Rabu, 19 Agustus 2026

Nah Kan! Ternyata Aku Salah Menilai Tubuhku


Salah satu masalah yang aku hadapi sebagai seorang penderita diabetes adalah  mengatasi rasa lapar.  

Mungkin karena kebiasaan makan yang salah, aku mudah sekali lapar. Setiap pagi harus sarapan. Kalau tidak sarapan tubuhku gemetar, lemas dan keluar keringat dingin.  Hal ini menumbuhkan keyakinan bahwa aku perlu makan cukup. Bahkan kalau perlu makan sebelum lapar. 

Masalah muncul begitu aku harus menjalani diet. Tidak boleh mengkonsumsi gula. Harus mengurangi karbohidrat. Kurangi makan nasi dan makanan bertepung lainnya. 

Setelah memutuskan untuk menerima fakta bahwa aku adalah penderita diabetes yang harus mengendalikan jumlah dan jenis makanan, ada penyangkalan dalam benakku. Kalau manusia membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, mengapa kita justru tidak boleh makan. Bukankah ini sesuatu yang bertentangan. Di sisi hatiku yang lain menyangkal. Mungkinkah Allah mengingkari sunnatullahnya sendiri? 

Sepertinya aku harus mendengarkan tubuhku dengan baik. 
Apa yang sebetulnya dibutuhkan oleh tubuhku? 
Kapan tubuhku membutuhkan asupan?
Seberapa banyak asupan yang dibutuhkan tubuhku sebenarnya? 
Apa arti lapar bagi tubuhku? 

Dan akupun benar-benar melakukannya. Kunikmati setiap suapan yang masuk ke dalam tubuhku sambil merasakan dengan cermat apa yang aku rasakan "sebenarnya".

Kubuat porsi sesuai arahan. Kuabaikan pertanyaan "apakah ini cukup?"; "apakah tubuhku bisa menerima jumlah sesedikit ini?"
Aku menyuap sambil menajamkan rasa untuk mengenali respon tubuhku. 

Aku menjeda sebelum perutku "merasa cukup". Tidak buru-buru menambahkan makanan baru. 

Dan.... Aman. 
Semua baik-baik saja. Tidak kekenyangan tapi juga tidak kelaparan. Sampai jadwal makan berikutnya tubuhku masih aman. 

Jadi, sepertinya, selama ini aku salah menilai tubuhku sendiri. 
Ketika makan aku melakukannya bukan karena tubuhku membutuhkan melainkan karena aku ingin makan. 

Jadi sebetulnya aku menemukan bahwa pada diriku, tidak semua dorongan untuk makan ternyata berarti tubuhku membutuhkan makanan sebanyak yang selama ini kuberikan.

Nah kan! 


Kamis, 04 Juni 2026

Pekan Ujian No Drama

Pekan ujian akhir tiba. Semua penilaian sumatif akan segera direkap untuk dilaporkan kepada siswa dan wali siswa. 

Di setiap jenjang pendidikan, pekan penilaian ini menjadi momen penting bagi semuanya. Bagi siswa, karena diujung semester ini mereka akan mendapatkan informasi tentang capaiannya. Bagi guru, pekan ini adalah pekan tersibuknya. Menyiapkan instrumen penilaian akhir, merekap nilai, mengecek tugas dan siap-siap menghadapi drama terheboh di sepanjang tahun. 

Ya drama di mulai di titik ini. Ketika guru mengumumkan tagihan-tagihan yang masih belum diselesaikan siswa tetapi mendapatkan pengabaian. Gurunya bersemangat untuk memberikan tugas tambahan, ujian susulan bagi yang belum melakukan, tetapi siswanya adem ayem. Ini seperti jatuh cinta yang bertepuk sebelah tangan. Guru membuat list siswa yang nilainya masih kurang dari standar, menginformasikan ke wali kelas yang dilanjutkan ke grup kelas. Biasanya tidak mendapat respon sesuai harapan. Siswa dihubungi melalui WA diminta untuk melengkapi tanggungan tidak merespon, siswa dipanggil hanya tersenyum dan bilang iya tapi tidak melakukan apapun, wali kelas menghubungi orangtua dengan harapan ada motivasi dari orangtua tetapi tidak juga berhasil. Kalaupun ada siswa yang merespon dan mau mengerjakan tugas tambahan, biasanya nilai tidak semakin baik melainkan semakin buruk.

Deadline semakin dekat dan guru semakin stress. Nilai belum masuk sempurna sementara wali kelas sudah melancarkan serangan WA bertubi-tubi karena masa cetak rapot semakin dekat. 

Sebagai guru saya pernah mengalami seperti itu.  Tapi alhamdulillah sekarang sudah tidak lagi. Tidak ada drama. Siswa bertanggungjawab terhadap nilainya dan dengan rela hati memperbaiki bila merasa nilainya kurang. Saya menemukan cara untuk menghilangkan semua drama yang selama ini cukup bikin pusing. 

Saya menggunakan aplikasi sejuta umat, spreedsheet. Saya membuat daftar nilai dalam satu file. Satu kelas satu file. Di file itu terdiri beberapa sheet, yaitu: master, rekat dan sheet daftar nilai setiap topik atau setiap aspek yang dinilai. Dalam penilaian tersebut juga saya sertakan  proses dan hal apa saja yang menjadi bagian penilaian. 

Selanjutnya, saya sematkan link daftar nilai tersebut di deskripsi grup mapel. Tentu saja saya mengatur agar daftar nilai hanya bisa dilihat oleh siapa saja yang mengaksesnya. Dengan menyematkan link di deskripsi grup, siswa dapat melihatnya setiap saat. Mereka tidak lagi menduga-duga  dari mana asal usul nilai mereka. Semua dibuat transparan dan setiap nilai bisa dipertanggungjawabkan.  

Sheet rekap dihubungkan dengan sheet-sheet daftar nilai. Hal ini memudahkan siswa untuk melihat rekapitulasi nilai mereka dan juga menelusuri apa penyebabnya. Mungkin karena setiap siswa dapat melihat nilai kelas maka mereka tahu posisi mereka diantara teman-temannya. Ada yang tidak peduli berapa nilai mereka tetapi tidak sedikit siswa yang termotivasi untuk mendapat capaian seperti temannya atau bahkan bisa melampauinya. Daftar nilai ini dapat diakses sejak awal semester, yaitu diawal kegiatan belajar. Sehingga  mereka tahu persis apa saja yang dinilai dan bagaimana cara mereka mendapatkannya. Setiap siswa bebas memilih berapa nilai yang akan dicapai. Bila mereka memilih nilai bagus maka mereka tahu kompetensi apa yang harus dikuatkan. Semuanya transparan. Setiap siswa boleh mengklarifikasi bila mereka rasa nilainya tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. 

Dampaknya luar biasa. beberapa pesan masuk untuk menanyakan terkait nilai mereka. 

"Bu, saya sudah memperbaiki LKPD 1, tapi nilai masih tetap. Apakah saya melakukan kesalahan?"

"Bu saya sudah upload tugas tapi nilai masih kosong?"

