pengakuan orang lain terhadap apa yang kita lakukan. Jika aku hidup berdasarkan pengakuan orang lain, maka apa yang aku lakukan akan aku yakini baik ketika orang lain menganggapnya baik. Sebaliknya, aku akan meyakini sesuatu itu buruk ketika orang lain mengatakan demikian. Jadi, acuannya berasal dari sudut pandang orang lain.

Contoh konkretnya begini. Ketika aku akan melakukan sesuatu, aku berpikir dulu: apa kata orang? Kalau orang memuji, ayo lanjut. Tolok ukurnya pujian atau cacian. Tanpa aku sadari, aku mencari pujian atas apa pun yang aku lakukan.

Nah, yang seperti inilah yang harus berubah di tahun 2026. Tidak boleh lagi seperti ini. Acarannya harus syariat. Allah yang membuatnya. Acuan ini tidak akan bergeser dan jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Hidupku bukan tentang memenuhi ekspektasi, melainkan tentang kesadaran. Tentang keberanian memilih jalan yang mungkin sunyi, tetapi jujur dan menenangkan.

Maka, tahun 2026 ini semoga menjadi tahun di mana kita melangkah dengan lebih sadar—tidak tergesa, tidak silau, dan tidak kehilangan arah.

Karena waktu akan terus bergerak, tetapi kualitas langkah kitalah yang menentukan makna perjalanan.

Minggu, 28 Desember 2025

Yasinan: Tradisi Doa dan Kepedulian yang Menghidupkan Lingkungan


Yasin adalah nama sebuah surah di dalam Al-Qur’an. Surah ke-36 ini terletak di juz 15 dan terdiri dari 83 ayat. Surah Yasin termasuk salah satu surah yang sangat populer di kalangan umat Islam. Banyak orang menjadikannya sebagai bacaan favorit, bahkan amalan rutin. Ada yang membacanya seminggu sekali, ada pula yang membacanya setiap hari sebagai bentuk ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah.

Kata yasinan berasal dari kata Yasin yang diberi akhiran -an. Dalam bahasa Jawa, bentuk kata seperti ini biasanya merujuk pada suatu aktivitas yang dilakukan secara berulang dan menjadi kebiasaan. Maka, yasinan dapat dimaknai sebagai kegiatan membaca Surah Yasin yang dilakukan secara rutin dan bersama-sama.

Di desa tempat aku tinggal, yasinan telah menjadi tradisi yang hidup dan mengakar. Membaca Surah Yasin tidak hanya dilakukan di masjid atau musholla, tetapi juga oleh kelompok-kelompok kecil bapak-bapak maupun ibu-ibu. Mereka membentuk jamaah sederhana yang diikat oleh niat baik: berdoa bersama, menjaga silaturahmi, dan saling menguatkan.

Kelompok-kelompok yasinan ini biasanya bertemu satu minggu sekali. Ada yang menetap di masjid atau musholla, ada pula yang memilih sistem anjangsana—berpindah dari satu rumah ke rumah anggota lainnya secara bergiliran. Waktunya pun beragam, ada yang sore hari selepas Ashar, ada pula yang malam hari setelah Isya. Semua berjalan dengan kesepakatan dan saling pengertian.

Yasinan bukan sekadar membaca Surah Yasin. Di dalamnya sering disertai tahlil, doa-doa untuk orang tua dan keluarga yang telah wafat, serta doa untuk berbagai hajat kehidupan. Kadang juga ada tausiyah singkat atau nasihat sederhana yang justru terasa mengena karena disampaikan dalam suasana kekeluargaan.

Mengikuti yasinan membuat kita lebih terhubung dengan lingkungan sekitar. Dari pertemuan rutin inilah kita tahu kabar tetangga: siapa yang sedang sakit, siapa yang punya hajat, siapa yang sedang diuji kehidupannya. Tanpa banyak tanya, tanpa harus membuka aib, kepedulian itu tumbuh dengan sendirinya.

Ketika ada kabar tetangga sakit, doa langsung dipanjatkan. Ketika ada yang kesusahan, hati tergerak untuk membantu. Dari yasinan, kita belajar peka dan tidak hidup sendiri-sendiri. Kepedulian sosial dirawat melalui kebiasaan yang sederhana namun penuh makna.

Selain menumbuhkan kepedulian, yasinan juga menambah ilmu. Dari obrolan ringan, dari tausiyah singkat, dari pengalaman hidup sesama jamaah, kita belajar banyak hal: tentang sabar, tentang ikhlas, dan tentang cara menjalani kehidupan bermasyarakat dengan akhlak yang baik.

Bagi saya pribadi, yasinan bukan sekadar rutinitas mingguan. Ia adalah ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk urusan dunia, lalu duduk bersama, membaca ayat-ayat Allah, dan menguatkan hati satu sama lain. Di sanalah saya belajar bahwa agama tidak selalu harus disampaikan dengan kata-kata besar, tetapi bisa hadir dalam kebersamaan yang sederhana.

Yasinan mengajarkan saya untuk tidak hanya rajin berdoa, tetapi juga hadir bagi lingkungan sekitar. Mengingatkan bahwa hidup bermasyarakat membutuhkan kepedulian, kesabaran, dan keikhlasan.

Selama yasinan dijalankan dengan niat yang baik dan adab yang dijaga, tradisi ini layak untuk terus dirawat. Karena dari yasinan, kita tidak hanya membaca Surah Yasin, tetapi juga merawat iman, silaturahmi, dan rasa kemanusiaan.


Kamis, 25 Desember 2025

Diantara Dunia Nyata dan Dunia Konten

 


Obrolan pada suatu hari. Seorang bocah kecil berusia lima tahun berada di antara kami. Dia merengek minta dibuatkan video. Ketika kamera HP diarahkan ke wajah mungilnya, sontak dia beraksi. Suaranya berubah centil. Kepalanya digeleng-gelengkan. Logat dan bahasanya juga berubah. Sapaannya guys. 

Halo guys, ini aku lagi makan. Pakai tahu telur sama kecap. Hmm mantap. Sambelnya mantap. Ada  yang (cabe) merah ijo diaduk. Hmm mantap.


Kaget dong aku. Perasaan dia tidak suka sambal dan tidak ada sambal di piringnya. Dia juga tidak membantu tantenya menyiapkan makanan. Lah dari mana itu kata-kata sambel nya mantap, mengaduk cabe merah dan hijau. 


Eh, Dheeja kamu kan ga makan sambel, kenapa bilang makan sambel?

Dia menjawab santai: Pura-puranya 


Oh rupanya yang dia pahami, dia itu sedang ngonten dan ga pa pa pura-pura. Kan cuma buat konten. 


Aku tertawa sampai terpingkal-pingkal. Tapi setelahnya aku menyadari sesuatu. Bocil ini mewakili generasinya. Hidup di dua dunia yaitu dunia nyata dan dunia konten. Pura-pura dinormalisasi untuk konten.


Tapi di usia sekecil itu, dunianya penuh imajinasi. Dia masih belum bisa membedakan dengan jelas dunia nyata dan dunia konten yang imajiner. 


Ini saya harus bangga karena sekecil itu dia sudah mampu membuat konten atau menangis karena dia mahir berpura - pura? 


Dalam kamus hidupku, jujur itu penting dan merupakan pondasi hidup seseorang. Berbagai masalah hidup sering di awali dengan ketidak jujuran. Hubungan yang gagal juga bermula dari ketidakjujuran. Hilangnya kepercayaan juga diawali dengan ketidakjujuran. Itu lah alasan mengapa jujur harus ditanamkan sejak dini.


Ini adalah kode keras. Di titik ini, sikapku jelas: menolak ketidakjujuran, apa pun alasannya, terlebih pada anak kecil.


Bukan karena mereka berniat buruk, tetapi karena mereka belum memiliki kesadaran penuh tentang mana yang benar dan mana yang salah.


Di usia itu, apa yang mereka lakukan hari ini bisa menjadi kebiasaan esok hari, lalu menjadi karakter di masa depan.


Anak kecil belum punya kemampuan memilah: ini sekadar konten, ini kenyataan. Yang mereka pahami sederhana—boleh atau tidak boleh. Jika hari ini pura-pura dibenarkan, besok bisa jadi mengada-ada terasa wajar.


Bukan salah anaknya, tapi pesan penting untuk orang dewasa agar menjaga batas itu tidak kabur.


Di sinilah peran orang tua dan orang dewasa menjadi sangat penting. Mendampingi, bukan sekadar memberi izin. Mengarahkan, bukan hanya tertawa lalu selesai. Dunia digital tidak bisa dihindari, tapi nilai hidup tetap harus ditanamkan.


Konten tidak harus lahir dari kepalsuan. Tidak perlu berpura-pura makan sambal untuk terlihat seru. Tidak harus mengada-ada demi dianggap menarik.


Menurutku, konten adalah cerita. Dan cerita terbaik justru lahir dari kejujuran. Dari hal-hal sederhana yang apa adanya.


Anak-anak tidak perlu dilatih menjadi luar biasa dengan mengorbankan kejujuran demi sebuah konten. Mereka perlu dibiasakan menjadi jujur— dan itu sudah luar biasa.


Aku percaya, kejujuran bukan bakat, tapi latihan. Dan latihan itu dimulai sejak dini. Sebelum anak-anak mengenal like, views, dan validasi, biarlah mereka terlebih dahulu mengenal nilai.


Karena ketika suatu hari mereka benar-benar paham dunia konten, mereka sudah memiliki kompas batin yang kuat: tahu kapan bercerita, dan tahu kapan harus jujur pada diri sendiri.


Itu jauh lebih penting daripada sekadar terlihat mantap di kamera.

Paling sering dilihat

Nah Kan! Ternyata Aku Salah Menilai Tubuhku

Salah satu masalah yang aku hadapi sebagai seorang penderita diabetes adalah  mengatasi rasa lapar.   Mungkin karena kebiasaan m...