"Bu mengingatkan, akses tugas sudah saya buka"

"Bu saya ingin memperbaiki nilai, kapan ibu ada waktu?" 

Dan masih banyak lagi pesan serupa yang masuk ke WA melalui jalur pribadi. Saya bisa merasakan semangat mereka. Mungkin mereka tidak sepenuhnya peduli bertanggungjawab terhadap tugas mereka. MUngkin semua itu mereka lakukan agar tidak terlihat kurang di mata teman-temannya. Mungkin juga karena kebetulan tahun ini saya mengajar di kelas-kelas yang manis.

Tetapi satu hal yang pasti, tidak ada drama merayu siswa agar mau menyelesaikan tugasnya. Tidak juga harus melibatkan wali kelas, guru BK atau orangtua siswa. Semua terlewati dengan indah. 

Ibarat sebuah permainan, setiap pemain memang harus paham bagaimana permaian ini dijalankan. Bagaimana aturan mainnya dan apa saja yang dapat dilakukan pemain untuk mendapatkan skor terbaik.

Kalau dipikir-pikir yang membuat seorang pemain bersemangat untuk berjuang adalah reward yang dia peroleh ketika ia melakukan sesuatu. Sementara capaian mereka sangat bergantung pada strategi yang digunakan. 


Selasa, 17 Februari 2026

Apakah Kita Sudah Menjadi Manusia Merdeka? Belajar Berkata Tidak Tanpa Rasa Bersalah



Jadilah manusia merdeka.

Pesan ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam. Kata merdeka terasa mahal, bahkan eksklusif. Sesuatu yang harus diperjuangkan.

Dulu, dalam benak saya, merdeka berarti bebas dari penjajahan, seperti yang diajarkan guru sejarah. Beliau menggambarkan bagaimana kondisi fisik dan batin masyarakat Indonesia saat dijajah—penuh tekanan, keterbatasan, dan ketakutan. Saat itulah saya paham mengapa orang rela berjuang habis-habisan demi kemerdekaan.

Seiring waktu, kata merdeka hadir dalam banyak istilah: Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar, dan Kurikulum Merdeka. Di sini merdeka dimaknai sebagai mandiri dan bebas dari tekanan.

Belajar sesuai kebutuhan.
Mengajar sesuai kondisi nyata.
Bukan sekadar mengikuti tuntutan dari luar.

Lalu saya berpikir.

Dalam lingkup yang lebih kecil, sebagai individu, apakah kita sudah merdeka?
Atau sebenarnya kita masih hidup dalam tekanan yang tidak terlihat?

Merdeka Itu Soal Keputusan

Salah satu cara sederhana untuk menguji apakah kita ini manusia merdeka atau masih tertindas adalah dengan melihat bagaimana kita mengambil keputusan.

Ketika kita mengatakan iya, apakah itu karena kita memang ingin?
Atau karena tidak enak menolak?

Dan ketika kita ingin mengatakan tidak, apakah kita berani?

Mari kita lihat contoh yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari:

  • Ada teman meminta bantuan saat kita sebenarnya sudah sangat lelah.

  • Atasan memberi tugas tambahan, padahal pekerjaan utama belum selesai.

  • Grup WhatsApp meminta iuran atau kegiatan yang sebenarnya tidak kita setujui.

  • Tetangga atau keluarga meminta sesuatu yang terasa memberatkan.

Di situlah terjadi pergulatan batin.

Kalau menolak, takut dianggap tidak peduli.
Kalau menerima, hati terasa berat.

Inilah persimpangan antara manusia merdeka dan manusia yang masih tertindas.
Jika kata yang keluar dari mulut kita bertentangan dengan hati nurani, bisa jadi kita belum sepenuhnya merdeka.

Tidak Semua “Tidak” Itu Merdeka

Menjadi manusia merdeka bukan berarti selalu menolak.
Bukan juga berarti selalu mengikuti keinginan pribadi.

Kuncinya ada pada proses menimbang.

Sebelum mengatakan iya atau tidak, kita perlu bertanya:

  • Mengapa saya harus menerima?

  • Mengapa saya ingin menolak?

  • Apa dampak dari keputusan ini?

  • Apakah ini membawa kebaikan atau justru merugikan?

  • Apakah ini sesuai dengan nilai yang saya pegang?

  • Apakah Allah ridha jika saya melakukannya?

Di dalam proses inilah kualitas diri terbentuk.

Merdeka bukan berarti bebas semaunya.
Merdeka adalah kemampuan untuk memilih dengan sadar.

Penjara yang Tidak Terlihat

Yang menarik, banyak orang terlihat bebas, tetapi sebenarnya hidup dalam “penjara sosial”.

Penjara itu bernama:

  • tidak enak

  • takut dinilai

  • takut tidak disukai

  • takut dianggap berbeda

Akhirnya kita sering berkata iya, bukan karena mau, tetapi karena takut.

Padahal manusia merdeka bukanlah manusia yang selalu menyenangkan semua orang.
Manusia merdeka adalah yang jujur pada nilai hidupnya.

Merdeka Dimulai dari Diri Sendiri

Kemerdekaan pribadi tidak datang dari luar.
Tidak diberikan oleh atasan.
Tidak ditentukan oleh lingkungan.

Ia lahir dari keberanian untuk:

  • mengenal diri

  • memahami nilai hidup

  • berkata iya dengan tulus

  • berkata tidak dengan santun

Karena merdeka bukan soal bebas melakukan apa saja.

Merdeka adalah ketika keputusan kita selaras dengan hati, akal, dan nilai yang kita yakini.

Dan mungkin, kemerdekaan terbesar dalam hidup adalah:

Tidak lagi hidup untuk menyenangkan semua orang,
tetapi hidup untuk menjalankan yang benar menurut hati nurani.



Kamis, 05 Februari 2026

Menjaga fokus


Pernahkah Anda sudah siap mengerjakan tugas penting?

Laptop sudah menyala, musik ringan sudah diputar, niat sudah dikuatkan, janji dalam hati sudah dibulatkan: 30 menit ini harus selesai.

Lalu terdengar bunyi notifikasi.

Pikiran langsung berbisik, “Jangan-jangan ada pesan penting.”

Anda mengeceknya.

Satu pesan terbuka.

Lanjut pesan lain. Ada tautan yang disematkan dalam pesan. Pikirang Anda meraung-raung meminta jempol untuk mengekliknya. 

Sekali klik masuk ke media sosial. Satu video pendek, satu lagi, lagi dan lagi.

Dari satu tautan ke tautan lainnya. 

Tertarik pada berita yang sedang viral. Penasaran. Klik lagi untuk menguliknya. 

Dan tanpa sadar… dua jam sudah waktu Anda terlewat,  habis.

Anda lelah, lalu berkata pada diri sendiri: ah masih ada waktu lain untuk mengerjakan tugas. Padahal yang sebetulnya anda lakukan adalah menghibur diri agar tidak terlalu menyesal. Sementara yang sebenarnya terjadi adalah, kita seperti berjalan jauh tapi gak pernah sampai ke tujuan karena arahnya beda. Arah tujuan kita ke Utara tapi kita berjalan ke selatan. 

Bila Anda pernah mengalami seperti itu berarti kita se frekwensi. Mari sini. Duduk sebentar. Kita ngobrol di sini.

Penyesalan selalu datang terlambat. Waktu habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak berdampak besar dalam hidup.

Pernah suatu ketika, saat menjenguk Bulik yang sakit di rumah sakit, aku sempat mengobrol dengan sepupu. Lama tidak bertemu, obrolan pun ke mana-mana, sampai akhirnya tiba pada satu topik yang sama: sulit menjaga fokus. Tidak bisa mengendalikan diri dan  mudah terdistraksi.

“Aku ya,” katanya sambil geleng-geleng kepala.

“Kalau bangun pagi langsung pegang HP, sudah bisa dipastikan seharian hidupku kacau.”

Dalam hati aku langsung menjawab, sama.

“Niatnya cuma mau cek pesan grup kantor,” lanjutnya, “Tapi yang kebuka malah pesan-pesan lain.”

Aku mengangguk, mengiyakan. Persis, aku banget itu, jeritku dalam hati.

Awalnya cuma WhatsApp. Tapi ada pesan berisi tautan.

Diklik.

Lalu nyasar ke mana-mana.

Tampaknya ini sudah menjadi fenomena apa gimana ya?

Suatu hari aku pernah mendapat nasihat begini: di zaman sekarang, fokus itu tidak instan. Fokus harus diperjuangkan dengan usaha yang keras. Menjaga agar tetap fokus itu berat dan kita harus keluar energi yang cukup besar. 

Fokus itu perlu niat yang kuat. Fokus itu harus ditanamkan dan perlu tegas pada diri sendiri. Harus mengalahkan kesenangan. 

Berani berkata tidak sebelum pekerjaan utama selesai.

Ketika fokus kemudian ada notifikasi masuk, kuatkan dalam hati, kalau memang mendesak, orang akan menelepon kita. Kalau tidak telpun berarti belum urgen. Lanjut fokus. Setiap kali tangan ingin meraih hp, katakan "stop, tidak sekarang" dan kembali fokus. 

Sulit? Pasti. 

Ada teman yang menyarankan untuk membuat daftar pekerjaan. Sekarang sudah ada aplikasinya. Tinggal menginstal di HP. Tulis semua daftar pekerjaan Anda dan cek setiap hari. Yang sudah dijalani centang, yang belum segera lakukan. Kalau mau scrool layar atau bermedsos, segera cek daftar. Lihat betapa deretan tugas mengantri untuk dikerjakan. Segera kerjakan dan jangan tunda waktu.  

Tapi yakinlah bahwa semua yang aku tulis di atas bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Butuh perjuangan dan doa. Mohon kepadaNya untuk dikuatkan menjalani hidup dijaman seperti ini. Jaman di mana menjaga fokus serupa menjaga akhlak.  



Minggu, 01 Februari 2026

Sakit Meredukpan Akal, Islam Menjaganya

 

Suatu ketika aku pernah duduk dalam sebuah majelis ilmu tentang ketakmiran dan wakaf.
Majelis itu mengkaji syarat dan rukun wakaf, sekaligus membahas bagaimana mengelola masjid dengan baik. Dalam salah satu pembahasannya, ustadz menjelaskan tentang syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang hendak berwakaf, atau disebut wakif.


Disebutkan bahwa seorang wakif haruslah orang yang merdeka, berakal, tidak pikun, dan tidak berada dalam kondisi sakit parah.


Di titik ini, aku menggarisbawahi satu syarat yang sebelumnya terasa biasa saja: sehat.
Baru ketika aku berada dalam kondisi sakit, aku benar-benar memahami mengapa sehat menjadi syarat bagi seorang wakif.

Orang sakit itu kehilangan sebagian kejernihan akalnya. Rasa nyeri memecah konsentrasi dan membuat pikiran sulit bekerja secara utuh. Dalam keadaan seperti itu, seseorang cenderung menyerahkan banyak urusan kepada orang lain—keluarga, kerabat, atau orang yang ia percayai.

Logis. Dan Islam mengaturnya sedetail itu. Masyaallah.

Untuk urusan-urusan penting, mengambil keputusan saat sakit memang sebaiknya dihindari. Rasa sakit dapat memengaruhi kevalidan keputusan yang dibuat. Sakit bukan hanya melemahkan tubuh, tetapi juga meredupkan kejernihan berpikir.

Dalam kondisi sakit, seseorang mudah lelah, mudah pasrah, dan cenderung mengiyakan apa pun yang disodorkan kepadanya. Ini bukan karena ia bodoh, melainkan karena pikirannya sedang sibuk bertahan dari rasa nyeri.

Saat berada di ruang tunggu rumah sakit, aku melihat betapa banyak keputusan penting akhirnya diwakilkan. Tanda tangan, persetujuan, bahkan pilihan-pilihan hidup sering kali berpindah tangan. Di situlah aku memahami: Islam bukan melarang orang sakit berbuat baik, tetapi justru melindungi mereka dari keputusan yang bisa disesali ketika sehat kembali.

Dari sini aku menarik beberapa pelajaran.

Pertama, dalam bersedekah dan berwakaf—melepaskan sebagian harta kepemilikan (yang hakikatnya hanyalah titipan)—tidak boleh ada paksaan atau tekanan. Islam memberi kebebasan penuh kepada manusia untuk memilih. Islam menjunjung tinggi kemanusiaan dan memperlakukan manusia sebagai makhluk yang berpikir dan merdeka dalam mengambil keputusan.

Kedua, sakit adalah keadaan yang pasti dialami setiap manusia. Ia seperti posisi off—jeda, rehat. Dalam kondisi ini, jangan memaksakan diri mengambil keputusan penting. Beri kesempatan kepada orang-orang yang mampu untuk mengambil alih tugas kita. Di sinilah pentingnya muamalah: menjalin hubungan baik, berbagi peran, dan mentransfer pengetahuan. Kita bukan manusia tanpa cela. Jangan meremehkan anak, pasangan, atau rekan kerja. Barangkali merekalah yang kelak mengambil keputusan saat kita harus berhenti sejenak.

Ketiga, sehat adalah nikmat yang sering baru disadari ketika sakit datang. Sehat adalah amanah—amanah untuk berpikir jernih, mengambil keputusan dengan sadar, dan menata urusan penting tanpa tekanan rasa nyeri.

Maka jika hari ini kita diberi sehat, barangkali yang paling bijak adalah tidak lengah. Saat akal masih jernih, jadilah manusia yang berakal dan waras. Siapkan keputusan-keputusan besar sejak sekarang, agar ketika tubuh melemah, hati dan pikiran tidak ikut goyah.

Sabtu, 24 Januari 2026

Curhat Dari Dua Sisi: Yang bercerita dan Yang Mendengarkan

Pernah curhat atau dicurhati seseorang? Pernah dong. Curhat, ngobrol, atau wadul adalah bagian dari interaksi sosial yang menghubungkan kita dengan orang lain. Ketika emosi menumpuk terlalu lama—dada terasa sesak, kepala pusing, dan bawaannya ingin marah—kita butuh cara untuk melegakannya. Salah satunya ya dengan curhat. Menyampaikan uneg-uneg yang membuat dada sesak kepada orang lain.

Pun begitu dengan orang lain. Ketika mereka menceritakan isi hatinya kepada kita, bisa jadi itu karena mereka ingin mengurangi beban hidupnya. Ingin didengar. Ingin merasa tidak sendirian.

Jadi, tidak ada yang salah dengan curhat. Tapi… curhat juga bisa bikin masalah.
Curhat yang bagaimana sih yang justru memicu konflik sosial?

Bila Anda berada di posisi orang yang curhat, perhatikan  beberapa fakta tentang curhat yang berpotensi bikin masalah. Tiga fakta penting curhat yang berpotensi menimbulkan masalah

1. Curhat yang Berlebihan

Semua dicurhatin. Apa pun diceritakan. Orang yang sedang curhat itu ibarat sedang membuka celah agar orang lain agar bisa melihat dirinya lebih dalam. Dengan menyampaikan segala hal tentang dirinya, sama saja dengan mengajak orang lain menjelajahi hidupnya—tanpa batas.

Masalahnya, membuka celah terlalu besar itu berbahaya ke depannya. Hubungan antar manusia tidak selalu baik-baik saja. Hari ini teman, besok bisa saja jadi orang yang paling berseberangan. Saat terjadi kesalahpahaman atau perselisihan, apa yang dulu kita ceritakan dengan polos bisa berubah menjadi senjata yang menikam diri sendiri.

Tidak semua cerita harus dibagi. Tidak semua luka harus diperlihatkan.

2. Salah Memilih Tempat Curhat

Faktanya, tidak semua orang bisa menjaga rahasia. Salah memilih tempat curhat bisa menjadi bumerang. Curhatan yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi komoditas.

Dalam obrolan yang lain, aib orang bisa menjadi bahan candaan. Cerita yang awalnya serius berubah menjadi gosip. Maka, memilih kepada siapa kita curhat itu penting. Jangan curhat kepada orang yang tidak bisa menjaga rahasia, yang suka ngoceh ke sana kemari, dan menjadikan cerita orang lain sebagai hiburan.

Curhat butuh kepercayaan. Dan kepercayaan itu mahal.

3. Tidak Melihat Kondisi Orang yang Dicurhati

Setiap orang punya masalah. Curhat sejatinya adalah membagi beban kepada orang lain. Maka, ketika kita berada di posisi orang yang curhat, ada baiknya kita juga melihat kondisi orang yang akan kita jadikan tempat bersandar.

Apakah dia sedang lelah? Apakah dia sedang memikul beban yang lebih berat dari kita? Jangan sampai niat kita meringankan diri justru menambah beban orang lain.


Lalu, bagaimana dari sudut pandang orang yang dicurhati? 

Bila Anda dijadikan tempat curhat, Anda perlu mengenal tipe orang yang curhat.  Setidaknya ada tiga tipe orang yang curhat kepada Anda.

Pertama, Curhat untuk Mencari Solusi

Tipe ini curhat karena memang butuh bantuan. Dia bingung, mentok, dan berharap orang yang dicurhati bisa memberikan saran atau sudut pandang lain untuk menyelesaikan masalahnya.

Menghadapi tipe ini, kita perlu mendengarkan dengan serius dan menanggapi dengan bijak. Bukan menghakimi, tapi membantu berpikir jernih. Bila Anda dicurhati seseorang berarti orang tersebut percaya kepada Anda. Berikan bantuan semampu Anda. Berikan pendapat sesuai kompetensi yang Anda miliki. Bila tidak paham dengan masalah yang dihadapi sebaiknya rekomendasikan untuk berkonsultasi kepada ahlinya. 

Kedua, Curhat yang Hanya Ingin Didengar

Ada juga orang yang curhat hanya ingin meminjam telinga kita. Dia sebenarnya sudah punya solusi. Hanya saja, dia butuh ruang untuk menumpahkan isi hati agar emosinya lebih stabil. Bisa jadi dia curhat untuk sekedar mendapat respon positif dari Anda. 

Untuk tipe ini, sering kali nasihat tidak terlalu dibutuhkan. Cukup dengarkan. Kadang kehadiran yang tenang jauh lebih menolong daripada seribu saran.

Ketiga, Curhat untuk Pamer

Nah, yang ini agak berbeda. Curhat tapi ujung-ujungnya pamer. Masalahnya dibungkus rapi agar terlihat sebagai pencapaian. Bukan mencari solusi, bukan juga ingin didengar, tapi ingin diakui. Menghadapi tipe ini, Anda tidak perlu merespon berlebihan. Bila Anda merasa tidak nyaman dan tidak ingin dia kembali lagi untuk mengganggu waktu Anda, respon saja dengan datar. 

Intinya bila kita dijadikan tempat curhat, kita harus bijaksana. Tidak semua curhatan harus direspon dengan empati yang mendalam. Dengarkan setelah itu lupakan. Jangan ambil beban orang lain menjadi beban diri sendiri. Karena hidup harus tetap berjalan di rel masing-masing. 


Pada akhirnya, curhat adalah soal keseimbangan.
Keseimbangan dalam berbicara dan mendengarkan.
Keseimbangan dalam membuka diri dan menjaga batas.

Curhat yang sehat bisa menguatkan hubungan.
Curhat yang berlebihan justru bisa memantik konflik sosial.

Yang perlu kita latih bukan hanya keberanian untuk curhat, tapi juga kebijaksanaan—kapan, kepada siapa, dan sejauh mana kita berbagi cerita


    

Rabu, 21 Januari 2026

Kulkas Alam di Belakang Rumah

 


Pemandangan yang ada di foto dalam tulisan ini sangat mudah ditemui di wilayah pedesaan. Lahan yang cukup luas, dengan rumah tinggal menempati salah satu sudut halaman. Di sekitarnya tumbuh beberapa pohon produktif: mangga, rambutan, pepaya, atau sejenisnya. Bila empunya rumah gemar bunga, biasanya akan ada beberapa pot bunga yang tertata rapi.

Namun selebihnya, yang sering terlihat justru lahan kosong yang ditumbuhi ilalang dan tanaman liar yang tak terurus.


Pemandangan ini mengingatkanku pada puluhan tahun yang lalu. Saat itu, seorang rekan guru—seorang bapak yang hobi bertani—pernah berkata sambil bercanda, “Orang tinggal di desa tapi apa-apa beli, itu berarti orangnya kurang pinter.”

Karena nadanya bercanda, aku pun menanggapinya dengan bercanda pula. Waktu itu aku tidak terlalu memikirkannya. Hanya lewat begitu saja.


Nah, sekarang setelah waktu berlalu dan usia bertambah, aku baru benar-benar merasakan makna ucapan itu. Ketika kami mulai memanfaatkan sedikit lahan di sekitar rumah—menanam beberapa sayur, buah, rimpang, serta memelihara ayam—ternyata ungkapan teman waktu itu seratus persen benar.


Kami punya tanaman sawi, kangkung, terong, ketela pohon, pepaya, bayam, beluntas, dan masih banyak tanaman lainnya. Intinya sederhana: apa yang biasa kami konsumsi, kalau bisa ditanam, ya kami tanam.


Hasilnya luar biasa. Aku seperti punya kulkas alam. Penyimpan makanan yang selalu segar, selalu siap dipetik, dan yang paling penting bisa kami kendalikan sendiri penggunaan pupuk dan pestisidanya. Kami hanya memakai pupuk alami. Pestisidanya pun alami. Mungkin istilah kerennya sekarang adalah tanaman organik.


Misalnya begini. Sore hari tiba-tiba kehabisan sayur. Tidak perlu panik, tidak perlu ke warung. Tinggal ke kebun belakang. Cabut beberapa batang kangkung, lalu dibuat plecing. Atau tiba-tiba ingin sambal terong. Tinggal petik. Cabai ada, kemangi ada, terong ada. Mau membuat sup, seledri tinggal cabut. Semua tersedia.


Di titik inilah aku benar-benar merasakan bahwa kata-kata rekan guruku dulu terbukti benar.

Kami juga memelihara ayam. Awalnya bukan untuk dikembangkan menjadi peternakan, meskipun sebenarnya itu sangat memungkinkan dan pemikiran ke arah sana mulai berkembang. Mulanya sederhana saja. Ketika kami menyadari banyak sisa makanan dapur yang biasanya terbuang percuma, kami berpikir: bagaimana caranya agar sampah dapur ini tidak sia-sia?


Dari situ terpikirlah untuk memelihara ayam. Tidak banyak. Hanya beberapa ekor. Tapi itu sudah sangat membantu mengurangi sampah dapur. Sisa nasi, sayur, atau kulit-kulitan yang masih layak, habis oleh ayam. Siklus kecil pun terbentuk.


Dari pengalaman ini aku mulai memahami konsep yang sekarang disebut integrated farming atau pertanian terpadu. Tanaman, ternak, dan lingkungan saling terhubung. Sisa tanaman jadi pakan ternak. Kotoran ternak jadi pupuk. Hampir tidak ada yang terbuang. Menariknya, konsep ini sebenarnya bukan hal baru. Orang-orang desa zaman dulu sudah mempraktikkannya, hanya saja sekarang diberi nama yang terdengar modern dan keren.


Ada satu pernyataan dari seorang tokoh pertanian yang cukup mengusikku. Katanya, di Indonesia ini seolah-olah sengaja dibangun opini bahwa pertanian itu tidak menjanjikan. Pupuk mahal, upah mahal, hasil tidak sebanding. Lalu solusinya apa? Jual saja lahan pertanian, ganti dengan usaha lain yang lebih menguntungkan. Tentu saja ini opini yang menyesatkan. Menguntungkan para tengkulak dan pihak yang mengincar lahan untuk dijadikan tempat industri. Opini yang mereka bangun, membuat generasi muda enggan menjadi petani dan peternak. Siapa yang akan menopang pangan masyarakat Indonesia?


Padahal, kalau dilihat dari skala rumah tangga, terutama di desa, pertanian dapat dilakukan oleh siapa saja, baik skala kecil maupun skala besar. Bila dilakukan dalam skala rumah tangga, akan mengurangi biaya hidup, membuat lebih mandiri, dan memberi rasa aman pangan bagi keluarga.


Dari lahan kecil di sekitar rumah, aku belajar satu hal penting: hidup di desa seharusnya membuat hidup lebih sederhana, bukan lebih boros. Lebih mandiri, bukan lebih bergantung. Lahan bukan sekadar halaman kosong, tapi peluang yang sering kita abaikan.


Mungkin benar kata teman guruku dulu. Tinggal di desa tapi semua beli, itu memang sayang sekali. Bukan soal pintar atau tidak pintar. Tapi soal mau atau tidak mau memanfaatkan apa yang sudah disediakan alam dengan begitu murah hati.


Dan aku bersyukur, meski agak terlambat menyadarinya, kami akhirnya mulai melangkah. Dari lahan kecil, dari niat sederhana, menuju hidup yang lebih selaras dengan desa itu sendiri.

Rabu, 14 Januari 2026

Sebelum Menuntut Diharga, Lihat Cara Kita Menghargai Diri Sendiri


Suatu ketika, di sebuah ruang, diadakan rapat dinas oleh kepala sekolah. Undangan rapat disampaikan melalui grup info sekolah yang tertutup. Grup ini bukan ruang obrolan bebas. Hanya tim manajemen yang bisa menuliskan pesan. Artinya, setiap informasi yang masuk adalah informasi penting. Bukan untuk diabaikan, apalagi dianggap sepele. Semua guru dan karyawan seharusnya mencermati dan menindaklanjutinya dengan penuh tanggung jawab.

Siang itu, rapat dimulai seperti biasa. Namun ada pemandangan yang berulang: kursi-kursi di bagian depan ruangan kosong, sepi, jarang penghuninya. Padahal di setiap meja sudah tersedia kotak kue dan minuman. Fasilitasnya sama. Tidak ada yang dibedakan.

Beberapa kali wakil kepala sekolah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan rapat mengingatkan bapak ibu guru agar mengisi bangku kosong di depan. Namun entah mengapa, kursi belakang selalu menjadi kursi favorit. Padahal, secara logika sederhana, kualitas suara tentu lebih jelas jika duduk di depan. Wajah pimpinan terlihat, materi terserap lebih utuh, suasana rapat pun terasa lebih hidup.

Karena berkali-kali diingatkan namun diabaikan, akhirnya kepala sekolah berdiri. Beliau menghampiri guru dan karyawan yang duduk di belakang. Sambil memegang mikrofon, beliau berkata dengan nada tenang namun tegas:

“Saya menghargai bapak ibu itu semua sama. Tetapi rupanya bapak ibu sendiri yang memilih menghargai diri sendiri lebih rendah dari yang seharusnya.”

Kalimat itu terasa tajam. Sedikit pedas. Tapi jujur. Dan justru karena itulah ia mengena. Tidak sedang menyalahkan, tapi menyodorkan cermin.

Sering kali, dalam kehidupan nyata, kita ingin dihargai. Ingin diperlakukan dengan baik. Ingin didengar, dianggap, dan diperhitungkan. Namun tanpa sadar, sikap kita sendiri justru berkata sebaliknya. Cara kita datang, cara kita duduk, cara kita merespons, bahkan cara kita menempatkan diri—semua itu mengirimkan pesan.

Duduk di belakang mungkin terasa nyaman. Tidak terlalu terlihat. Tidak terlalu terlibat. Tapi dalam forum resmi, sikap seperti itu bisa dibaca sebagai jarak. Seolah berkata, “Saya ada, tapi setengah hati.” Dan dunia, termasuk orang-orang di dalamnya, sangat jujur dalam merespons sikap semacam itu.

Bagaimana orang memperlakukan kita, sering kali adalah pantulan dari bagaimana kita memperlakukan diri sendiri. Jika kita menempatkan diri sekadar sebagai pelengkap, jangan heran jika kemudian dianggap tidak penting. Jika kita hadir tanpa kesungguhan, jangan kecewa jika perhatian juga setengah-setengah.

Menghargai diri bukan soal meminta perlakuan istimewa. Tapi soal keberanian mengambil posisi yang pantas. Duduk di depan. Siap terlihat. Siap mendengar. Siap terlibat. Dan siap bertanggung jawab atas peran yang kita emban.

Rapat dinas siang itu memberi pelajaran sederhana namun dalam: sebelum menuntut penghargaan dari orang lain, pastikan kita sudah menghargai diri sendiri dengan sikap yang tepat.

Karena pada akhirnya, sikap tidak pernah bohong. Ia selalu bicara lebih nyaring daripada kata-kata.


Minggu, 11 Januari 2026

Bertahan di Posisi yang Allah Titipkan




Zaman sekarang mencari pekerjaan itu sulit. Bagi yang tidak tahu caranya. Tidak tahu ilmunya.
Sebaliknya, bagi mereka yang sudah menguasai ilmunya, jangankan mencari pekerjaan, untuk menciptakan lapangan kerja saja terasa lebih mudah.

Ada orang yang sudah melamar pekerjaan ke sana ke mari tapi belum juga dapat.
Ada yang sudah mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak bisa bertahan lama.
Ada orang yang mati-matian membangun usaha, rugi melulu.
Ada pula yang awalnya hanya iseng, eh malah jadi usahanya, bahkan sampai kaya raya.

Lalu apa sebenarnya rahasianya?

Tentu saja, hanya Allah yang Maha Tahu.
Tugas manusia hanyalah terus mencari ilmu dan berusaha.

Beberapa waktu ini saya mendengar cerita dari seseorang yang sudah lama berkecimpung di bidangnya. Ia bercerita tentang satu hal penting: bagaimana caranya agar orang yang sudah mendapatkan pekerjaan bisa bertahan di posisinya.
Nasehatnya sederhana, tapi kalau dipikir-pikir, dalam sekali.

Begini nasehatnya.

Pertama, kamu harus bisa dipercaya.
Orang yang bisa dipercaya adalah orang yang jujur.
Jujur dalam perkataan, jujur dalam perbuatan, jujur dalam tindakan.
Sepertinya kejujuran adalah harga mati bagi siapa pun yang ingin dipercaya orang lain. Dan sering kali, kejujuran inilah yang justru menyelamatkan kita dari putusnya hubungan kerja, bahkan hubungan antar sesama manusia.

Kedua, kualitas di atas pencitraan.
Maksudnya gimana?

Bekerjalah, dan tunjukkan kualitasmu.
Kualitas yang benar-benar ya, bukan sekadar kelihatannya berkualitas.

Hasil kerja yang berkualitas hanya bisa dihasilkan oleh orang yang berkualitas.
Ciri orang yang berkualitas adalah tidak asal-asalan dalam bekerja.
Dipikirkan dulu apa alasannya, apa dampaknya, dan apa yang harus dilakukan jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Jangan berusaha tampil baik tapi sebetulnya tidak.
Jangan mengejar terlihat berkualitas, padahal isinya kosong.

Ketiga, menghargai waktu.
Datang tepat waktu adalah salah satu indikator bahwa kamu menghargai waktu.
Bukan hanya menghargai waktumu sendiri, tapi juga waktu orang lain.

Seorang penjual yang membuka toko tepat waktu, misalnya, berarti ia menghargai waktu pembeli. Pembeli pun bisa mengatur waktunya untuk pekerjaan lain.

Menepati janji adalah bagian penting dari menghargai waktu.
Janji bukan sekadar ucapan. Janji adalah komitmen.
Sekali kita mudah mengingkari janji, kepercayaan orang lain pelan-pelan akan hilang.
Sebaliknya, orang yang menepati janji, meski pada hal-hal kecil, akan dikenang sebagai pribadi yang bisa diandalkan. Dan di dunia kerja, orang yang bisa diandalkan adalah aset.

Bertahan di sebuah posisi ternyata bukan soal siapa yang paling pintar, paling terlihat sibuk, atau paling pandai bicara.
Sering kali, yang bertahan adalah mereka yang konsisten menjaga hal-hal dasar: kejujuran, kualitas, dan kedisiplinan terhadap waktu serta janji.

Mungkin nasihat ini terdengar sederhana. Tapi justru yang sederhana inilah yang sering kita abaikan.
Padahal, bisa jadi di situlah letak kuncinya.
Bertahan, dipercaya, dan pelan-pelan bertumbuh… di posisi yang sudah Allah titipkan pada kita hari ini.




Rabu, 07 Januari 2026

Resolusi 2026


Memasuki tahun 2026, aku mengawalinya dengan tulisan ini. Seperti sebuah kesadaran bahwa aku berada di dalam dimensi waktu yang terus bergerak, tanpa jeda, tanpa kompromi. Usia bertambah tanpa benar-benar terasa. Kita berjalan melewati proses demi proses, sering kali tanpa sempat berhenti.

Yang dahulu terasa asing, perlahan menjadi terbiasa.

Yang dulu selalu bersama, pelan-pelan bisa berpisah.

Kelahiran dan kematian silih berganti mewarnai waktu yang terus bergulir, mengingatkan bahwa hidup bukan garis lurus, melainkan rangkaian peristiwa yang saling menyentuh.

Lazimnya, setelah melewati sebuah penanda waktu, seseorang akan menoleh sebentar ke belakang. Bukan untuk menyesali, tetapi untuk memastikan langkah selanjutnya lebih mantap. Ada hal-hal yang patut disyukuri, ada pula yang perlu diterima dengan lapang dada.

Di titik inilah refleksi diri menjadi penting. Kita bertanya dengan jujur:

Sudah sejauh mana aku berjalan?

Apa yang benar-benar bertumbuh dalam diriku?

Dan bagian mana yang perlu aku perbaiki?

Refleksi membantu kita mengenali potensi diri—bukan untuk dibanggakan, apalagi dipamerkan, melainkan untuk dipertanggungjawabkan. Karena setiap orang diberi bekal yang berbeda, dan setiap bekal akan dimintai arah penggunaannya.

Ada sebuah ungkapan yang masyhur dalam khazanah keislaman, yaitu: barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung. Ungkapan ini merupakan nasihat penting bagi siapa pun yang ingin kualitas dirinya terus meningkat.

Baiklah, aku akan mulai dari satu hal penting: menjadi orang merdeka. Merdeka yang seperti apa?

Merdeka artinya tidak tergantung, bebas menentukan pilihan, dan bebas dari intimidasi dalam bentuk apa pun. Merdeka bukan takdir, apalagi hadiah. Merdeka harus diusahakan dan diperjuangkan.

Faktanya, kita memang tidak dijajah, tidak dihukum, atau dibatasi ruang geraknya. Tetapi yang sering tidak kita sadari adalah pikiran kita sendiri yang memposisikan kita pada posisi terjajah.

Namanya validasi. Validasi itu apa? Validasi adalah pengakuan. Validasi orang lain berarti pengakuan orang lain terhadap apa yang kita lakukan. Jika aku hidup berdasarkan pengakuan orang lain, maka apa yang aku lakukan akan aku yakini baik ketika orang lain menganggapnya baik. Sebaliknya, aku akan meyakini sesuatu itu buruk ketika orang lain mengatakan demikian. Jadi, acuannya berasal dari sudut pandang orang lain.

Contoh konkretnya begini. Ketika aku akan melakukan sesuatu, aku berpikir dulu: apa kata orang? Kalau orang memuji, ayo lanjut. Tolok ukurnya pujian atau cacian. Tanpa aku sadari, aku mencari pujian atas apa pun yang aku lakukan.

Nah, yang seperti inilah yang harus berubah di tahun 2026. Tidak boleh lagi seperti ini. Acarannya harus syariat. Allah yang membuatnya. Acuan ini tidak akan bergeser dan jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Hidupku bukan tentang memenuhi ekspektasi, melainkan tentang kesadaran. Tentang keberanian memilih jalan yang mungkin sunyi, tetapi jujur dan menenangkan.

Maka, tahun 2026 ini semoga menjadi tahun di mana kita melangkah dengan lebih sadar—tidak tergesa, tidak silau, dan tidak kehilangan arah.

Karena waktu akan terus bergerak, tetapi kualitas langkah kitalah yang menentukan makna perjalanan.

Minggu, 28 Desember 2025

Yasinan: Tradisi Doa dan Kepedulian yang Menghidupkan Lingkungan


Yasin adalah nama sebuah surah di dalam Al-Qur’an. Surah ke-36 ini terletak di juz 15 dan terdiri dari 83 ayat. Surah Yasin termasuk salah satu surah yang sangat populer di kalangan umat Islam. Banyak orang menjadikannya sebagai bacaan favorit, bahkan amalan rutin. Ada yang membacanya seminggu sekali, ada pula yang membacanya setiap hari sebagai bentuk ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah.

Kata yasinan berasal dari kata Yasin yang diberi akhiran -an. Dalam bahasa Jawa, bentuk kata seperti ini biasanya merujuk pada suatu aktivitas yang dilakukan secara berulang dan menjadi kebiasaan. Maka, yasinan dapat dimaknai sebagai kegiatan membaca Surah Yasin yang dilakukan secara rutin dan bersama-sama.

Di desa tempat aku tinggal, yasinan telah menjadi tradisi yang hidup dan mengakar. Membaca Surah Yasin tidak hanya dilakukan di masjid atau musholla, tetapi juga oleh kelompok-kelompok kecil bapak-bapak maupun ibu-ibu. Mereka membentuk jamaah sederhana yang diikat oleh niat baik: berdoa bersama, menjaga silaturahmi, dan saling menguatkan.

Kelompok-kelompok yasinan ini biasanya bertemu satu minggu sekali. Ada yang menetap di masjid atau musholla, ada pula yang memilih sistem anjangsana—berpindah dari satu rumah ke rumah anggota lainnya secara bergiliran. Waktunya pun beragam, ada yang sore hari selepas Ashar, ada pula yang malam hari setelah Isya. Semua berjalan dengan kesepakatan dan saling pengertian.

Yasinan bukan sekadar membaca Surah Yasin. Di dalamnya sering disertai tahlil, doa-doa untuk orang tua dan keluarga yang telah wafat, serta doa untuk berbagai hajat kehidupan. Kadang juga ada tausiyah singkat atau nasihat sederhana yang justru terasa mengena karena disampaikan dalam suasana kekeluargaan.

Mengikuti yasinan membuat kita lebih terhubung dengan lingkungan sekitar. Dari pertemuan rutin inilah kita tahu kabar tetangga: siapa yang sedang sakit, siapa yang punya hajat, siapa yang sedang diuji kehidupannya. Tanpa banyak tanya, tanpa harus membuka aib, kepedulian itu tumbuh dengan sendirinya.

Ketika ada kabar tetangga sakit, doa langsung dipanjatkan. Ketika ada yang kesusahan, hati tergerak untuk membantu. Dari yasinan, kita belajar peka dan tidak hidup sendiri-sendiri. Kepedulian sosial dirawat melalui kebiasaan yang sederhana namun penuh makna.

Selain menumbuhkan kepedulian, yasinan juga menambah ilmu. Dari obrolan ringan, dari tausiyah singkat, dari pengalaman hidup sesama jamaah, kita belajar banyak hal: tentang sabar, tentang ikhlas, dan tentang cara menjalani kehidupan bermasyarakat dengan akhlak yang baik.

Bagi saya pribadi, yasinan bukan sekadar rutinitas mingguan. Ia adalah ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk urusan dunia, lalu duduk bersama, membaca ayat-ayat Allah, dan menguatkan hati satu sama lain. Di sanalah saya belajar bahwa agama tidak selalu harus disampaikan dengan kata-kata besar, tetapi bisa hadir dalam kebersamaan yang sederhana.

Yasinan mengajarkan saya untuk tidak hanya rajin berdoa, tetapi juga hadir bagi lingkungan sekitar. Mengingatkan bahwa hidup bermasyarakat membutuhkan kepedulian, kesabaran, dan keikhlasan.

Selama yasinan dijalankan dengan niat yang baik dan adab yang dijaga, tradisi ini layak untuk terus dirawat. Karena dari yasinan, kita tidak hanya membaca Surah Yasin, tetapi juga merawat iman, silaturahmi, dan rasa kemanusiaan.


Kamis, 25 Desember 2025

Diantara Dunia Nyata dan Dunia Konten

 


Obrolan pada suatu hari. Seorang bocah kecil berusia lima tahun berada di antara kami. Dia merengek minta dibuatkan video. Ketika kamera HP diarahkan ke wajah mungilnya, sontak dia beraksi. Suaranya berubah centil. Kepalanya digeleng-gelengkan. Logat dan bahasanya juga berubah. Sapaannya guys. 

Halo guys, ini aku lagi makan. Pakai tahu telur sama kecap. Hmm mantap. Sambelnya mantap. Ada  yang (cabe) merah ijo diaduk. Hmm mantap.


Kaget dong aku. Perasaan dia tidak suka sambal dan tidak ada sambal di piringnya. Dia juga tidak membantu tantenya menyiapkan makanan. Lah dari mana itu kata-kata sambel nya mantap, mengaduk cabe merah dan hijau. 


Eh, Dheeja kamu kan ga makan sambel, kenapa bilang makan sambel?

Dia menjawab santai: Pura-puranya 


Oh rupanya yang dia pahami, dia itu sedang ngonten dan ga pa pa pura-pura. Kan cuma buat konten. 


Aku tertawa sampai terpingkal-pingkal. Tapi setelahnya aku menyadari sesuatu. Bocil ini mewakili generasinya. Hidup di dua dunia yaitu dunia nyata dan dunia konten. Pura-pura dinormalisasi untuk konten.


Tapi di usia sekecil itu, dunianya penuh imajinasi. Dia masih belum bisa membedakan dengan jelas dunia nyata dan dunia konten yang imajiner. 


Ini saya harus bangga karena sekecil itu dia sudah mampu membuat konten atau menangis karena dia mahir berpura - pura? 


Dalam kamus hidupku, jujur itu penting dan merupakan pondasi hidup seseorang. Berbagai masalah hidup sering di awali dengan ketidak jujuran. Hubungan yang gagal juga bermula dari ketidakjujuran. Hilangnya kepercayaan juga diawali dengan ketidakjujuran. Itu lah alasan mengapa jujur harus ditanamkan sejak dini.


Ini adalah kode keras. Di titik ini, sikapku jelas: menolak ketidakjujuran, apa pun alasannya, terlebih pada anak kecil.


Bukan karena mereka berniat buruk, tetapi karena mereka belum memiliki kesadaran penuh tentang mana yang benar dan mana yang salah.


Di usia itu, apa yang mereka lakukan hari ini bisa menjadi kebiasaan esok hari, lalu menjadi karakter di masa depan.


Anak kecil belum punya kemampuan memilah: ini sekadar konten, ini kenyataan. Yang mereka pahami sederhana—boleh atau tidak boleh. Jika hari ini pura-pura dibenarkan, besok bisa jadi mengada-ada terasa wajar.


Bukan salah anaknya, tapi pesan penting untuk orang dewasa agar menjaga batas itu tidak kabur.


Di sinilah peran orang tua dan orang dewasa menjadi sangat penting. Mendampingi, bukan sekadar memberi izin. Mengarahkan, bukan hanya tertawa lalu selesai. Dunia digital tidak bisa dihindari, tapi nilai hidup tetap harus ditanamkan.


Konten tidak harus lahir dari kepalsuan. Tidak perlu berpura-pura makan sambal untuk terlihat seru. Tidak harus mengada-ada demi dianggap menarik.


Menurutku, konten adalah cerita. Dan cerita terbaik justru lahir dari kejujuran. Dari hal-hal sederhana yang apa adanya.


Anak-anak tidak perlu dilatih menjadi luar biasa dengan mengorbankan kejujuran demi sebuah konten. Mereka perlu dibiasakan menjadi jujur— dan itu sudah luar biasa.


Aku percaya, kejujuran bukan bakat, tapi latihan. Dan latihan itu dimulai sejak dini. Sebelum anak-anak mengenal like, views, dan validasi, biarlah mereka terlebih dahulu mengenal nilai.


Karena ketika suatu hari mereka benar-benar paham dunia konten, mereka sudah memiliki kompas batin yang kuat: tahu kapan bercerita, dan tahu kapan harus jujur pada diri sendiri.


Itu jauh lebih penting daripada sekadar terlihat mantap di kamera.

Rabu, 24 Desember 2025

Kolaborasi: Cara Paling Waras Menjaga Sistem Tetap Hidup



Nasihat Pagi Ini

Sebetulnya nasihat ini ditujukan untuk para pebisnis. Tapi seperti banyak pelajaran hidup lainnya, rasanya ia tidak pernah benar-benar eksklusif. Ia bisa berlaku di mana saja, untuk siapa saja.

Ada tiga hal yang aku catat.

Pertama, dalam memilih supplier, jangan hanya terpaku pada harga murah. Karena harga murah sering kali menyimpan risiko di belakang hari. Awalnya memang terlihat menguntungkan, tapi jika kualitas buruk, pengiriman bermasalah, atau komitmen tidak terjaga, biaya yang harus dibayar justru bisa lebih mahal. Murah di depan, mahal di belakang.

Kedua, soal visibilitas. Pebisnis diminta untuk punya data. Tahu persis apa yang dimiliki, apa yang dijual, apa yang bergerak, dan apa yang macet. Tanpa data, keputusan hanya akan berdasar perkiraan. Dan terlalu sering, perkiraan membawa kita ke arah yang keliru.

Ketiga, dan ini yang paling menarik perhatianku: menyerahkan semua urusan pada satu orang.

Aku bukan pebisnis. Tapi nasihat ketiga ini terasa sangat mengena. Bahkan menurutku, ia berlaku di hampir semua sistem kehidupan—organisasi, lembaga, komunitas, bahkan keluarga.

Menggantungkan sebuah sistem hanya pada satu orang itu, jujur saja, konyol. Bukan karena orang itu tidak hebat. Justru sering kali karena dia terlalu hebat. Terlalu bisa. Terlalu diandalkan.

Padahal manusia bukan mesin. Manusia punya batas. Bisa lelah, bisa sakit, bisa punya urusan lain. Ketika semua pengetahuan, kendali, dan keputusan hanya ada di satu kepala, maka sistem itu sesungguhnya sedang berdiri di atas kaki yang rapuh.

Dalam sebuah organisasi, mengandalkan satu “manusia super” ibarat menggenggam bom. Kelihatannya aman, tapi sewaktu-waktu bisa meledak dan melumpuhkan semuanya. Bayangkan jika suatu hari orang ini sakit atau berhalangan, sementara yang lain tidak paham alur kerja, tidak tahu harus berbuat apa, dan tidak bisa menggantikan. Yang terjadi bukan sekadar keterlambatan, tapi kelumpuhan.

Dari sini aku belajar satu hal penting: kolaborasi bukan sekadar konsep, tapi sikap hidup. Setiap orang, siapa pun dia, di posisi apa pun, dan di mana pun berada, punya tanggung jawab untuk ikut menjaga sistem agar tetap hidup dan berjalan.

Berada dalam sebuah sistem seharusnya membuat kita bertanya pada diri sendiri: aku sedang membangun atau justru meruntuhkan? Apakah kehadiranku memudahkan, atau malah menyulitkan? Apakah aku mau belajar, berbagi, dan saling menguatkan, atau justru merasa paling benar sendiri?

Sistem yang sehat tidak lahir dari satu orang yang bekerja paling keras, tapi dari banyak orang yang mau saling mensupport. Yang mau belajar satu sama lain. Yang sadar bahwa perannya mungkin kecil, tapi tetap penting. Karena ketika setiap orang mau mengambil bagian—sekecil apa pun itu—sistem menjadi lebih kuat, lebih lentur, dan lebih tahan terhadap guncangan.

Akhirnya aku sampai pada kesimpulan sederhana:
di mana pun kita berada, apa pun jabatan kita, tugas kita sama—menjadi bagian yang menguatkan, bukan yang melemahkan. Mendukung sistem, bukan menjadi beban di dalamnya. Karena sistem yang baik hanya akan bertahan jika orang-orang di dalamnya saling menopang, bukan saling menggantungkan.


 

Paling sering dilihat

Nah Kan! Ternyata Aku Salah Menilai Tubuhku

Salah satu masalah yang aku hadapi sebagai seorang penderita diabetes adalah  mengatasi rasa lapar.   Mungkin karena kebiasaan m...